Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Data Center AI di Indonesia: Seberapa Aman Tinggal di Dekatnya?
SHARE:

Jakarta, Technologue.id — Ledakan pembangunan pusat data atau data center di berbagai negara mulai memunculkan pertanyaan baru bagi masyarakat. Salah satu yang paling sering dibahas adalah seberapa aman tinggal di dekat fasilitas yang beroperasi selama 24 jam penuh. Pertanyaan itu kini terasa semakin relevan di Indonesia seiring bertambahnya proyek pusat data berskala besar.

Isu tersebut semakin mendapat perhatian setelah proyek data center berbasis kecerdasan buatan milik BDx di Jatiluhur, Purwakarta, menjadi sorotan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bahkan melakukan inspeksi langsung ke lokasi. Tujuannya memastikan investasi tidak mengganggu kebutuhan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Data center sendiri bukan pabrik yang menghasilkan asap dari proses produksinya. Fasilitas ini pada dasarnya merupakan bangunan berisi server yang bekerja tanpa henti. Server tersebut menghasilkan panas sangat besar sehingga membutuhkan sistem pendingin, listrik, serta infrastruktur pendukung dalam skala besar.

Karena itu, pertanyaan mengenai keamanan data center tidak bisa dijawab hanya dengan melihat bangunan atau jaraknya dari rumah warga. Dampaknya sangat bergantung pada jenis pendingin, sistem pembangkit cadangan, lokasi genset, kebutuhan air, desain pencahayaan, hingga bagaimana proyek dibangun. Beberapa inovasi terkini bahkan mulai mengarah pada solusi pendinginan yang lebih efisien seperti Liquid Cooling.

Forbes dalam laporan mengenai keamanan tinggal di sekitar data center mencatat belum ada penelitian yang secara langsung menghubungkan sebuah data center dengan penyakit tertentu. Namun, sejumlah keluhan masyarakat mengenai kebisingan, polusi udara dari genset, cahaya malam, dan beban terhadap sumber daya lokal telah terdokumentasi. Artinya, istilah "aman" dalam konteks data center memiliki makna yang lebih luas.

Bukan hanya soal apakah warga akan sakit, tetapi juga apakah mereka bisa tidur dengan nyaman. Selain itu, apakah kebutuhan air tetap mencukupi, serta apakah biaya listrik dan kualitas lingkungan tetap terjaga. Sejumlah operator global pun mulai mencari sumber energi baru, seperti yang dilakukan Meta dan Energi Nuklir.

Salah satu keluhan paling umum warga yang tinggal dekat data center adalah kebisingan. Sistem pendingin membutuhkan kipas dan peralatan mekanis yang bekerja terus-menerus sehingga menghasilkan dengung rendah yang relatif stabil sepanjang hari. Masalahnya, suara tersebut tidak selalu cukup keras untuk melanggar aturan kebisingan.

Penelitian di Virginia, Amerika Serikat, mencatat banyak lokasi yang dikeluhkan warga memiliki tingkat suara sekitar 40 hingga 59 desibel. Angka itu masih di bawah sejumlah batas kebisingan kawasan permukiman. Namun, keluhan warga bukan hanya soal volume. Suara rendah dan konstan yang tidak pernah berhenti dapat terasa mengganggu, terutama pada malam hari ketika lingkungan sekitar jauh lebih sunyi dibandingkan pada siang hari.

Kajian yang dikutip Forbes menyebut gangguan tidur dan rasa terganggu sebagai efek jangka pendek yang secara ilmiah masuk akal dari kebisingan konstan. Risiko kardiovaskular juga pernah ditemukan dalam penelitian kebisingan lalu lintas dan industri. Namun, hal itu belum secara khusus dibuktikan pada warga sekitar data center. Perbedaan ini penting karena hingga kini bukti kesehatan langsung dari data center masih terbatas.

Banyak penelitian menggunakan temuan dari sumber kebisingan lain untuk memperkirakan potensi dampak. Mereka tidak mengukur kondisi warga di sekitar pusat data secara langsung. Dalam konteks Indonesia, persoalan kebisingan juga sudah masuk dalam perhatian pemerintah. Dedi Mulyadi meminta kajian Amdal proyek BDx di Purwakarta menjelaskan secara terbuka dampak seperti kebisingan dan penggunaan air kepada masyarakat.

Server di dalam data center tidak melakukan pembakaran, tetapi fasilitas ini biasanya memiliki sejumlah besar genset diesel sebagai sumber listrik cadangan. Genset digunakan ketika jaringan listrik mengalami gangguan atau saat dilakukan pengujian berkala. Diesel menghasilkan emisi yang mengandung berbagai polutan.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau EPA mengategorikan emisi diesel sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia. Sementara nitrogen dioksida juga dapat memperparah masalah saluran pernapasan seperti asma. Namun tingkat risiko sangat bergantung pada seberapa sering genset tersebut digunakan.

