Dunia korporasi sering kali menyajikan ironi yang sulit dicerna oleh akal sehat, terutama ketika laporan keuangan yang berkilau justru bersanding dengan kabar pemutusan hubungan kerja (PHK). General Motors (GM), raksasa otomotif yang berbasis di Detroit, baru-baru ini mengumumkan keputusan mengejutkan untuk memangkas sekitar 500 pekerjaan di pabrik perakitan Oshawa, Ontario. Langkah ini diambil justru pada minggu yang sama ketika perusahaan melaporkan laba sebelum pajak yang fantastis, mencapai lebih dari US$12 miliar untuk tahun 2025. Sebuah kontradiksi yang tentu memancing tanda tanya besar di benak Anda: apa yang sebenarnya terjadi di balik layar manajemen GM?
Keputusan ini secara resmi akan berlaku mulai 2 Februari, di mana operasional pabrik akan kembali ke sistem dua shift. Namun, dampak dari kebijakan ini tidak hanya berhenti di pintu gerbang pabrik Oshawa. Unifor, serikat pekerja sektor swasta terbesar di Kanada, memperkirakan adanya efek domino yang jauh lebih luas. Mereka mengestimasi hingga 1.200 pekerja di seluruh rantai pasokan otomotif yang lebih luas juga akan terdampak oleh pemangkasan produksi ini. Situasi ini menciptakan ketidakpastian mendalam bagi ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada industri manufaktur kendaraan, di tengah klaim perusahaan yang menyebut langkah ini sebagai penyesuaian pasca-pandemi.
Namun, di balik alasan teknis operasional yang disodorkan manajemen, menyeruak aroma politik dagang yang kental. Isu proteksionisme Amerika Serikat di bawah bayang-bayang ancaman tarif dari Presiden Donald Trump disebut-sebut menjadi faktor pendorong utama, meskipun hal ini dibantah keras oleh pihak GM. Apakah ini murni strategi bisnis untuk efisiensi, atau sebuah bentuk "penyerahan diri" terhadap tekanan geopolitik? Mari kita bedah lebih dalam dinamika yang sedang terjadi di industri otomotif Amerika Utara ini.
Narasi "Sementara" yang DipertanyakanJuru bicara GM, Jennifer Wright, menegaskan kepada Reuters bahwa fasilitas Oshawa akan tetap memproduksi truk pikap bermesin pembakaran internal (ICE) generasi berikutnya. Produksi ini bahkan didukung oleh investasi segar sebesar CA$280 juta (sekitar US$207 juta). Dalam rilis pers resminya, produsen mobil tersebut mengarakterisasi penghapusan shift ketiga sebagai pengakhiran dari "tindakan sementara". Menurut mereka, penambahan shift sebelumnya hanya ditujukan untuk memenuhi lonjakan permintaan truk pikap pasca-pandemi dan untuk mengisi kembali inventaris yang sempat menipis.
Bagi Anda yang mengamati pola industri, alasan "mengisi inventaris" mungkin terdengar masuk akal secara logistik. Namun, fakta di lapangan menunjukkan anomali. Meskipun GM menyebut shift ketiga sebagai langkah sementara untuk memenuhi permintaan yang melonjak, produksi tersebut nyatanya tidak benar-benar dihentikan, melainkan dipindahkan. Produksi dialihkan ke fasilitas GM di Fort Wayne, Indiana, Amerika Serikat—sebuah pabrik yang memang sudah memproduksi truk ukuran penuh. Perpindahan lokasi produksi dari Kanada ke Amerika Serikat inilah yang memicu kecurigaan bahwa keputusan tersebut bukan sekadar masalah inventaris, melainkan strategi geopolitik.
Dalam konteks persaingan global, lokasi pabrik menjadi sangat krusial. Hal ini mengingatkan kita pada bagaimana Pabrik Mobil Listrik milik Tesla yang sangat selektif memilih lokasi demi efisiensi dan insentif, sebuah pola yang tampaknya juga sedang dimainkan oleh GM namun dengan nuansa tekanan politik yang lebih kental.
Tudingan Menyerah pada Tekanan TrumpBantahan GM mengenai keterkaitan keputusan ini dengan kebijakan perdagangan AS sangat tegas. Wright menyangkal adanya hubungan dengan tarif AS—maupun ancaman terus-menerus dari Presiden Donald Trump terhadap Kanada. Ia juga menepis kaitan dengan kebijakan Kanada yang baru-baru ini mengizinkan impor 49.000 kendaraan listrik (EV) buatan China dengan tarif 6,1%. Namun, serikat pekerja memiliki pandangan yang jauh berbeda dan jauh lebih tajam.
