Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Kontroversi OpenAI Klaim Pecahkan Persamaan Navier-Stokes
SHARE:

Jakarta — OpenAI kembali menjadi sorotan setelah mengklaim berhasil memecahkan persamaan Navier-Stokes, salah satu masalah matematika paling rumit yang masuk daftar Clay Millennium Prize. Klaim ini langsung memicu kontroversi di kalangan akademisi karena melibatkan tuduhan penggunaan data penelitian pihak lain secara tidak etis.

Persamaan Navier-Stokes sendiri merupakan fondasi dalam mekanika fluida yang telah menjadi teka-teki selama lebih dari satu abad. Pemecahan masalah ini berpotensi membawa dampak besar pada berbagai bidang, mulai dari aerodinamika hingga prakiraan cuaca.

Menurut laporan yang dirangkum, OpenAI mulai melatih model AI baru dengan kemampuan matematika canggih pada 28 Agustus. Keputusan ini diambil setelah perusahaan membaca rumor bahwa Anthropic tengah membuat kemajuan signifikan dalam memecahkan persamaan tersebut.

Sebastien Bubeck, matematikawan sekaligus peneliti AI di OpenAI, mengungkapkan bahwa perusahaan mengerahkan lebih dari 1.000 agen AI untuk menangani masalah ini. Jumlah tersebut kemudian meningkat hingga 10.000 agen sebelum akhirnya ditemukan solusi yang dianggap valid.

"Saya pikir pasti ada kesalahan di suatu tempat. Dan pada Minggu pagi kami mendapatkan solusi final, sudah ter-formalisasi dengan Lean dan semuanya," ujar Bubeck dalam konferensi pers, merujuk pada bahasa pemrograman yang digunakan untuk memformalkan bukti matematika.

OpenAI mengakui bahwa pemecahan masalah ini membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih besar dibandingkan tugas matematika sebelumnya. Mark Chen, kepala riset OpenAI, menyebutkan bahwa biaya yang dikeluarkan mencapai jutaan dolar Amerika Serikat.

Kontroversi bermula ketika Tristan Buckmaster, matematikawan dari NYU, dan Levent Alpöge, peneliti di Anthropic, mempublikasikan dokumen yang mengklaim kemajuan penting di area yang relevan dengan masalah Navier-Stokes. Keduanya mengaku menggunakan beberapa model AI, termasuk Claude dan Codex.

Buckmaster menuduh OpenAI mengetahui pekerjaan mereka dan mulai mengerahkan sumber daya besar-besaran untuk masalah yang sama. Ia mengklaim sempat bertanya kepada pimpinan OpenAI apakah perusahaan mengakses log Codex milik mereka.

Dalam pernyataannya, Buckmaster mengatakan bahwa OpenAI menawarkan beberapa "proposal", termasuk satu di mana ia bisa menerbitkan makalah yang mengumumkan masalah Navier-Stokes telah dipecahkan oleh model internal OpenAI tanpa mencantumkan nama Alpöge. Tuduhan ini langsung dibantah oleh Bubeck melalui media sosial.

Sam Altman, CEO OpenAI, ikut angkat bicara untuk membela timnya di tengah pertikaian ini. Sementara itu, Buckmaster, Alpöge, dan Anthropic belum memberikan tanggapan resmi saat dimintai konfirmasi.

Bubeck dengan tegas membantah bahwa perusahaan pernah memeriksa prompt Codex milik Buckmaster dan Alpöge untuk mendukung pekerjaan mereka. "Kami, baik peneliti maupun agen, tidak melihat pekerjaan mereka sampai dirilis publik tadi malam," tegasnya.

Meski demikian, OpenAI mengakui dalam blog post bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan data yang tidak teridentifikasi dari penggunaan produk mereka berkontribusi pada peningkatan model. Pengakuan ini semakin memperkeruh suasana.

Ven Chandrasekaran, matematikawan di OpenAI, menekankan bahwa solusi yang dihasilkan timnya berbeda secara signifikan dari solusi yang diproduksi model AI milik perusahaan. Pernyataan ini dimaksudkan untuk memperjelas posisi masing-masing pihak.

Perseteruan mengenai siapa yang berhak mendapatkan kredit atas pemecahan salah satu masalah terbesar dalam matematika ini diperkirakan akan berlangsung lama. Perkembangan ini juga menimbulkan pertanyaan baru tentang etika dalam penggunaan AI untuk riset ilmiah, terutama terkait dengan dukungan teknologi AI yang semakin masif.

Ketika AI mengambil peran lebih besar dalam proses penemuan bukti matematika, konflik serupa berpotensi semakin sering terjadi di masa depan. Kolaborasi antara manusia dan mesin dalam riset akademis membutuhkan kerangka etika yang lebih jelas untuk menghindari sengketa hak cipta dan pengakuan intelektual.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi AI tidak hanya membawa peluang besar, tetapi juga tantangan baru dalam dunia akademis. Kejelasan aturan main dan transparansi proses menjadi kunci untuk menjaga integritas riset ilmiah di era kecerdasan buatan.

SHARE:

Pemerintah Negara Ini Akan Paksa Apple dan Google Lindungi Anak dari Konten Porno

Telkomsel Halo Optima: Ariel Noah Jadi Brand Ambassador