Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Reputasi Korporasi di Era AI: Media Jadi Fondasi Jawaban Mesin Kecerdasan Buatan
SHARE:

Jakarta – Era Artificial Intelligence (AI) mengubah cara publik mencari informasi secara fundamental. Jika dulu orang membaca artikel satu per satu di mesin pencari, kini audiens lebih sering bertanya langsung kepada AI seperti ChatGPT, Gemini, hingga Claude.

Perubahan perilaku itu membuat posisi media justru semakin penting. Sebab, AI tidak menciptakan informasi sendiri, melainkan mengambil referensi dari berita dan artikel yang diproduksi media profesional.

Fenomena tersebut menjadi pembahasan utama dalam diskusi “Managing Communication in the AI Era: Strengthening Media’s Role as a Strategic Partners for Brand/Corporate”. Acara ini digelar Asosiasi Media Teknologi Indonesia (AMATI) di Jakarta, Kamis (22/5/2026).

Diskusi menghadirkan praktisi komunikasi, pimpinan redaksi media teknologi, hingga pelaku industri digital. Topik utamanya membahas bagaimana AI memengaruhi reputasi korporasi dan masa depan media profesional.

Pemimpin Redaksi Telset, Hamzah, memaparkan hasil riset AMATI terkait perubahan pola konsumsi informasi. Salah satu temuan pentingnya adalah meningkatnya fenomena “AI Presence”, ketika publik mulai mengandalkan AI untuk mendapatkan jawaban instan.

Namun, AI ternyata tidak memiliki opini sendiri. Semua jawaban yang muncul berasal dari data yang sebelumnya dipublikasikan media terpercaya.

“Liputan media hari ini akan menjadi jawaban AI di hari esok,” ujar Hamzah dalam presentasinya.

AMATI juga memaparkan studi kasus menarik mengenai narasi AI di industri smartphone. Dalam riset tersebut, Samsung disebut mendominasi 64 persen pemberitaan terkait AI di media Indonesia.

Dominasi eksposur media itu kemudian memengaruhi jawaban platform AI. Saat ditanya mengenai smartphone AI terbaik, beberapa mesin AI besar sama-sama merekomendasikan lini Samsung Galaxy AI.

Temuan itu menunjukkan satu hal penting. Narasi yang dibangun media hari ini berpotensi menjadi referensi utama AI di masa depan.

Founding Board Member Strategic Asia Marketing Alliance Indonesia (SAMA), Bambang Moegono, menyebut situasi ini sebagai era konvergensi. Menurutnya, reputasi perusahaan kini bisa terganggu dari berbagai arah, termasuk media sosial.

Ia menilai pola komunikasi modern tidak lagi berjalan linear. Satu unggahan viral saja dapat berkembang menjadi ancaman serius bagi reputasi brand.

Bambang juga menyoroti kerancuan definisi Key Opinion Leader (KOL) di industri digital. Banyak pihak, menurutnya, menyamakan KOL dengan akun buzzer berbayar.

Padahal, KOL sejatinya adalah sosok yang memiliki keahlian dan kredibilitas di bidang tertentu. Faktor expertise menjadi pembeda utama antara KOL dan buzzer.

“Yang disebut KOL itu expert dan punya reputasi,” kata Bambang.

Dalam sesi diskusi, moderator sekaligus Pemimpin Redaksi Selular, Uday Rayana, menegaskan bahwa reputasi korporasi tetap dibangun media. Influencer dinilai lebih kuat dalam mendorong penjualan produk, bukan membangun trust jangka panjang.

Menurut Uday, perusahaan yang menghadapi krisis membutuhkan validasi jurnalistik. Kepercayaan publik tidak bisa dibangun hanya lewat konten media sosial.

“Reputasi itu di-build oleh media, bukan influencer,” tegasnya.

Pandangan itu diamini Bambang. Ia menyebut media memiliki posisi kuat karena bekerja melalui proses verifikasi fakta dan independensi editorial.

Hal tersebut berbeda dengan akun buzzer atau influencer berbayar. Dalam situasi krisis, publik lebih percaya pada informasi yang dipublikasikan media profesional.

Di era AI, posisi media justru menjadi semakin strategis. Mesin AI membutuhkan sumber terpercaya agar hasil jawabannya tetap akurat dan kredibel.

Karena alasan itulah AI akan terus bergantung pada karya jurnalistik. Media kini bukan hanya penyampai informasi kepada manusia, tetapi juga pemasok data utama bagi mesin AI.

Diskusi AMATI menghasilkan satu kesimpulan penting. AI bukan ancaman bagi media, melainkan peluang untuk memperkuat relevansi jurnalisme profesional.

Media kini memegang dua peran sekaligus. Pertama sebagai sumber pengetahuan AI, kedua sebagai benteng reputasi perusahaan di tengah kebisingan media sosial.

Menutup diskusi, Bambang meminta media tidak takut menghadapi era AI. Menurutnya, AI justru dapat dimanfaatkan untuk memahami perilaku audiens dan memperkuat distribusi konten digital.

SHARE:

Tips Antisipasi Penyalahgunaan Data Mobile Banking

BCA Bantah Kebocoran Data Nasabah, Pastikan Sistem Tetap Aman