Jakarta – Waymo, unit bisnis otonom milik Alphabet, secara resmi menarik kembali 3.791 unit robotaxi yang beroperasi di Amerika Serikat. Langkah ini diambil setelah regulator federal menemukan celah perangkat lunak yang dapat menyebabkan kendaraan melaju ke jalan tergenang banjir. Informasi ini dilaporkan oleh Technologue.id, mengutip pengumuman resmi dari National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA).
Recall ini berdampak pada sistem generasi kelima dan keenam milik Waymo. Sebagai langkah sementara, Waymo akan menerapkan batasan operasional terkait cuaca yang lebih ketat serta pembaruan peta hingga solusi perangkat lunak penuh dikembangkan.
Pengajuan recall ke NHTSA menjadi momen langka bagi Waymo yang biasanya enggan mengungkapkan jumlah pasti armadanya. Dengan mendaftarkan setiap kendaraan yang terdampak cacat software, Waymo secara tidak langsung memublikasikan hampir seluruh jumlah armada aktifnya di AS.
Armada tersebut tersebar di sejumlah kota seperti Phoenix, San Francisco, Los Angeles, Austin, San Antonio, dan Atlanta. Sebelumnya, perkiraan jumlah armada Waymo hanya didapat dari data izin tingkat kota, yang menunjukkan sekitar 800 hingga 1.000 kendaraan di San Francisco dan sekitar 500 unit di Phoenix.
Baru pada September 2025, unit Alphabet itu mengonfirmasi jumlah armadanya telah melampaui 2.000 unit. Angka pasti 3.791 unit menunjukkan bahwa total armada Waymo hampir tiga kali lipat dalam waktu kurang dari dua tahun dan kini menjadi layanan ride-hailing otonom komersial terbesar di dunia.
Recall ini terjadi di tengah masa sulit bagi Waymo dari sisi keselamatan dan regulasi. Perusahaan tersebut tengah diselidiki NHTSA menyusul insiden Januari 2026, di mana salah satu robotaxi menabrak seorang anak di dekat sekolah dasar di Santa Monica, California.
Tabrakan itu terjadi saat jam antar-jemput dengan petugas penyeberangan dan anak-anak lain di lokasi. Baik NHTSA maupun National Transportation Safety Board (NTSB) juga menyelidiki serangkaian insiden di mana kendaraan Waymo diduga melewati bus sekolah yang berhenti dengan lampu peringatan menyala.
Setidaknya 20 insiden semacam itu tercatat di Austin, Texas antara Agustus 2025 dan Januari 2026. Enam insiden lainnya dilaporkan terjadi di Atlanta, Georgia dalam periode waktu yang sama. Waymo menolak seruan untuk menghentikan operasi di lingkungan sekolah, dengan menyoroti data internal yang menunjukkan teknologinya lebih aman daripada pengemudi manusia.
Biasanya, Waymo membela teknologinya dengan gagasan bahwa mereka sedang ‘mendidik’ masyarakat dan badan regulasi tentang keselamatan mengemudi otonom. Akumulasi investigasi terhadap Waymo dan perusahaan lain menunjukkan tantangan yang dihadapi pengembang kendaraan otonom dalam memprogram respons terhadap lingkungan jalan yang diatur oleh kebiasaan dan naluri manusia.
Bagi Waymo yang sudah mengoperasikan armada robotaxi terbesar di dunia, biaya reputasi dan regulasi dari setiap kegagalan kasus tepi (edge-case) semakin besar seiring dengan skala operasionalnya.
Meskipun menghadapi tekanan regulasi yang meningkat, Waymo tetap berkomitmen pada pengembangan teknologi otonomnya. Perusahaan ini terus mengumpulkan data untuk membuktikan bahwa kendaraan tanpa pengemudi lebih aman dibandingkan dengan pengemudi manusia dalam berbagai kondisi jalan.
Namun, insiden terbaru ini menunjukkan bahwa masih ada celah signifikan dalam kemampuan sistem untuk merespons situasi darurat yang tidak terduga, seperti banjir atau keberadaan anak-anak di sekitar sekolah. Para ahli keselamatan lalu lintas menyebut bahwa setiap kegagalan kecil dapat berdampak besar pada kepercayaan publik terhadap teknologi otonom.
Waymo berencana untuk merilis pembaruan perangkat lunak permanen dalam beberapa bulan mendatang. Sementara itu, armada yang sudah ditarik akan menjalani pemeriksaan dan pembaruan sistem sebelum diizinkan beroperasi kembali di jalan raya.
Perusahaan induk Alphabet belum memberikan komentar lebih lanjut mengenai dampak finansial dari recall massal ini. Namun, analis industri memperkirakan bahwa biaya recall bisa mencapai puluhan juta dolar AS, belum termasuk potensi denda dari regulator dan gugatan hukum dari korban insiden sebelumnya.
Ke depan, Waymo harus bekerja lebih keras untuk memulihkan kepercayaan publik dan regulator. Langkah-langkah transparansi seperti yang dilakukan dalam pengajuan recall ini diharapkan dapat menjadi awal yang baik untuk membangun kembali reputasi perusahaan di tengah industri kendaraan otonom yang semakin kompetitif.