Jakarta — Tidur di dalam kendaraan saat terparkir kerap menjadi pilihan praktis bagi pengemudi yang membutuhkan waktu istirahat di tengah perjalanan jauh. Namun, jenis kendaraan yang digunakan ternyata sangat memengaruhi tingkat risiko keselamatan, terutama ketika mesin atau sistem pendingin tetap dinyalakan dalam kondisi parkir.
Mobil listrik dinilai memiliki keunggulan signifikan dari sisi risiko paparan gas buang dibandingkan mobil dengan mesin pembakaran internal, seperti mobil bensin dan diesel. Pasalnya, kendaraan listrik tidak menggunakan proses pembakaran bahan bakar sehingga tidak menghasilkan emisi dari knalpot sama sekali.
Kondisi tersebut membuat risiko keracunan karbon monoksida (CO) dari gas buang tidak menjadi persoalan pada mobil listrik. Karbon monoksida sendiri merupakan gas berbahaya yang dapat muncul dari proses pembakaran pada kendaraan konvensional dan berpotensi masuk ke dalam kabin dalam kondisi tertentu, seperti yang dijelaskan dalam artikel tentang Tidur di Mobil.

Pada mobil bensin, membiarkan mesin tetap menyala ketika kendaraan terparkir di ruang tertutup memiliki risiko yang sangat serius. Gas buang yang mengandung CO dapat terakumulasi dan masuk ke kabin apabila sirkulasi udara tidak memadai, dan ini bisa berakibat fatal bagi penghuni kendaraan.
Karena tidak memiliki knalpot dan mesin pembakaran seperti kendaraan konvensional, mobil listrik tidak menghasilkan gas buang tersebut. Sistem penggeraknya mengandalkan energi dari baterai untuk menjalankan motor listrik, termasuk menopang sejumlah fungsi kendaraan ketika dalam kondisi parkir.
Meski demikian, bukan berarti tidur di mobil listrik dapat dilakukan tanpa memperhatikan aspek keselamatan lainnya. Ada sejumlah hal yang tetap perlu diperhatikan, terutama berkaitan dengan kapasitas baterai, sistem pendingin kabin, serta lokasi kendaraan diparkir.
Perhatikan Kapasitas Baterai
Salah satu hal penting sebelum beristirahat di dalam kendaraan listrik adalah memastikan kapasitas baterai masih mencukupi. Ketika AC dinyalakan dalam kondisi kendaraan berhenti, sistem pendingin tetap membutuhkan energi dari baterai yang tersedia.
Konsumsinya dapat berada di kisaran 1–2 kWh per jam, meski angka tersebut dapat berbeda tergantung kondisi cuaca, temperatur yang dipilih, efisiensi kendaraan, dan pengaturan AC. Pengemudi sebaiknya memperhitungkan kebutuhan energi selama beristirahat agar kendaraan tidak mengalami kehabisan daya di tengah perjalanan.
Kondisi baterai yang terlalu rendah juga dapat menyulitkan perjalanan setelah waktu istirahat selesai. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengecek indikator daya sebelum memutuskan beristirahat di dalam mobil listrik.
Manfaatkan Mode Khusus untuk Beristirahat
Sejumlah produsen kendaraan listrik telah menyediakan fitur yang memungkinkan sistem kabin tetap bekerja ketika kendaraan dalam keadaan parkir. Tesla, misalnya, memiliki fitur Camp Mode yang dirancang untuk mempertahankan fungsi seperti AC dan kelistrikan kabin selama kendaraan digunakan sebagai tempat beristirahat.
Sementara itu, Hyundai dan Kia menyediakan Utility Mode yang memungkinkan energi dari baterai utama digunakan untuk menjalankan sejumlah perangkat kendaraan tanpa mengandalkan baterai 12 volt sebagai sumber utama. Pada merek lain, pengemudi dapat menemukan fungsi serupa dengan nama yang berbeda-beda.
Karena itu, pemilik kendaraan sebaiknya memahami buku manual dan fitur yang tersedia pada mobil sebelum menggunakannya untuk beristirahat. Penggunaan mode yang tepat juga membantu mencegah baterai 12 volt terkuras ketika kendaraan ditinggalkan dalam kondisi tertentu.
Baca Juga:
Atur AC agar Tetap Nyaman
Sirkulasi udara juga menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan ketika seseorang memilih tidur di mobil. Pengaturan AC perlu disesuaikan agar kabin tetap nyaman sepanjang waktu istirahat berlangsung.
Pengemudi juga dapat memperhatikan pilihan sirkulasi udara sesuai kondisi lingkungan dan sistem ventilasi kendaraan. Suhu AC sebaiknya tidak diatur terlalu rendah dalam waktu lama karena paparan udara dingin secara terus-menerus ketika tidur dapat mengganggu kualitas istirahat.
Pilih Lokasi Parkir yang Aman
Perbedaan risiko antara mobil listrik dan mobil konvensional dari sisi gas buang bukan berarti lokasi parkir bisa diabaikan begitu saja. Tempat yang aman, legal, terang, dan memiliki pengawasan tetap menjadi pilihan terbaik untuk beristirahat.
Rest area, area parkir resmi, atau lokasi yang memang memperbolehkan kendaraan berhenti dalam waktu tertentu dapat menjadi pilihan yang tepat. Pengemudi juga perlu memastikan kendaraan terkunci dan tidak berada di lokasi yang rawan terhadap tindak kejahatan.
Saat siang hari, hindari memarkir kendaraan terlalu lama di tempat yang terkena paparan matahari secara langsung karena suhu kabin dapat meningkat dengan cepat. Hal ini penting untuk kenyamanan dan keselamatan selama beristirahat.
Dengan sejumlah pertimbangan tersebut, tidur di mobil listrik memang memiliki keunggulan dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran dalam hal paparan gas buang. Namun, faktor baterai, temperatur kabin, ventilasi, dan keamanan lokasi tetap harus menjadi perhatian utama bagi setiap pengemudi.
Sementara itu, mobil bensin dan kendaraan diesel membutuhkan perhatian lebih terhadap risiko karbon monoksida ketika mesin dibiarkan menyala, khususnya jika kendaraan berada di ruang tertutup atau area dengan ventilasi buruk. Risiko ini juga berkaitan erat dengan fungsi Sensor TPS Mobil yang memengaruhi pembakaran.
Artinya, keamanan saat beristirahat di dalam kendaraan tidak hanya ditentukan oleh jenis mobil yang digunakan. Cara menggunakan kendaraan dan memilih lokasi parkir juga menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan oleh setiap pengemudi.