Dian menambahkan, “Dari sisi pasar, industri telekomunikasi masih prospektif karena konektivitas dan internet saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat.”

Segmen B2B Infrastructure menunjukkan kinerja positif dengan pendapatan Rp2,4 triliun atau tumbuh 6,8% YoY. Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT) yang berkelanjutan.
Mitratel membukukan pendapatan Rp2,3 triliun atau tumbuh 1,4% YoY dengan EBITDA margin stabil di 82,7%. Sepanjang kuartal pertama, Mitratel melakukan ekspansi 1.080 km fiber optic sehingga total kepemilikan mencapai 58.279 km.
Pada bisnis data center, NeutraDC Group dan NeuCentrIX mencatatkan pendapatan dari fasilitas colocation. Permintaan data center terus meningkat seiring berkembangnya aktivitas pelaku industri digital.
Unit Wholesale & International Service mencatat pendapatan Rp2,8 triliun dengan pertumbuhan layanan interkoneksi 18,9% QoQ. Sementara segmen B2B ICT mencatat pendapatan Rp3,1 triliun di tengah proses restrukturisasi.
Realisasi belanja modal mencapai Rp4,9 triliun atau 13,2% dari pendapatan, dengan 99% dialokasikan untuk infrastruktur di segmen inti. Efisiensi operasional terus diciptakan melalui inisiatif streamlining dan penataan portofolio bisnis.
Salah satu progress streamlining adalah divestasi AdMedika Group kepada investor strategis yang ditargetkan selesai pada akhir semester pertama 2026. Divestasi ini diharapkan membuka peluang pertumbuhan dan inovasi bagi AdMedika Group.
Telkom juga berada dalam fase persiapan pemisahan bisnis fiber connectivity tahap kedua kepada InfraNexia yang ditargetkan rampung pada kuartal ketiga tahun ini. Kontribusi bisnis fiber saat ini masih di kisaran 15% dan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 25%.
“Tahun 2026 menjadi periode yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi TelkomGroup. Karena itu, kami akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi,” tutup Dian.
Telkom juga terus memperkuat bisnis B2B ICT dan International guna menangkap potensi kebutuhan industri di tengah adopsi teknologi berbasis AI. Ke depan, langkah ini diharapkan menciptakan komposisi pendapatan segmen B2C dan B2B yang lebih seimbang.