Technologue.id, Jakarta - Sebuah artikel terbaru dari Android Headlines memicu kehebohan dengan klaim bahwa OnePlus berada di ambang kebangkrutan. Laporan tersebut disebut mencakup data dari tiga benua dan mengompilasi temuan dari empat firma analis independen, yang semuanya mengarah pada kesimpulan pesimistis terhadap masa depan perusahaan.
Android Headlines menyoroti beberapa faktor utama yang mendasari klaim tersebut, mulai dari kinerja penjualan OnePlus yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, hilangnya pangsa pasar secara signifikan, hingga penutupan sejumlah kantor OnePlus di berbagai negara. Kombinasi faktor-faktor ini membuat media tersebut berkesimpulan bahwa OnePlus “sudah tamat”.
Namun, klaim tersebut dengan cepat dibantah oleh pihak perusahaan. CEO OnePlus India segera mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa OnePlus tidak akan tutup dan bahwa seluruh operasional perusahaan tetap berjalan normal. Ia juga menekankan bahwa tidak ada gangguan terhadap karyawan, mitra bisnis, maupun konsumen.
Menariknya, pernyataan tersebut tampak secara khusus ditujukan kepada para pemegang saham. Dalam klarifikasinya, manajemen OnePlus mengimbau agar semua pihak memverifikasi informasi hanya dari sumber resmi, sebuah langkah yang mengindikasikan kekhawatiran akan dampak rumor ini terhadap kepercayaan investor.
Terlepas dari bantahan tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa OnePlus memang tengah menghadapi masa sulit. Popularitas merek ini tidak lagi sekuat beberapa tahun lalu, terutama di tengah persaingan ketat dengan produsen lain di segmen flagship dan mid-range.
Meski begitu, OnePlus tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Perusahaan ini masih berada di bawah payung Oppo, yang menjadi penyelamat penting dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, Oppo sebelumnya dilaporkan telah menyuntikkan dana sekitar US$14 miliar untuk menopang operasional OnePlus—langkah yang secara efektif mencegah perusahaan tersebut mengalami krisis yang lebih dalam.