Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Serangan Password Stealer di Asia Tenggara Meningkat
SHARE:

Technologue.idJakarta - Serangan siber menggunakan password stealer atau pencuri kata sandi semakin menjadi ancaman serius bagi perusahaan di Asia Tenggara. Berdasarkan telemetri perusahaan keamanan siber Kaspersky, terjadi peningkatan sebesar 18 persen pada serangan password stealer yang menargetkan pengguna bisnis di kawasan tersebut.

Sepanjang tahun 2025, solusi bisnis Kaspersky mendeteksi dan memblokir lebih dari satu juta serangan password stealer di jaringan perusahaan di Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, tercatat sebanyak 234.615 serangan berhasil diblokir selama tahun lalu.

Password stealer merupakan jenis malware yang dirancang untuk mencuri kata sandi serta berbagai informasi akun penting lainnya. Malware ini mampu mengekstrak kredensial yang tersimpan di browser dan aplikasi, menganalisis file cache maupun cookie, hingga mengakses data dompet aset kripto pengguna.

Data yang dicuri kemudian dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk mendapatkan akses ilegal ke berbagai akun perusahaan. Aksi tersebut dapat berujung pada pencurian dana, pencurian identitas, pemerasan, hingga penggunaan akun yang diretas untuk melancarkan serangan siber lanjutan.

Kaspersky mencatat, peningkatan serangan password stealer paling signifikan terjadi di Filipina dengan kenaikan mencapai 41 persen. Malaysia menyusul dengan peningkatan 33 persen, sementara Singapura naik 25 persen. Vietnam mencatat kenaikan sebesar 21 persen dan Indonesia mengalami peningkatan 7 persen. Di sisi lain, Thailand menjadi satu-satunya negara yang mencatat penurunan serangan sebesar 21 persen.

Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, mengatakan password stealer masih menjadi salah satu alat paling efektif yang digunakan pelaku kejahatan siber karena langsung menargetkan kredensial pengguna sebagai pintu masuk utama ke sistem perusahaan.

“Kaspersky melakukan analisis terhadap 193 juta kata sandi yang diretas dan menemukan bahwa 45 persen dapat diretas dalam waktu satu menit, sementara hanya 23 persen yang cukup kuat untuk menahan serangan selama lebih dari satu tahun,” ujar Adrian.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa lemahnya kredensial pengguna masih menjadi pemicu utama berbagai intrusi siber berskala besar.

Ia menambahkan, organisasi perlu mengadopsi pengelola kata sandi atau password manager yang mampu menghasilkan serta menyimpan kredensial secara acak dan aman. Selain itu, perusahaan juga disarankan menerapkan kebijakan keamanan tambahan seperti autentikasi multi-faktor, audit kredensial secara berkala, hingga pembatasan hak akses pengguna.

“Memberikan pelatihan kepada karyawan dan membangun budaya keamanan siber di lingkungan perusahaan juga menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko serangan,” tambahnya.

SHARE:

Menjajal Kecanggihan Mesin Cuci Front Load MODENA InstaClean 15' di Lapangan Padel

BYD Resmi Luncurkan M6 Cross PHEV dengan Teknologi DM di Indonesia