Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Ericsson: Indonesia Masih Butuh Spektrum Tambahan untuk 5G
SHARE:

Jakarta – Technologue.id – Ericsson menilai Indonesia masih membutuhkan alokasi spektrum frekuensi tambahan untuk mempercepat ekspansi jaringan 5G. Meskipun pemerintah telah meresmikan penggunaan pita 700 MHz dan 2,6 GHz, kebutuhan spektrum lanjutan dinilai krusial.

Pernyataan ini disampaikan oleh President Director Ericsson Indonesia Nora Wahby dalam wawancara eksklusif dengan Katadata.co.id. Ia menyebut langkah pemerintah merupakan awal yang baik, namun bukan akhir dari perjalanan pengembangan 5G di Tanah Air.

“Menurut saya ini merupakan langkah awal yang baik. Sesuatu memang harus dimulai dan ini merupakan titik awal yang tepat,” kata Nora. Ia menekankan pentingnya ketersediaan spektrum mid-band lainnya di masa depan.

Spektrum 700 MHz berperan memperluas jangkauan jaringan hingga ke wilayah terpencil. Sementara pita 2,6 GHz dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas di dalam ruangan dan mendukung layanan berkecepatan tinggi.

“Ini bukan langkah akhir. Ke depan, spektrum mid-band lainnya juga perlu tersedia agar kapasitas jaringan dapat terus berkembang,” ujar Nora. Hal ini penting untuk memenuhi kebutuhan layanan digital yang terus meningkat.

Implementasi 5G di Indonesia masih tertinggal dibandingkan beberapa negara Asia Tenggara seperti Singapura. Negara tersebut sudah memasuki fase baru 5G dengan jaringan standalone penuh.

Nora mengakui Indonesia baru memulai proses penyediaan spektrum. Ia optimistis Indonesia memiliki peluang besar menjadi kekuatan digital berkat sumber daya alam melimpah dan talenta digital yang besar.

“Betul, Indonesia membutuhkan spektrum untuk siap, baru kita bisa mulai proses monetisasi,” katanya. Menurutnya, investasi di sektor digital seperti pusat data juga terus meningkat.

Pemanfaatan spektrum baru memerlukan investasi besar dari operator telekomunikasi. Ericsson berkomitmen bekerja sama dengan pemerintah dan operator untuk memastikan pembangunan jaringan 5G berjalan optimal.

Perusahaan juga mendorong penyediaan spektrum lanjutan, termasuk pita 3,5 GHz. Kapasitas jaringan harus mampu mengikuti pertumbuhan layanan digital dan kecerdasan buatan (AI).

Kolaborasi dengan operator lokal seperti Indosat dinilai penting untuk memperkuat jaringan 5G dan AI di Indonesia. Sinergi ini diharapkan mempercepat adopsi teknologi terbaru.

Direktur Penataan Spektrum Kementerian Komdigi Adis Alifiawan mengungkapkan data terkini. Sebelum lelang, total spektrum mobile broadband mencapai 452 MHz, kini meningkat menjadi 712 MHz.

Setelah lelang, Telkomsel menguasai 265 MHz atau 37,2 persen dari total spektrum nasional. XLSmart memiliki 232 MHz (32,6 persen) dan Indosat 215 MHz (30,2 persen).

Meski meningkat signifikan, Adis menilai Indonesia masih kekurangan spektrum untuk era 6G. Berdasarkan laporan GSMA, setiap operator idealnya membutuhkan 200 MHz spektrum bersebelahan.

“Nggak sampai ke 200 MHz. Jadi kalau buat 6G, nggak sampai buat satu operator,” kata Adis. Ia mendorong pembukaan pita frekuensi baru di mid-band untuk menopang perkembangan AI.

Perkembangan AI diperkirakan meningkatkan kebutuhan kapasitas jaringan secara drastis. “Kalau kita ingin AI terus berkembang, kita butuh 6G,” ujar Adis.

Indonesia memiliki peluang besar untuk mengejar ketertinggalan 5G. Dukungan spektrum yang memadai menjadi kunci utama transformasi digital nasional.

SHARE:

AI dan 5G Harus Berjalan Bersamaan Menurut Ericsson

BBM Nonsubsidi Naik, Konsumsi Solar Subsidi Melonjak 5,92% di Semester I 2026