Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Senator AS Desak ByteDance Tutup Seedance 2.0, Tuduh Langgar Hak Cipta
SHARE:

Technologue.id - Dua senator Amerika Serikat mendesak ByteDance untuk segera menutup aplikasi AI Seedance 2.0. Mereka menilai aplikasi pembuat video itu sebagai pelanggaran hak cipta paling mencolok.

Desakan itu disampaikan lewat surat kepada CEO ByteDance, Liang Rubo. Surat tersebut pertama kali diperoleh oleh CNBC dan ditandatangani oleh Marsha Blackburn dan Peter Welch.

Keduanya menyebut Seedance 2.0 mengizinkan pengguna membuat video AI menggunakan wajah orang sungguhan. Karakter berlisensi juga dapat direplikasi tanpa izin pemegang hak.

"Ini adalah contoh paling jelas dari pelanggaran hak cipta," tulis senator dalam suratnya. Mereka mendesak ByteDance untuk segera menutup Seedance.

Safeguard yang berarti juga harus diterapkan. Tujuannya untuk mencegah keluaran yang melanggar hak cipta di masa depan.

Surat ini menjadi tanda kekhawatiran yang tumbuh di Capitol Hill. Mereka mempertanyakan cara perusahaan AI mengembangkan modelnya.

Perlindungan yang tepat bagi pemilik materi pelatihan AI juga dipertanyakan. "Perusahaan global yang bertanggung jawab menghormati hak kekayaan intelektual," tulis mereka.

Blackburn dan Welch menyebut contoh kreasi dari Seedance 2.0. Video yang menampilkan aktor Tom Cruise dan Brad Pitt dibuat setelah platform diluncurkan 12 Februari.

Karakter dari serial Netflix "Stranger Things" juga muncul dalam video AI. Hal ini memicu protes keras dari berbagai pihak terkait.

Menanggapi hal ini, juru bicara ByteDance memberikan pernyataan resmi. Mereka menyatakan perusahaan menghormati hak kekayaan intelektual.

"Kami telah mendengar kekhawatiran mengenai Seedance 2.0," kata juru bicara itu. Langkah untuk memperkuat safeguard sedang diambil.

Upaya pencegahan penggunaan IP dan likeness tanpa izin juga sedang dikerjakan. Pernyataan ini disampaikan kepada CNBC.

Kekhawatiran tidak hanya datang dari kalangan legislator. Kelompok industri Hollywood juga mengambil tindakan tegas.

Motion Picture Association telah mengirim surat cease-and-desist ke ByteDance. Tekanan hukum semakin membayangi perusahaan teknologi asal Tiongkok itu.

Menurut laporan The Information, ByteDance telah menunda peluncuran global Seedance 2.0. Penundaan dilakukan untuk menyelesaikan komplikasi hukum yang ada.

Isu hak cipta di dunia AI memang sedang memanas. Beberapa media besar telah mengajukan gugatan serupa.

Perusahaan penyedia gambar seperti Getty Images juga menggugat pengembang sistem AI. Ensiklopedia Britannica pun mengambil langkah hukum.

Mereka menggugat OpenAI terkait hak cipta dan merek dagang. Kasus-kasus ini menunjukkan persoalan kompleks di era AI.

Di sisi lain, Kongres AS masih mengambil pendekatan hands-off terhadap regulasi AI. Mereka enggan membuat pagar pembatas yang terlalu ketat.

Kekhawatiran utama adalah membatasi kemampuan perusahaan AS untuk berinovasi. Mereka ingin tetap unggul dari pesaing asing.

Beberapa anggota kongres mengakui industri AI bergerak sangat cepat. RUU yang dipertimbangkan beberapa tahun lalu sudah dianggap ketinggalan zaman.

Kemajuan seperti agentic AI tidak akan tercakup dengan aturan usang. Namun, senator seperti Blackburn dan Welch tetap memperkenalkan RUU target.

Pada Agustus lalu, keduanya meluncurkan RUU untuk membantu seniman. RUU itu melindungi karya berhak cipta dari penggunaan pelatihan AI.

Teknologi AI memang membawa manfaat besar, namun tantangan etika dan hukumnya nyata. Insiden lain seperti kecelakaan robotaxi Waymo mengingatkan akan risikonya.

Desakan penutupan Seedance 2.0 menjadi babak baru dalam pengawasan teknologi. Keseimbangan antara inovasi dan perlindungan hak masih terus dicari.

SHARE:

Meta Hentikan Horizon Worlds di VR Mulai Juni 2026

FIFA Gandeng YouTube untuk Gelar Streaming Sepanjang Piala Dunia 2026