Janji manis teknologi otonom untuk menciptakan jalan raya yang bebas kecelakaan kembali menghadapi ujian berat realitas. Di tengah gembar-gembor revolusi transportasi, sebuah insiden di Santa Monica, California, pada 23 Januari 2026, menyentak kesadaran publik tentang seberapa siap sebenarnya kecerdasan buatan (AI) berinteraksi dengan elemen paling tidak terduga di jalan raya: anak-anak. Waymo, anak perusahaan Alphabet yang selama ini digadang-gadang sebagai pemimpin pasar robotaxi, kini harus berhadapan dengan sorotan tajam regulator federal setelah salah satu armadanya terlibat kontak fisik dengan seorang siswa sekolah dasar.
Insiden ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan sebuah studi kasus yang kompleks mengenai interaksi antara mesin canggih dan perilaku manusia yang impulsif. Peristiwa tersebut terjadi pada jam sibuk pengantaran sekolah, sebuah periode waktu yang dikenal penuh dengan variabel kacau: kendaraan yang parkir ganda, petugas penyeberangan yang sibuk, dan anak-anak yang bergerak dinamis. Ketika teknologi yang diprogram dengan logika kaku bertemu dengan spontanitas lingkungan sekolah, gesekan tampaknya tak terhindarkan. Hal ini memicu pertanyaan mendasar bagi Anda yang mengikuti perkembangan teknologi: apakah kita terlalu terburu-buru menyerahkan kendali kemudi?
Kasus ini segera memicu respons berantai dari Washington. National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) tidak membuang waktu untuk membuka penyelidikan resmi. Langkah ini menandakan bahwa regulator mulai kehilangan kesabaran terhadap klaim sepihak perusahaan teknologi mengenai keselamatan. Tekanan ini semakin berat mengingat ini bukan kali pertama Waymo bermasalah di zona sekolah. Dengan rekam jejak insiden sebelumnya di Texas dan Georgia, narasi keselamatan yang dibangun Waymo kini berada di ujung tanduk, memaksa kita menelaah lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di balik sensor canggih tersebut.
Kronologi Detik-Detik Benturan di Santa MonicaUntuk memahami gravitasi situasi ini, kita perlu membedah detail kejadian yang berlangsung hanya dalam hitungan detik tersebut. Lokasi kejadian berada hanya dua blok dari sekolah dasar, area yang seharusnya menjadi zona kewaspadaan tinggi. Menurut laporan, kondisi jalan saat itu cukup semrawut dengan kehadiran petugas penyeberangan dan deretan kendaraan yang melakukan parkir ganda (double-parked)—sebuah pemandangan umum di pagi hari yang menuntut kewaspadaan ekstra.
Pihak Waymo telah merilis pernyataan resmi yang menggambarkan perspektif sistem mereka. Menurut perusahaan, anak tersebut "tiba-tiba memasuki jalan raya dari belakang sebuah SUV tinggi," yang secara efektif memblokir pandangan hingga detik terakhir. Narasi ini menyoroti tantangan klasik dalam keselamatan jalan raya: occlusion atau halangan pandangan. Waymo mengklaim bahwa sistem mereka "segera mendeteksi" pejalan kaki tersebut begitu muncul di jalur kendaraan.
Respons sistem otonom inilah yang menjadi pusat pembelaan Waymo. Robotaxi tersebut dilaporkan melakukan pengereman keras, menurunkan kecepatan secara drastis dari 17 mph (sekitar 27 km/jam) menjadi di bawah 6 mph (sekitar 9 km/jam) sebelum akhirnya terjadi kontak dengan anak tersebut. Penurunan kecepatan yang signifikan ini diklaim sebagai faktor kunci yang mencegah cedera serius. Pasca benturan, anak tersebut dilaporkan segera berdiri dan berjalan ke trotoar dengan cedera ringan, sementara kendaraan Waymo menepi untuk menunggu izin dari penegak hukum dan memanggil layanan darurat.
Pertarungan Data: Simulasi AI vs Refleks ManusiaDi sinilah perdebatan menjadi menarik dan sangat teknis. Waymo tidak hanya bertahan dengan meminta maaf; mereka menyerang balik dengan data. Perusahaan tersebut secara sukarela menghubungi NHTSA pada hari yang sama dan menyajikan hasil model simulasi mereka. Argumen utamanya adalah perbandingan "kontrafaktual": apa yang akan terjadi jika manusia yang mengemudi?
Berdasarkan simulasi Waymo, seorang pengemudi manusia yang "sepenuhnya penuh perhatian" diprediksi akan menabrak pejalan kaki tersebut pada kecepatan sekitar 14 mph (22 km/jam)—jauh lebih cepat dibandingkan kecepatan benturan robotaxi yang berada di bawah 6 mph. Ini adalah klaim yang berani. Waymo berusaha membuktikan bahwa meskipun kecelakaan terjadi, teknologi mereka berhasil memitigasi dampaknya jauh lebih baik daripada refleks biologis manusia. Ini mengingatkan kita pada isu transparansi data di industri teknologi, mirip dengan kasus di mana Riset Efek Buruk sering kali menjadi perdebatan antara perusahaan dan publik.
Namun, NHTSA tampaknya tidak akan menelan mentah-mentah klaim simulasi tersebut. Badan keselamatan jalan raya tersebut menyatakan akan menentukan apakah Waymo telah "menjalankan kehati-hatian yang sesuai." Fokus penyelidikan bukan hanya pada momen pengereman, tetapi pada konteks yang lebih luas: kedekatan dengan sekolah dasar saat jam pengantaran, serta kehadiran pejalan kaki muda dan pengguna jalan rentan lainnya. NHTSA menyoroti bahwa keberadaan anak-anak lain, petugas penyeberangan, dan kendaraan parkir ganda seharusnya menjadi "isyarat" bagi pengemudi—baik manusia maupun mesin—untuk menjalankan kehati-hatian khusus sejak awal, bukan hanya bereaksi saat bahaya muncul.
