Jakarta, Technologue.id - Penyakit jantung sering dianggap sebagai ancaman yang hanya menghantui kelompok usia lanjut. Padahal, World Health Organization (WHO) terus mengingatkan bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi masalah kesehatan global yang serius. WHO mencatat penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian pada 2022. Organisasi kesehatan dunia itu juga menyebut sekitar sepertiga kematian akibat penyakit kardiovaskular terjadi secara prematur sebelum usia 70 tahun.
Karena itu, setiap 29 September dunia memperingati Hari Jantung Sedunia atau World Heart Day. Peringatan ini dicetuskan World Heart Federation dan WHO pada 1999. Gagasan tersebut muncul saat Antoni Bayés de Luna menjabat sebagai presiden World Heart Federation periode 1997-1999. Momentum ini bukan sekadar seremonial semata, melainkan pengingat pentingnya menjaga kesehatan jantung.
Penyakit jantung di usia muda kini semakin meningkat karena gaya hidup modern. Dulu, banyak orang menganggap penyakit jantung identik dengan usia lanjut. Namun, perubahan gaya hidup membuat anak muda juga perlu memperhatikan berbagai faktor risiko jantung. Rutinitas padat sering membuat pola makan, waktu tidur, aktivitas fisik, dan pengelolaan stres berantakan.
WHO memasukkan pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan penggunaan tembakau sebagai faktor risiko utama. Kebiasaan makan fast food juga mudah masuk dalam rutinitas anak muda. Konsumsi makanan tinggi garam, gula, dan lemak dapat meningkatkan sejumlah faktor risiko kardiovaskular. Kebiasaan ini diperparah dengan rutinitas duduk terlalu lama saat bekerja, bermain gim, atau scrolling media sosial.
Begadang juga sering dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan modern. Di sisi lain, tekanan pekerjaan dan persoalan pribadi dapat membuat stres terasa semakin berat. Karena itu, menjaga kesehatan jantung tidak cukup hanya mengandalkan olahraga sesekali. Pola hidup seimbang menjadi kunci utama untuk menekan risiko tersebut.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi penyakit jantung nasional berada di angka 0,85 persen. Angka tersebut tercantum dalam data Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang menjadi bagian publikasi kesehatan Kemenkes. Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat memiliki prevalensi 1,67 persen dalam data tersebut. Selanjutnya, Papua Tengah mencapai 1,65 persen dan DKI Jakarta berada pada angka 1,56 persen.
Dari seluruh kasus ini, 50 persen berasal dari pasien usia muda. Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah penyakit jantung tidak hanya menjadi isu kelompok usia lanjut. Karena itu, kesadaran mengenai faktor risiko perlu tumbuh sejak usia muda. Banyak anak muda merasa tubuhnya masih kuat karena mampu beraktivitas sepanjang hari. Perasaan tersebut terkadang membuat mereka mengabaikan sinyal tubuh yang sebenarnya membutuhkan perhatian.
Baca Juga:
Merokok dan penggunaan vape juga menjadi perhatian karena paparan tembakau berkaitan dengan penyakit kardiovaskular. WHO menyebut penggunaan tembakau dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan kejadian kardiovaskular. Selain itu, kurang bergerak dapat membuat tubuh kehilangan salah satu kebiasaan penting untuk menjaga kesehatan jantung. WHO juga menempatkan aktivitas fisik sebagai bagian penting dalam pencegahan penyakit kardiovaskular.
Faktor lain seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol, berat badan berlebih, dan obesitas juga perlu diperhatikan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular apabila tidak terkontrol. Menariknya, penampilan fisik yang terlihat bugar tidak otomatis menghilangkan seluruh faktor risiko. Karena itu, pemeriksaan kesehatan tetap penting ketika seseorang memiliki keluhan atau faktor risiko tertentu.
Gejala penyakit jantung di usia muda dapat berbeda pada setiap orang. Namun, beberapa keluhan berikut perlu mendapat perhatian, terutama jika muncul mendadak atau terasa berbeda dari biasanya. Pertama, tubuh mendadak mudah lemas setelah aktivitas ringan. Kondisi tersebut semakin penting jika muncul bersama napas terengah-engah atau kemampuan beraktivitas yang menurun.
Kedua, nyeri dada yang menjalar. Keluhan tersebut dapat terasa berat dan menjalar menuju lengan, leher, rahang, atau bahu. Jangan langsung menganggap nyeri tersebut sebagai efek kelelahan. Jika nyeri terasa mendadak atau berat, segera cari pertolongan medis. Ketiga, pusing secara mendadak yang muncul bersama nyeri dada, sesak, atau rasa tidak nyaman.
Keempat, nyeri ulu hati dan mual. Nyeri ulu hati memang sering berkaitan dengan masalah pencernaan. Meski begitu, keluhan serupa juga dapat muncul bersamaan dengan masalah jantung. Jangan mengabaikan nyeri ulu hati yang muncul mendadak, terlebih jika seseorang memiliki faktor risiko penyakit jantung.
Kelima, rahang atau tenggorokan terasa sakit. Nyeri akibat masalah jantung tidak selalu berhenti di bagian dada. Keluhan tersebut dapat menjalar hingga rahang, leher, atau area tenggorokan. Jika keluhan muncul bersama nyeri dada atau sesak, jangan menunggu terlalu lama. Keenam, keringat dingin mendadak yang muncul tiba-tiba meskipun seseorang sedang tidak berolahraga.
Hari Jantung Sedunia bukan sekadar peringatan tahunan yang muncul di kalender. Momentum ini bisa menjadi pengingat sederhana untuk mulai mengecek kebiasaan sehari-hari. Mulailah dengan memperhatikan pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik secara rutin. Selain itu, hindari rokok dan vape, serta cari cara yang sehat untuk mengelola stres. Pemeriksaan kesehatan juga dapat membantu menemukan faktor risiko seperti tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.
WHO menekankan pentingnya mendeteksi penyakit kardiovaskular sedini mungkin agar penanganan dapat segera dilakukan. Jika muncul nyeri dada berat, sesak, keringat dingin, atau nyeri yang menjalar, jangan mencoba mendiagnosis sendiri. Segera cari pertolongan medis, terutama jika gejalanya mendadak atau terasa semakin berat. Usia muda bukan alasan untuk mengabaikan kesehatan jantung. Justru, menjaga kebiasaan sejak sekarang bisa menjadi investasi penting untuk kesehatan di masa depan.