Di Virginia, genset data center tercatat hanya menghasilkan kurang dari 4 persen emisi nitrogen oksida yang berkontribusi terhadap smog. Banyak operator hanya mengalami satu atau dua gangguan singkat dalam dua tahun. Studi di Quincy, Washington, juga menemukan sumber utama jelaga diesel justru berasal dari jalan raya, kereta api, pertanian, dan aktivitas konstruksi.

Genset data center menghasilkan emisi jauh di bawah kapasitas maksimal yang sebenarnya diperbolehkan dalam izin mereka. Meski demikian, hasil simulasi menunjukkan kondisi dapat berubah jika genset digunakan dalam durasi panjang atau kapasitas penuh. Beberapa rumah yang dekat dengan fasilitas dapat menerima paparan seperti tinggal di sekitar jalan raya sibuk jika generator berjalan secara terus-menerus.

Selain kebisingan dan udara, kebutuhan air menjadi persoalan yang sangat relevan di Indonesia. Sebagian data center menggunakan sistem pendinginan berbasis evaporasi yang membutuhkan air dalam jumlah besar untuk membuang panas dari server. Air yang digunakan tidak semuanya kembali ke sistem. Sebagian berubah menjadi uap sehingga tidak langsung kembali ke sumber air yang sama seperti air rumah tangga.

Studi di wilayah Washington DC menemukan data center hanya mengambil sekitar satu persen air dari sungai melalui sistem publik. Namun jika dihitung berdasarkan air yang benar-benar tidak kembali, porsinya bisa meningkat hingga sekitar sembilan persen. Angka tersebut bahkan mencapai 12 persen pada musim panas. Konsumsi air juga dapat melonjak pada hari yang sangat panas.

Sebuah fasilitas bisa menggunakan air hingga sepuluh kali lebih banyak dibandingkan konsumsi rata-rata hariannya ketika kebutuhan pendinginan mencapai puncak. Konteks ini menjadi sangat penting dalam polemik proyek BDx di Jatiluhur. Pemerintah Jawa Barat memperkirakan kebutuhan air pada tahap pengembangan berikutnya bisa mencapai sekitar 384 liter per detik atau sekitar 33.000 meter kubik per hari.

Pada tahap awal, kebutuhan air diperkirakan sekitar 6.000 meter kubik. Air itu tidak diambil langsung oleh perusahaan dari waduk, tetapi dibeli melalui PDAM setelah dialirkan dari sistem Jatiluhur. Meski mekanismenya melalui PDAM, persoalan tetap sama. Sumber air tersebut juga digunakan untuk kepentingan masyarakat, pertanian, dan berbagai wilayah lain.

Jatiluhur memasok kebutuhan kawasan seperti Bekasi, Karawang, Subang, hingga Jakarta. Karena itulah pemerintah daerah menekankan pentingnya perhitungan kapasitas air sebelum proyek berkembang lebih jauh. Investasi data center tidak boleh menciptakan persaingan baru antara industri digital, petani, dan kebutuhan rumah tangga.

Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa tinggal dekat data center otomatis menyebabkan penyakit tertentu. Kajian peer-reviewed pada Februari 2026 bahkan menyebut belum ada penelitian yang secara langsung mengukur hasil kesehatan masyarakat di sekitar fasilitas data center yang sedang beroperasi. Karena itu, sejumlah risiko yang selama ini dibicarakan masih berada pada level kemungkinan.

Hal tersebut berbeda dengan menyimpulkan data center sebagai penyebab langsung sebuah penyakit. Gangguan tidur akibat suara merupakan salah satu dampak yang paling sering dikeluhkan warga. Gangguan tidur akibat cahaya malam juga mungkin terjadi jika lampu keamanan diarahkan ke permukiman dan tidak menggunakan pelindung yang tepat.

Iritasi saluran pernapasan dari emisi diesel secara ilmiah juga masuk akal apabila konsentrasi paparannya tinggi. Namun, data lapangan di sejumlah wilayah menunjukkan genset sering beroperasi jauh di bawah batas izin karena hanya digunakan sebagai cadangan. Sementara itu, kekhawatiran mengenai gangguan pendengaran relatif lebih kecil. NIOSH menetapkan batas paparan sekitar 85 desibel selama delapan jam.

Angka itu jauh di atas level 40 hingga 59 desibel yang tercatat di sejumlah lokasi data center yang dikeluhkan warga. Efek kardiovaskular juga belum bisa dikaitkan langsung dengan data center. Hubungan tersebut ditemukan pada penelitian kebisingan lalu lintas dalam populasi besar, bukan dalam studi khusus masyarakat yang tinggal di sekitar fasilitas pusat data.

Data center membutuhkan keamanan tinggi sehingga banyak fasilitas menggunakan lampu terang sepanjang malam. Jika desain pencahayaan buruk, cahaya tersebut bisa masuk ke rumah warga dan mengganggu kenyamanan maupun kualitas tidur. Masalah ini relatif lebih mudah diselesaikan dibandingkan persoalan air atau kebisingan. Lampu dapat diarahkan ke bawah, dilengkapi pelindung, dan diredupkan pada jam tertentu.

