Jakarta — Ekosistem digital generasi muda Indonesia kembali menunjukkan geliatnya lewat gelaran Korea Kaja! Vol.3 "Dance of Dreams" yang diselenggarakan by.U, brand telco serba digital dari Telkomsel. Program yang memadukan aktivitas offline dan digital ini berhasil mencatat sekitar 2.000 video submission Random Play Dance (RPD) sepanjang penyelenggaraannya.
Angka tersebut menandai peningkatan sekitar 38 persen dibandingkan Korea Kaja! Vol.2 yang hanya mencatat lebih dari 1.450 submission. Pertumbuhan ini menjadi indikator kuat bahwa pendekatan digital dalam aktivitas berbasis komunitas semakin diminati anak muda Indonesia.
Tak hanya dari sisi partisipasi, jangkauan digital program ini juga terbilang besar. Rangkaian Korea Kaja! Vol.3 yang digelar di lima kota mencatat lebih dari 60.000 penonton online, sementara sekitar 10.000 orang menyaksikan langsung berbagai kegiatan roadshow di lokasi.
Lima kota yang menjadi lokasi roadshow meliputi Jakarta, Pontianak, Palembang, Solo, dan Bandung. Program ini juga mendapat dukungan dari lebih dari 20 mitra komunitas yang tersebar di berbagai daerah, memperkuat penetrasi program hingga ke luar Pulau Jawa.
Data tersebut memperlihatkan satu hal menarik: aktivitas yang berangkat dari komunitas dan passion tetap memiliki daya tarik kuat ketika dikemas dengan pendekatan digital. Fenomena ini sejalan dengan tren penguatan ekosistem digital Indonesia yang semakin masif.
Dari Video Submission ke PanggungKorea Kaja! Vol.3 berlangsung sejak 1 Mei hingga 30 September 2026. Salah satu jalur utama program ini adalah kompetisi Random Play Dance yang memberikan kesempatan bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan menari mereka di hadapan juri dan audiens.
Berbeda dengan kompetisi yang hanya berlangsung di satu lokasi, rangkaian RPD Korea Kaja! menyebar ke lima kota. Dari sana, 10 peserta terpilih sebagai pemenang roadshow dan dua lainnya mendapatkan comeback chance untuk kembali bersaing di babak Grand Final.
Bagi by.U, pola tersebut menjadi cara untuk membawa kesempatan lebih dekat dengan anak muda di berbagai daerah. Strategi ini memungkinkan talenta dari luar Jakarta mendapatkan akses yang setara untuk menunjukkan kemampuan mereka di panggung nasional.
Baca Juga:
Head of by.U Product Marketing Telkomsel, Herman A. Prasetyo, mengungkapkan bahwa banyak anak muda memiliki passion besar terhadap K-Pop dan dance, tetapi belum semuanya memiliki ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka secara optimal.
"Korea Kaja! kami hadirkan sebagai platform untuk berpartisipasi, mendapatkan pengalaman baru, dan membuka peluang nyata," ujar Herman dalam keterangan resminya. Ia menambahkan bahwa meningkatnya antusiasme tahun ini memperkuat komitmen by.U untuk membawa kesempatan tersebut lebih dekat kepada talenta dari berbagai daerah.
Ketika Telco Masuk ke Wilayah PassionAda perubahan menarik dalam cara brand telekomunikasi berinteraksi dengan konsumen muda saat ini. Konektivitas tidak lagi berdiri sendiri sebagai produk, tetapi menjadi bagian dari aktivitas digital yang dilakukan penggunanya sehari-hari.
Dalam Korea Kaja!, ekosistem program tidak berhenti pada kompetisi dance. by.U juga menyediakan jalur partisipasi melalui pembelian Paket K-Popers Modal Kuota dan penukaran uCoin di aplikasi by.U. Kedua jalur tersebut masih terbuka hingga 30 September 2026.
Artinya, aplikasi dan layanan digital menjadi salah satu pintu masuk bagi pengguna untuk mengikuti aktivitas yang berkaitan dengan passion mereka. Pendekatan ini juga memperlihatkan bagaimana model bisnis digital dapat terhubung dengan kebutuhan emosional pengguna.
Pengguna tidak hanya berinteraksi dengan produk, tetapi juga dengan konten, komunitas, dan aktivitas yang relevan dengan keseharian mereka. Strategi ini menjadi pembeda di tengah kompetisi layanan telekomunikasi yang semakin ketat.
Dari Daerah ke Audiens yang Lebih LuasSalah satu aspek yang cukup menarik dari Korea Kaja! Vol.3 adalah penyebaran roadshow ke luar Jakarta. Pontianak, Palembang, Solo, dan Bandung menjadi bagian dari perjalanan program yang sebelumnya lebih terpusat di ibu kota.
Dari kota-kota tersebut, para peserta mendapatkan kesempatan yang sama untuk tampil dan kemudian bersaing di tingkat nasional. Hal ini membuka peluang bagi talenta daerah untuk dikenal oleh audiens yang lebih luas melalui platform digital.
Kehadiran lebih dari 20 mitra komunitas juga memperlihatkan bahwa ekosistem tersebut tidak dibangun sendirian. Komunitas menjadi penghubung antara program dan audiens yang memiliki ketertarikan terhadap K-Pop serta dance, sekaligus memperkuat jaringan infrastruktur digital yang inklusif.
Pada akhirnya, angka 2.000 submission dan lebih dari 60.000 penonton online bukan hanya menunjukkan popularitas sebuah kompetisi. Di baliknya terdapat gambaran mengenai bagaimana internet dan komunitas digital membuka ruang baru bagi anak muda untuk menemukan audiens mereka.
Bagi talenta muda, sebuah video yang awalnya hanya diunggah atau dikirim sebagai submission bisa menjadi langkah menuju panggung yang lebih besar. Fenomena ini sekaligus menegaskan bahwa era digital telah mengubah cara anak muda Indonesia berkarya dan dikenal.