Technologue.id, Jakarta – Rumor mengenai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di divisi game Microsoft kembali mengemuka. Menjelang berakhirnya tahun fiskal perusahaan, sejumlah laporan menyebut Xbox tengah mempersiapkan restrukturisasi yang berpotensi berdampak pada ribuan pekerja di berbagai studio game di bawah naungannya.
Laporan yang pertama kali diungkap Bloomberg menyebutkan bahwa Microsoft berencana melakukan PHK signifikan pada Juli 2026. Kabar tersebut muncul setelah CEO Xbox, Asha Sharma, dan Chief Content Officer Xbox, Matt Booty, mengeluarkan memo internal pada awal Juni yang menyoroti tantangan bisnis yang dihadapi unit game perusahaan.
Dalam memo tersebut, keduanya menilai biaya operasional Xbox telah meningkat tajam seiring perubahan strategi bisnis dan investasi besar yang dilakukan perusahaan selama beberapa tahun terakhir. Mereka mencatat bahwa Microsoft telah menggelontorkan lebih dari 89 miliar dolar AS untuk akuisisi, investasi, dan dukungan studio dalam lima tahun terakhir, termasuk pembelian Activision Blizzard King senilai 69 miliar dolar AS pada 2023.
Meski investasi terus bertambah, pendapatan tahunan segmen game disebut mengalami penurunan hampir setengah miliar dolar AS. "Ke depannya, ini tidak bisa terus berlanjut," tulis Sharma dan Booty dalam memo yang oleh banyak pihak dianggap sebagai sinyal awal restrukturisasi besar-besaran.
Tak lama setelah laporan tersebut muncul, beredar pula kabar bahwa Xbox berencana menutup atau melepas beberapa studio, termasuk Double Fine, Ninja Theory, dan Compulsion Games. Hingga kini Microsoft belum memberikan konfirmasi resmi terkait rumor tersebut.
Di tengah ketidakpastian itu, Serikat Pekerja Komunikasi Amerika (Communications Workers of America/CWA) menyuarakan kekhawatiran para pekerja industri game. Dalam konferensi pers yang digelar pada 29 Juni, CWA menegaskan bahwa karyawan tidak boleh menjadi korban dari keputusan bisnis perusahaan.
"Kami di sini untuk mengatakan dengan jelas bahwa para pekerja tidak akan diperlakukan sebagai barang sekali pakai," ujar Wakil Presiden Distrik 9 CWA, Frank Arace.
Menurut Arace, sumber daya finansial untuk mempertahankan tim Xbox sebenarnya masih tersedia. Ia menilai perusahaan lebih memilih mengalihkan dana ke prioritas lain tanpa mempertimbangkan dampak sosial maupun kreatif dari PHK massal.
Pandangan serupa disampaikan Bendahara UVW-CWA, Sherveen Uduwana. Ia menyoroti bahwa Microsoft baru saja menaikkan harga konsol Xbox untuk ketiga kalinya dalam tahun ini, sementara CEO Microsoft, Satya Nadella, dilaporkan menerima kompensasi mencapai 96 juta dolar AS pada 2025.
"Tidak ada kekurangan kekayaan di industri game, terutama jika berbicara tentang Xbox, Sony, maupun EA," kata Uduwana. Menurutnya, perusahaan-perusahaan bernilai miliaran dolar tersebut memiliki kemampuan untuk memberikan perlindungan yang lebih baik kepada para pengembang.
CWA saat ini mewakili sekitar 3.500 pekerja di industri video game dan terus mengalami pertumbuhan anggota. Salah satu pencapaian terbesarnya terjadi pada 2023 ketika sekitar 300 pekerja quality assurance (QA) di ZeniMax Online memilih membentuk serikat pekerja. Kesepakatan kerja mereka dengan Microsoft yang diratifikasi pada Juni 2025 mencakup ketentuan upah minimum, mekanisme kenaikan gaji, serta perlindungan terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Namun, menurut serikat pekerja, masih banyak persoalan yang belum terselesaikan, terutama terkait prosedur PHK dan penutupan studio. Sejumlah karyawan Xbox yang tergabung dalam CWA mengaku menghadapi ketidakpastian berkepanjangan akibat ancaman pemangkasan tenaga kerja.
Desainer Elder Scrolls Online, Morgan Goin, mengungkapkan bahwa dirinya kehilangan berbagai tunjangan yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun setelah Microsoft menutup Arkane Austin secara mendadak. Ia menilai perusahaan kerap membatalkan proyek dan mengguncang operasional studio tanpa pemberitahuan yang memadai.
Sementara itu, editor cerita Blizzard, Alison Veneto, mengatakan setiap gelombang PHK tidak hanya menghilangkan talenta-talenta terbaik, tetapi juga menghapus pengetahuan institusional yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
"Sulit untuk tetap kreatif ketika ancaman PHK terus menghantui dan tidak ada aturan yang jelas mengenai bagaimana proses itu dilakukan," ujarnya.
Veneto mendesak Microsoft untuk bekerja sama dengan serikat pekerja dan menerapkan perlindungan yang lebih kuat bagi karyawan yang terdampak restrukturisasi.
Keluhan lain yang disampaikan CWA adalah minimnya keterlibatan Microsoft dalam proses negosiasi dengan serikat pekerja. Menurut mereka, sejumlah proposal perlindungan pekerja kerap tertunda selama berbulan-bulan tanpa respons yang memadai dari manajemen.