Pernahkah Anda membayangkan bisa streaming video HD di pedalaman Kalimantan atau mengikuti kelas online dari pelosok Nusa Tenggara dengan lancar? Selama ini, akses internet yang andal seringkali menjadi cerita yang berbeda di luar pusat-pusat kota besar. Kesenjangan digital bukan sekadar soal kecepatan, tetapi tentang akses terhadap peluang. Inilah paradoks yang coba dipecahkan dengan pendekatan baru, di mana teknologi tidak lagi hanya berputar di sekitar ibu kota.
Indonesia, dengan geografinya yang luas dan menantang, selalu menghadapi ujian berat dalam pemerataan infrastruktur digital. Sementara pelanggan 5G global diprediksi melonjak, tantangan di dalam negeri adalah bagaimana membawa manfaat teknologi mutakhir ini ke daerah-daerah yang selama ini terpinggirkan dari peta konektivitas. Lelang spektrum frekuensi, seperti yang baru-baru ini terjadi, sering menjadi langkah awal yang krusial.
Kini, sebuah kolaborasi strategis antara raksasa teknologi dan penyedia layanan internet hadir dengan jawaban konkret. ZTE, vendor telekomunikasi global, dan MyRepublic Indonesia secara resmi meluncurkan "Project Ascend", sebuah proyek ambisius yang bertujuan menghadirkan layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA) bernama MyRepublic Air. Inisiatif ini bukan sekadar ekspansi bisnis biasa, melainkan sebuah langkah terukur untuk menulis ulang narasi konektivitas di Indonesia.
Mengapa Frekuensi 1,4 GHz Jadi Pilihan Utama?Inti dari Project Ascend terletak pada pemanfaatan pita frekuensi 1,4 GHz yang berhasil diperoleh MyRepublic Indonesia melalui lelang pemerintah. Pilihan ini sangat strategis dan bukan tanpa alasan. Berbeda dengan spektrum frekuensi tinggi yang menawarkan kecepatan super namun jangkauan terbatas, frekuensi 1,4 GHz memiliki karakteristik propagasi gelombang radio yang lebih baik. Ia mampu menembus hambatan fisik seperti bangunan dan vegetasi dengan lebih efektif, serta menjangkau area yang lebih luas dengan jumlah menara pemancar (BTS) yang lebih sedikit.
Ini adalah solusi yang efisien secara ekonomi dan teknis untuk wilayah dengan kepadatan populasi menengah hingga rendah. Alih-alih berkompetisi langsung di pasar urban yang sudah padat dengan infrastruktur fiber dan 5G spektrum tinggi, MyRepublic Air justru mengisi celah (gap) yang selama ini kurang terjamah. Pendekatan ini sejalan dengan alasan pemerintah yang lebih mengutamakan lelang frekuensi ini untuk percepatan konektivitas nasional.
Hendra Gunawan, Chief Technology Officer MyRepublic Indonesia, menegaskan bahwa broadband telah berubah dari barang mewah menjadi infrastruktur esensial. "Melalui kemitraan dengan ZTE, kami berupaya memastikan MyRepublic Air hadir menyediakan akses internet yang andal dan terjangkau," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan pergeseran paradigma di industri, di mana tanggung jawab sosial dan ekspansi bisnis berjalan beriringan.
ZTE Hadirkan Solusi End-to-End untuk Percepat ImplementasiSebagai mitra teknologi dalam kemitraan ini, ZTE tidak setengah-setengah. Perusahaan asal Tiongkok itu menyediakan solusi jaringan lengkap (end-to-end) yang mencakup segala aspek, mulai dari Radio Access Network (RAN), perangkat pelanggan (Customer Premises Equipment/CPE), jaringan inti (core network), wireless backhaul, hingga sistem kelistrikan pendukung. Pendekatan terintegrasi semacam ini adalah kunci untuk mempercepat waktu implementasi di lapangan.
Dengan paket solusi yang komprehensif, MyRepublic dapat menghindari kerumitan koordinasi dengan banyak vendor berbeda. Hal ini memungkinkan mereka fokus pada penyebaran jaringan dan pelayanan pelanggan. Richard Liang, President Director ZTE Indonesia, menyatakan bahwa kolaborasi ini adalah langkah strategis untuk memperluas infrastruktur digital berkualitas tinggi. Kombinasi keahlian teknologi ZTE dan jangkauan pasar MyRepublic diharapkan dapat menciptakan ekosistem broadband yang lebih tangguh dan inklusif.
Komitmen ZTE di Indonesia juga tercermin dari berbagai proyek sebelumnya, termasuk penyediaan perangkat CPE Wi-Fi 7 yang canggih. Dalam ekosistem yang kompetitif, kolaborasi antara operator dan vendor teknologi seperti ini menjadi semakin vital, sebagaimana juga terlihat dalam kemitraan lain seperti Indosat dengan Nokia.
Baca Juga:
Cakupan awal MyRepublic Air akan difokuskan pada wilayah-wilayah di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara. Pemilihan area ini menunjukkan target yang jelas: membawa konektivitas tinggi ke daerah yang selama ini kurang menjadi perhatian operator besar. Dampaknya diproyeksikan akan melampaui sekadar menyediakan akses internet.
Dalam konteks agenda transformasi digital nasional, konektivitas yang andal adalah fondasi. Ia menjadi penunjang akses terhadap pendidikan digital, layanan keuangan (fintech), telemedisin, pengembangan UMKM, dan berbagai layanan publik berbasis elektronik lainnya. Dengan kata lain, Project Ascend bukan hanya proyek teknologi, tetapi juga proyek pembangunan sosial-ekonomi yang menggunakan konektivitas sebagai instrumen utamanya.
Inisiatif seperti ini memperkuat upaya berkelanjutan untuk mewujudkan digitalisasi yang inklusif. Ketika masyarakat di daerah tertinggal dan terpencil memiliki akses yang setara, daya saing regional secara keseluruhan akan terdongkrak. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan pemerataan peluang yang sesungguhnya.
Tantangan dan Masa Depan Konektivitas IndonesiaMeski menjanjikan, perjalanan Project Ascend tentu tidak akan mulus. Tantangan logistik di daerah terpencil, pemahaman dan adopsi teknologi oleh masyarakat, serta keberlanjutan bisnis model di area dengan kepadatan rendah adalah beberapa hal yang perlu diatasi. Keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada eksekusi di lapangan dan komitmen kedua belah pihak dalam jangka panjang.
Namun, kemitraan ZTE dan MyRepublic ini telah memberikan sinyal positif. Ia menunjukkan bahwa ada ruang dan model bisnis untuk menghadirkan konektivitas mutakhir di luar Jawa. Inovasi dalam bentuk 5G FWA dengan frekuensi menengah seperti 1,4 GHz bisa menjadi jawaban atas teka-teki pemerataan akses digital yang sudah berlangsung lama.
Kedua perusahaan berkomitmen untuk mendukung rencana strategis digital Indonesia melalui penyediaan solusi konektivitas yang memberdayakan. Pada akhirnya, kesuksesan proyek semacam ini tidak diukur hanya dari jumlah pelanggan, tetapi dari seberapa besar ia mampu menyentuh kehidupan, membuka isolasi, dan mengakselerasi pembangunan yang berkeadilan di seluruh penjuru tanah air. Inilah esensi sebenarnya dari revolusi digital yang inklusif.