Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
ASAT: Prioritas Baru Militer AS Hadapi China-Rusia
SHARE:

Jakarta — Komando Antariksa Amerika Serikat (US Space Command) resmi menempatkan pengembangan senjata anti-satelit (ASAT) sebagai prioritas utama militer. Langkah ini diambil di tengah ekspansi kemampuan luar angkasa China dan Rusia yang semakin masif, mengubah paradigma pertahanan dari pasif menjadi ofensif.

Jenderal Stephen Whiting, Komandan SPACECOM, mengumumkan bahwa pengembangan senjata ASAT kinetik dan non-kinetik kini menjadi prioritas militer kritis. Pernyataan ini disampaikan dalam Space & Missile Defense Symposium di Huntsville, Alabama, menandai pergeseran signifikan dalam doktrin pertahanan antariksa Amerika.

Whiting menekankan kebutuhan untuk mengintegrasikan "integrated space fires" dan kemampuan counter-proliferated low Earth orbit (pLEO) untuk periode fiskal 2029-2033. Fokus ini muncul seiring China yang terus memperluas kemampuan militer luar angkasanya, termasuk satelit penginderaan jauh, laser berbasis darat, jammer, dan sistem co-orbital seperti SJ-21.

Pejabat pertahanan AS menegaskan bahwa sekadar mempertahankan satelit tidak lagi cukup. Pasukan gabungan harus memiliki kemampuan kredibel untuk menyerang dan menurunkan kemampuan aset luar angkasa musuh, meskipun detail spesifik senjata masa depan masih dirahasiakan.

Pertanyaan krusial yang muncul adalah apakah AS memiliki kemampuan ofensif yang diperlukan untuk mewujudkan supremasi antariksa ini. Saat ini, Counter Communications System (CCS) menjadi satu-satunya kemampuan ASAT ofensif AS yang diakui publik, namun memiliki keterbatasan signifikan.

China loading more missile punch into its frigate fleet

Dalam laporan Juni 2023 untuk Mitchell Institute for Aerospace Studies, Charles Galbreath menyebut bahwa jammer berbasis darat ini hanya memberikan gangguan parsial pada komunikasi musuh. CCS juga tidak mampu menahan ekspansi arsitektur antariksa China yang berkembang pesat.

Galbreath menambahkan bahwa penggunaan CCS secara efektif membutuhkan penempatan strategis di dekat area target. Ini menjadi tantangan besar di medan pertempuran yang didominasi jaringan anti-access dan area-denial (A2/AD) China.

AS memberlakukan moratorium unilateral pada uji coba senjata ASAT direct-ascent pada April 2022 karena kekhawatiran puing antariksa. Matt Korda dan Nivedita Raju dari Federation of American Scientists berpendapat bahwa senjata semacam itu menawarkan manfaat strategis dan militer yang terbatas.

Puing antariksa, termasuk tahap roket bekas dan fragmen satelit, bergerak dengan kecepatan ribuan meter per detik. Korda dan Raju menekankan bahwa puing tersebut dapat mengancam aset antariksa negara penguji itu sendiri dan berisiko mengasingkan sekutu yang bergantung pada antariksa.

Mereka juga mencatat bahwa uji coba kinetik berlebihan untuk memvalidasi kemampuan ASAT. Negara dapat menunjukkan kecakapan operasional melalui simulasi non-destruktif atau intersepsi pertahanan rudal standar, membuat demonstrasi yang menghasilkan puing tidak diperlukan.

Kathleen Brett dalam laporan Secure World Foundation menyebut AS mengoperasikan rudal intersepsi midcourse dengan fungsi ASAT inheren. Pada Februari 2008, AS menguji rudal SM-3 yang ditembakkan dari USS Lake Erie terhadap satelit pengintai yang tidak berfungsi, menciptakan puing antariksa signifikan.

Dibandingkan AS, China dan Rusia memiliki berbagai kemampuan ASAT yang lebih luas. China membangun postur counterspace ofensif yang menggabungkan sistem soft-kill dan hard-kill, termasuk satelit co-orbital yang mampu rendezvous dan grappling.

Rusia juga mengembangkan arsenal counterspace yang beragam dengan sistem kinetik, co-orbital, directed-energy, dan electronic-warfare. Ini termasuk rudal Nudol, satelit Olymp-K/Luch, laser Peresvet, dan jammer Murmansk-BN.

Menariknya, sistem pertahanan rudal berbasis antariksa yang diusulkan AS, Golden Dome, memiliki kemampuan ASAT ganda yang inheren. Henry Sokolski menekankan bahwa intersepsi yang dirancang untuk rudal balistik cepat dapat dengan mudah dialihkan untuk menargetkan satelit musuh.

Risiko strategis terbesar mungkin bukan kesenjangan kemampuan ASAT, melainkan siklus aksi-reaksi yang membuat satelit semakin rentan dalam krisis. Ini berpotensi menurunkan ambang batas serangan terhadap infrastruktur antariksa yang menopang operasi militer dan kehidupan sipil.

SHARE:

99,9 Persen BTS Terdampak Gempa NTT Berhasil Pulih

FDA Setujui Robot Aletta Bisa Ambil Darah Secara Otomatis