Jakarta, Technologue.id — Bagi sebagian besar orang, orgasme adalah puncak kenikmatan dalam hubungan intim. Namun bagi Sarah Carmen, wanita asal Inggris berusia 24 tahun, kondisi tersebut justru berubah menjadi mimpi buruk yang melelahkan. Ia mengaku telah mencapai titik bosan dengan aktivitas seksual akibat mengalami hingga 200 kali orgasme dalam sehari.
Pemicu klimaks yang dialami Sarah bukan lagi gairah seksual, melainkan hal-hal sepele di sekitarnya. Getaran kereta api yang melintas di rel, deru mesin pengering rambut, hingga suara dengung ritmis mesin fotokopi cukup membuat tubuhnya mencapai orgasme secara spontan. Kondisi ini membuat rutinitas hariannya jauh dari kata normal.
Sarah diketahui mengidap kondisi medis langka bernama Permanent Sexual Arousal Syndrome (PSAS) atau Sindrom Gairah Seksual Permanen. Sindrom ini menyebabkan lonjakan aliran darah ekstrem dan terus-menerus ke organ intimnya. Akibatnya, rangsangan muncul tanpa adanya stimulasi seksual yang disengaja.
"Kadang-kadang, saya terpaksa melakukan banyak hubungan seks hanya untuk mencoba menenangkan tubuh sendiri, sampai-sampai saya merasa bosan. Pria yang tidur dengan saya juga jadi malas berusaha keras karena saya bisa klimaks dengan sangat mudah," ujar Sarah, dikutip dari News of the World.
Petaka ini bermula saat Sarah berusia 19 tahun, ketika ia mengonsumsi obat anti-depresan yang diresepkan dokter. Ia meyakini pil tersebut menjadi biang keladi di balik kondisinya saat ini. "Dalam beberapa minggu setelah minum obat, gairah saya muncul semakin sering. Saya terus-menerus mengalami orgasme tanpa henti," kenangnya.
Awalnya, gejala ini hanya muncul di atas ranjang. Sesi bercinta dengan kekasihnya bisa berlangsung berjam-jam, membuat pasangannya terperangah melihat intensitas klimaks yang dialami Sarah. Namun, kondisi itu kian tak terkendali seiring berjalannya waktu.
"Lama-kelamaan, itu terjadi bahkan setelah aktivitas seks selesai. Dalam waktu enam bulan, saya bisa mengalami 150 kali orgasme sehari—dan kini jumlahnya melonjak hingga 200 kali," tambahnya. Angka tersebut menunjukkan eskalasi yang signifikan dalam kurun waktu relatif singkat.
Sebagai seorang spesialis perawatan kulit, kondisi ini sangat mengganggu pekerjaannya. Alat-alat kecantikan untuk prosedur micro-dermabrasion yang sering ia gunakan mengeluarkan getaran kuat yang kerap memicu sindromnya kambuh. Situasi tersebut menuntut penyesuaian ekstra dalam menjalankan profesinya sehari-hari.
Untuk mengakalinya, Sarah sengaja memanipulasi psikologisnya sendiri. "Saya sadar kalau saya sedang gugup atau cemas, tubuh saya jadi lebih sulit terangsang. Jadi, kadang-kadang saya sengaja membuat diri saya khawatir atau stres demi bisa mengendalikan orgasme ini," ungkapnya.
Meski beberapa pelanggan setianya sudah memaklumi kondisi tersebut, menjelaskan hal ini kepada klien baru tetap menjadi tantangan berat. Tak jarang, ia harus menahan serangan orgasme di tengah-tengah prosedur perawatan wajah atau tubuh pelanggan. Hal ini menambah beban mental dalam pekerjaannya.
Salah satu momen paling canggung terjadi saat ia sedang melakukan prosedur bikini wax. Prosedur sensitif tersebut menuntut konsentrasi penuh dan tangan yang sangat tenang, sementara tubuh Sarah justru mulai gemetar akibat klimaks. Situasi ini menjadi ujian tersendiri bagi profesionalismenya.
"Tangan saya mulai goyah saat orgasme itu datang. Saya terpaksa berpura-pura kaki saya sedang kram. Saya hanya bisa berdiri di sana, menggeliat menahan diri, dan meredam suara desahan sebisa mungkin sampai semuanya selesai," pungkasnya.
Kisah Sarah menjadi pengingat bahwa kesehatan seksual memiliki spektrum yang jauh lebih kompleks dari sekadar mitos yang beredar di masyarakat. Pemahaman yang keliru tentang fakta seputar seks sering kali membuat kondisi medis seperti PSAS sulit dikenali.
PSAS sendiri merupakan gangguan neurologis yang jarang ditemui dan kerap disalahpahami sebagai hiperseksualitas. Padahal, penderitanya tidak selalu memiliki dorongan psikologis untuk berhubungan intim. Mereka hanya mengalami respons fisik yang tidak terkendali.
Hingga kini, Sarah masih berupaya mengelola kondisinya dengan berbagai cara agar tetap bisa menjalani hidup dan pekerjaan secara normal. Pengalaman pahitnya menjadi cermin bahwa kesehatan reproduksi perlu dibicarakan secara terbuka. Kesadaran publik terhadap kondisi langka seperti ini pun dinilai masih rendah.