Presiden Nasional Unifor, Lana Payne, melontarkan kritik pedas terhadap produsen mobil tersebut. Ia menilai GM telah membuat keputusan yang jelas untuk "tunduk" kepada Donald Trump daripada membela tenaga kerja setianya di Kanada. Menurut Payne, para pekerja di Oshawa dipaksa membayar harga dari sikap "perdamaian" GM terhadap AS dengan pekerjaan mereka. "Adalah keliru bagi General Motors untuk berpikir bahwa mereka dapat terus mengecilkan jejak produksi mereka di Kanada namun tetap menjadi penjual kendaraan nomor satu di pasar Kanada," tegasnya.
Pernyataan Payne menyoroti ketidakpekaan perusahaan terhadap suasana kebatinan warga dan pekerja Kanada. Unifor bahkan sempat mengajukan proposal kepada GM untuk mempertahankan shift ketiga setidaknya hingga negosiasi kontrak musim gugur 2026, namun proposal tersebut ditolak mentah-mentah oleh perusahaan. Ketegangan ini mencerminkan betapa rapuhnya posisi tawar pekerja di hadapan raksasa korporasi yang terjepit kepentingan politik antarnegara.
Baca Juga:
Salah satu aspek yang paling menyakitkan bagi para pekerja yang terdampak adalah kondisi kesehatan finansial GM yang sebenarnya sangat prima. Pengumuman PHK ini datang pada minggu yang sama ketika GM melaporkan pendapatan sebelum pajak lebih dari US$12 miliar untuk tahun 2025. Tidak hanya itu, perusahaan juga mengumumkan rencana untuk meningkatkan pengembalian kepada pemegang saham melalui kenaikan dividen dan program pembelian kembali saham (buyback) senilai US$6 miliar.
Data ini menciptakan kontras yang tajam: perusahaan memiliki dana tunai yang melimpah untuk memanjakan investor, namun memilih untuk melakukan efisiensi pada level buruh pabrik. Meskipun perlu dicatat bahwa GM Kanada telah menginvestasikan lebih dari CA$2,6 miliar dalam manufaktur Kanada selama lima tahun terakhir, langkah terbaru ini seolah mencederai komitmen tersebut. Bagi para pengamat industri, ini adalah bukti bahwa Kebutuhan Industri modern sering kali lebih memprioritaskan angka di pasar saham dibandingkan stabilitas tenaga kerja.
Dampak Domino dan Reaksi PemerintahBagi karyawan hourly yang memiliki senioritas dan terdampak oleh penyesuaian produksi ini, GM menjanjikan Tunjangan Pengangguran Tambahan yang dibayarkan perusahaan. Jika digabungkan dengan Asuransi Ketenagakerjaan, jumlahnya akan setara dengan 70% dari pendapatan mingguan reguler, beserta kelanjutan cakupan layanan kesehatan. Meskipun terdengar sebagai jaring pengaman yang layak, hal ini tidak menggantikan kepastian karier jangka panjang.
Perdana Menteri Ontario, Doug Ford, yang sebelumnya berdiri bersama GM dalam menyerukan boikot terhadap impor EV China, menyebut keputusan ini "sangat mengecewakan". Ford berjanji akan memberikan dukungan provinsi bagi pekerja yang terdampak untuk beralih ke sektor pertahanan, ilmu hayati, dan sektor lainnya. Ironisnya, isu impor kendaraan China yang sempat ditentang bersama kini menjadi latar belakang yang rumit, mengingatkan kita pada kasus Mobil Listrik Ilegal di negara lain yang juga memicu perdebatan regulasi.
Pengurangan di Oshawa ini menandai pukulan terbaru bagi sektor otomotif Ontario. Pabrik Perakitan CAMI milik GM di Ingersoll dan fasilitas Brampton milik Stellantis saat ini keduanya tidak beroperasi (idled) tanpa alokasi produk yang dikonfirmasi. Ditambah lagi, pada bulan Oktober lalu, GM mengumumkan pembatalan produksi van listrik BrightDrop—yang diproduksi di Kanada—dengan alasan lambatnya pengembangan pasar van kendaraan listrik komersial.
Rangkaian peristiwa ini memperkuat tuntutan Unifor agar pemerintah federal mengadopsi kebijakan otomotif dengan kerangka kerja "jual di sini, bangun di sini" bagi produsen yang beroperasi di pasar Kanada. Tanpa kebijakan proteksi yang kuat, tampaknya industri manufaktur Kanada akan terus berada dalam posisi rentan, terombang-ambing oleh keputusan korporasi yang lebih mementingkan efisiensi global dan respons terhadap tekanan politik negara tetangga.