Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
China Sukses Daratkan Booster Roket, Saingi SpaceX
SHARE:

Jakarta – China resmi mencatatkan sejarah baru dalam eksplorasi antariksa. Negara tersebut berhasil mendaratkan booster roket miliknya untuk pertama kalinya, sebuah pencapaian yang sebelumnya hanya dikuasai oleh Amerika Serikat melalui perusahaan antariksa SpaceX. Keberhasilan ini menempatkan China sebagai negara kedua di dunia yang mampu menerbangkan dan mendaratkan kembali roket untuk digunakan lagi.

Roket Long March-10B milik China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) sukses meluncur dari pusat peluncuran di Hainan pada Jumat (10/7) siang. Misi ini membawa satelit ke orbit Bumi. Sekitar enam menit setelah peluncuran, booster dan second stage roket berpisah, lalu booster kembali ke Bumi dan mendarat secara vertikal.

Pendaratan vertikal tersebut menjadi bukti bahwa CASC mulai menyamai kemampuan SpaceX. Perusahaan milik Elon Musk itu sudah berkali-kali menerbangkan serta mendaratkan booster roketnya sejak 2015. Kini, China menjadi negara kedua yang berhasil melakukannya.

Keberhasilan ini merupakan langkah besar bagi program antariksa China. Sistem roket yang dapat dipakai kembali dinilai mampu menurunkan biaya peluncuran ke luar angkasa secara signifikan. Selain itu, teknologi ini juga mempercepat proses persiapan misi berikutnya.

CASC menyatakan akan menggunakan kembali booster roket tersebut untuk penerbangan lain pada akhir tahun ini. Hal ini menunjukkan komitmen China dalam mengembangkan teknologi roket reusable secara berkelanjutan.

Metode pendaratan yang digunakan China berbeda dengan SpaceX. CASC menggunakan sistem jaring yang direntangkan di atas kerangka besar di atas kapal untuk menangkap roket yang turun. Stasiun televisi nasional China CCTV menyebut sistem ini sebagai sistem pendaratan roket berbasis jaring pertama di dunia.

Sebuah menara tinggi menjadi jangkar sistem jaring tersebut. Sementara itu, sensor seperti LiDAR melacak jalur dan sudut jatuhnya booster roket secara real time. Video yang diunggah China News Service menunjukkan bagaimana booster ini turun secara perlahan hingga mesinnya mati dan berdiri tegak di tengah laut.

Mekanisme ini jelas berbeda dengan yang dipakai SpaceX. Roket Falcon 9 milik SpaceX mengandalkan kaki pendaratan yang bisa dilipat untuk menstabilkan posisi booster saat mendarat. SpaceX juga tengah mengembangkan sistem pendaratan baru untuk booster roket Starship yang ukurannya lebih besar.

Perusahaan Elon Musk itu belum lama ini menguji coba lengan mekanik raksasa untuk menangkap booster di udara. Sistem tersebut dirancang untuk menangani roket berukuran raksasa yang tidak memungkinkan menggunakan kaki pendaratan konvensional.

China sendiri memiliki ambisi besar menjadi kekuatan antariksa pada tahun 2030. Kemampuan untuk menggunakan roket berkali-kali menjadi kunci utama dari target tersebut. Dengan teknologi ini, China berharap bisa menekan biaya dan meningkatkan frekuensi peluncuran.

Saat ini, peluncuran roket China masih jauh tertinggal dari AS. Tahun lalu, AS menerbangkan 193 peluncuran ke orbit. Sementara itu, China hanya meluncurkan 92 percobaan dalam periode yang sama.

Chen Muye dari CASC mengatakan penerbangan pertama ini menandai terobosan besar. Ia menyebut roket yang dapat digunakan kembali dengan biaya rendah dan daya angkut besar akan meningkatkan daya saing negara di ruang angkasa komersial.

Booster roket Long March-10B milik China berhasil mendaratkan untuk pertama kalinya

Ia menambahkan teknologi ini juga akan mendukung program roket berawak China di masa depan. Hal ini sejalan dengan ambisi China untuk mengirim astronot ke Bulan dalam beberapa tahun ke depan.

Chen juga menekankan bahwa keberhasilan ini membuka peluang baru bagi industri antariksa komersial China. Dengan biaya yang lebih rendah, perusahaan swasta China bisa lebih mudah mengakses luar angkasa untuk berbagai keperluan, termasuk komunikasi dan observasi Bumi.

China juga telah mengembangkan berbagai teknologi antariksa lain, termasuk China Blokir Akuisisi Manus demi keamanan nasional. Langkah ini menunjukkan keseriusan China dalam menguasai teknologi strategis secara mandiri.

Dengan keberhasilan ini, China semakin dekat dengan targetnya menjadi kekuatan antariksa utama. Persaingan dengan AS dalam eksplorasi luar angkasa dipastikan akan semakin ketat di tahun-tahun mendatang.

SHARE:

Harga dan Keunggulan Solar B50 Resmi Didistribusikan

Menteri UMKM Ancam Cabut Izin Gojek dan Grab Jika Bandel Soal Komisi