Selain operasional, pembangunan data center sendiri bisa berlangsung bertahun-tahun. Satu gedung membutuhkan waktu konstruksi sekitar 12 hingga 18 bulan. Sementara kampus besar yang dibangun bertahap dapat membutuhkan waktu hingga tujuh tahun. Selama periode tersebut, warga bisa menghadapi truk berat, debu, lumpur, aktivitas peledakan, maupun limpasan air dari proyek.

Kasus di West Virginia bahkan berujung pada tindakan regulator setelah hujan deras membawa sedimen dari lokasi konstruksi ke rumah warga. Di Georgia, sejumlah keluarga juga menggugat Meta dan otoritas pembangunan lokal. Mereka menuding proses pembukaan lahan serta penggalian data center mengganggu akuifer dan membuat sumur mereka berlumpur. Meta membantah keterkaitan tersebut berdasarkan kajian yang mereka pesan.

Beberapa pemerintah daerah di Amerika Serikat menggunakan jarak sebagai salah satu instrumen perlindungan. Fairfax County, Virginia, misalnya pernah menetapkan jarak sekitar 200 kaki atau sekitar 61 meter antara data center dan kawasan hunian. Namun aturan zonasi tersebut bukan hasil penelitian kesehatan. Jarak hanya menjadi alat perencanaan agar bangunan industri tidak terlalu dekat dengan permukiman.

Faktor yang lebih menentukan adalah posisi peralatan yang menghasilkan suara dan emisi. Genset yang berada dekat rumah dapat memiliki dampak berbeda dibandingkan gedung server yang jaraknya sama tetapi peralatan mekanis ditempatkan jauh di sisi lain. Desain fasilitas juga memainkan peran besar. Peralatan pendingin dapat ditempatkan dalam enclosure, lampu dapat diarahkan ke bawah, dan jadwal pengujian genset bisa dibatasi pada jam kerja.

Forbes mencatat Chandler, Arizona, bahkan mewajibkan pengukuran tingkat suara lingkungan sebelum data center dibangun. Pengukuran kemudian dilakukan tahunan selama lima tahun. Lancaster, Pennsylvania, membatasi konsumsi air kampus data center hanya 20.000 galon per hari. Pendekatan semacam ini menunjukkan perlindungan masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan janji perusahaan. Target yang terukur mengenai air, kebisingan, emisi, dan energi jauh lebih mudah diawasi.

Proyek BDx di Jatiluhur direncanakan berdiri di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi dalam kawasan pengembangan seluas 11 hektare. Kawasan itu dirancang memiliki enam gedung data center dengan total kapasitas hingga 640 MW. Fase pertama gedung pertama sebelumnya ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Namun pembangunan dihentikan sementara karena sejumlah dokumen, termasuk Amdal dan Persetujuan Bangunan Gedung, belum selesai.

Pemprov Jawa Barat meminta proses Amdal dilakukan secara transparan dan bisa diketahui publik. Pemerintah juga meminta nama konsultan dan ahli yang menyusun kajian diumumkan agar masyarakat mengetahui dasar perhitungan dampak proyek. Pendekatan tersebut penting karena proyek data center berskala besar membawa dua sisi yang harus berjalan beriringan. Industri ini dibutuhkan untuk menopang ekonomi digital dan kecerdasan buatan.

Bagi masyarakat yang tinggal di dekat data center, pertanyaan paling relevan bukan sekadar apakah bangunan tersebut berbahaya. Warga perlu mengetahui berapa banyak air yang digunakan, seberapa keras suara pada malam hari, berapa lama genset diuji, dan bagaimana dampaknya saat listrik padam. Mereka juga perlu mengetahui apakah lampu keamanan mengarah ke rumah dan bagaimana aktivitas truk selama konstruksi.

Pada akhirnya, tinggal dekat data center tidak otomatis berarti tinggal di lingkungan yang berbahaya. Penelitian saat ini belum membuktikan adanya penyakit khusus yang disebabkan oleh kedekatan dengan fasilitas tersebut. Namun bukan berarti seluruh kekhawatiran masyarakat dapat diabaikan. Kebisingan terus-menerus, konsumsi air, emisi diesel, pencahayaan malam, serta dampak pembangunan merupakan persoalan nyata yang harus dikendalikan sejak tahap perencanaan.

Keamanan warga pada akhirnya lebih banyak ditentukan oleh desain fasilitas, kualitas Amdal, pengawasan pemerintah, transparansi operator, dan seberapa ketat standar lingkungan diterapkan. Data center yang dirancang dengan baik dapat hidup berdampingan dengan masyarakat. Namun kesalahan perencanaan dapat mengubah investasi digital menjadi persoalan lingkungan baru. Sejumlah pengembang bahkan mulai melirik Data Center di Orbit sebagai alternatif masa depan.

SHARE:

Huawei dan Qualcomm Sepakati Lisensi Silang Paten 5G dan AI

Pindah Payment Gateway? 3 Hal Ini Wajib Dipertimbangkan Pelaku Bisnis