Baca Juga:
Insiden Santa Monica ini tidak berdiri sendiri. Ia menambah daftar panjang "dosa" operasional Waymo terkait zona sekolah. Kantor Investigasi Cacat (Office of Defects Investigation) NHTSA kini berencana memeriksa perilaku yang dimaksudkan (intended behavior) dari sistem pengemudian otomatis Waymo di zona sekolah, termasuk kepatuhannya terhadap batas kecepatan yang berlaku.
Latar belakang dari ketidakpercayaan regulator ini berasal dari serangkaian laporan mengkhawatirkan di negara bagian lain. Sejak awal tahun ajaran sekolah, setidaknya 19 insiden telah dilaporkan terjadi di Austin, Texas, dan enam insiden tambahan di Atlanta, Georgia. Masalah utamanya? Robotaxi Waymo tertangkap basah secara ilegal melewati bus sekolah yang sedang berhenti. Dalam setidaknya satu kasus yang sangat berbahaya, sebuah Waymo melaju melewati siswa yang sedang aktif turun dari bus.
National Transportation Safety Board (NTSB) bahkan telah meluncurkan penyelidikan terpisah minggu lalu untuk mengusut insiden-insiden di Austin tersebut. Meskipun NTSB memiliki sedikit atau tanpa kekuasaan penegakan hukum langsung, rekomendasi mereka sering kali menjadi landasan kebijakan masa depan yang mengikat. Fakta bahwa dua badan federal utama (NHTSA dan NTSB) turun tangan menunjukkan tingkat keseriusan masalah ini. Ini bukan lagi soal "bug" perangkat lunak kecil, melainkan potensi Tindak Kejahatan kelalaian dalam protokol keselamatan publik.
Ketegangan dengan Otoritas Lokal dan SekolahHubungan Waymo dengan komunitas lokal, khususnya di Austin, semakin memanas. Distrik Sekolah Independen Austin (Austin Independent School District) telah mengambil sikap tegas dengan menuntut Waymo menghentikan operasinya selama jam naik-turun bus sekolah sampai masalah keselamatan dapat ditangani secara memadai. Ini adalah permintaan yang masuk akal dari perspektif orang tua dan pendidik yang mengutamakan nyawa siswa.
Namun, Waymo telah menolak tuntutan ini berulang kali. Perusahaan berdalih telah berusaha memperbaiki masalah tersebut melalui pembaruan over-the-air (OTA). Mereka merilis sebuah patch pada bulan November dan melakukan penarikan kembali perangkat lunak (voluntary software recall) secara penuh pada bulan berikutnya. Waymo mengklaim semua kendaraan yang terdampak telah menerima perbaikan sebelum penarikan resmi. Namun, realitas di lapangan berkata lain; distrik sekolah terus melaporkan masalah di minggu-minggu setelah klaim perbaikan tersebut.
Sikap defensif Waymo juga terlihat dari pernyataan Chief Safety Officer mereka, Mauricio Peña. Dalam wawancara dengan TechCrunch, Peña menegaskan bahwa tidak ada tabrakan aktual yang terjadi melibatkan bus sekolah dan menyatakan dirinya "yakin bahwa kinerja keselamatan kami di sekitar bus sekolah lebih unggul daripada pengemudi manusia." Pernyataan ini mungkin terdengar arogan bagi sebagian pihak, terutama ketika bukti visual pelanggaran terus bermunculan. Perusahaan teknologi besar sering kali merasa sebagai Vendor Software yang paling tahu solusi, namun dalam konteks keselamatan publik, data lapangan adalah raja.
Ironi Mode Manual: Ketika Manusia Mengambil AlihMenariknya, rentetan berita buruk bagi Waymo tidak berhenti pada algoritma otonomnya saja. Sebuah insiden terpisah yang terjadi pada 25 Januari di Los Angeles justru melibatkan faktor manusia. Dalam kejadian ini, sebuah kendaraan Waymo yang sedang dioperasikan dalam mode manual oleh seorang spesialis manusia melaju kencang melalui jalan perumahan satu arah di dekat Stadion Dodger.
Kendaraan tersebut menabrak beberapa mobil yang sedang parkir, termasuk satu mobil yang berisi penumpang. Meskipun tidak ada cedera yang dilaporkan, insiden ini menambah ironi dalam narasi keselamatan Waymo. Di satu sisi, mereka mengklaim AI lebih aman daripada manusia (seperti dalam kasus anak di Santa Monica), namun di sisi lain, staf manusia mereka sendiri gagal menunjukkan standar keselamatan yang diharapkan saat mengendalikan teknologi tersebut.
Kini, bola panas berada di tangan NHTSA. Investigasi mereka tidak hanya akan meninjau aspek teknis pengereman atau sensor, tetapi juga prosedur respons pasca-dampak perusahaan. Apakah protokol Waymo setelah kecelakaan sudah memadai? Apakah sistem mereka benar-benar "memahami" konteks zona sekolah, atau hanya bereaksi terhadap objek fisik? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan masa depan regulasi kendaraan otonom di Amerika Serikat dan mungkin menjadi standar global. Bagi kita, konsumen dan pengguna jalan, insiden ini adalah pengingat bahwa jalan menuju masa depan yang sepenuhnya otonom masih terjal, berliku, dan memerlukan pengawasan yang jauh lebih ketat daripada sekadar percaya pada klaim brosur pemasaran.