Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Raditya Dika Jadi Brand Ambassador usmile, Soroti Kesehatan Gigi
SHARE:

Jakarta, Technologue.id – Raditya Dika resmi diperkenalkan sebagai brand ambassador usmile di Indonesia dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Jumat (23/10/2026). Langkah ini menjadi cara brand perawatan gigi dan mulut tersebut mendekatkan inovasi produknya ke keseharian masyarakat. Kolaborasi ini juga menyoroti kebiasaan sederhana yang sering terlewat, seperti menyikat gigi dengan benar dan membersihkan sela gigi.

Selama ini, ngopi sambil kerja, minum teh saat santai, atau mengobrol berjam-jam bareng teman sudah jadi bagian rutinitas banyak anak muda. Namun, perawatan gigi dan mulut kerap baru diperhatikan ketika masalah muncul, seperti bau mulut, noda pada gigi, atau gusi berdarah. Padahal, menjaga kesehatan gigi bukan sekadar soal senyum yang terlihat putih saat difoto.

Kebersihan gusi dan sela gigi juga perlu mendapat perhatian agar perawatan mulut tidak berhenti pada penampilan semata. Topik inilah yang diangkat usmile melalui kolaborasi dengan Raditya Dika. Raditya dikenal sebagai penulis, komedian, dan konten kreator yang kerap mengangkat cerita kehidupan sehari-hari dengan gaya komunikasi ringan.

Karakter komunikasinya yang santai diharapkan membantu masyarakat memahami informasi perawatan gigi tanpa merasa sedang membaca penjelasan yang rumit. Pendekatan ini dinilai penting karena edukasi kesehatan mulut sering dianggap membosankan. Dengan gaya yang akrab, pesan tentang kebiasaan merawat gigi bisa lebih mudah diterima.

Raditya Dika Tertarik dengan Sains di Balik Produk

Bagi Raditya, ketertarikannya terhadap usmile bermula dari percakapan di podcast bersama Prof. Liu, Chief R&D Scientist usmile. Dari obrolan tersebut, ia mendapat kesempatan bertanya langsung mengenai riset dan proses pengembangan produk. Pengalaman itu membuatnya melihat sisi lain dari produk perawatan gigi yang biasanya hanya dipakai sehari-hari.

“Saya pertama kali mengenal usmile melalui obrolan di podcast bersama Prof. Liu, Chief R&D Scientist, usmile. Di sana, saya bisa bertanya langsung tentang riset di balik produknya dan memahami bagaimana setiap produk dikembangkan untuk kebutuhan yang berbeda,” ujar Raditya.

Ia mengatakan kesempatan menjadi brand ambassador menjadi ruang untuk melanjutkan percakapan mengenai perawatan gigi. Lewat peran ini, ia ingin mengenalkan sains di balik produk dengan cara yang lebih santai. Kolaborasi ini sekaligus menyoroti bagaimana kebiasaan sederhana dapat menjadi bagian dari rutinitas perawatan diri sehari-hari.

Michelle, Country Director usmile Indonesia dan Malaysia, mengatakan Raditya dipilih karena mampu membawakan berbagai topik dengan cara yang dekat dengan keseharian dan mudah dipahami. Melalui kolaborasi tersebut, usmile berharap masyarakat lebih memahami fungsi produk perawatan gigi. Harapannya, konsumen dapat memilih produk sesuai kebutuhan masing-masing.

Bukan Cuma Gigi Putih, Gusi dan Sela Gigi Juga Perlu Diperhatikan

Keinginan memiliki gigi yang terlihat putih dan napas segar memang bisa menjadi alasan seseorang mulai memperhatikan kebersihan mulut. Namun, kesehatan gigi tidak hanya ditentukan oleh tampilan luarnya. Dalam konferensi pers tersebut, dokter gigi drg. Zahrah Almira atau drg. Rara mengingatkan pentingnya membersihkan area di sepanjang garis gusi dan sela gigi yang kerap luput dari perhatian.

“Biasanya orang mulai memperhatikan perawatan gigi karena ingin napas lebih segar atau gigi terlihat lebih putih. Itu bisa menjadi awal yang baik, tetapi kebersihan di sepanjang garis gusi dan sela gigi juga perlu diperhatikan,” jelas drg. Rara.

Ia menjelaskan bahwa plak merupakan lapisan biofilm yang mengandung bakteri. Jika tidak dibersihkan secara memadai, penumpukan plak dapat berkontribusi terhadap masalah gigi dan gusi. Karena itu, perawatan mulut sebaiknya tidak berhenti pada upaya memutihkan gigi saja. Kebersihan menyeluruh tetap menjadi kunci utama.

Data yang disampaikan Kementerian Kesehatan RI pada Juni 2025 juga menyoroti persoalan kesehatan gusi. Dalam publikasi tersebut, disebutkan bahwa 12,4% peserta Program Cek Kesehatan Gratis mengalami masalah gusi. Angka itu muncul ketika program telah menjangkau hampir sembilan juta penduduk. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa perawatan mulut perlu mencakup kesehatan gusi, bukan hanya mengejar warna gigi yang lebih cerah.

Cara Merawat Gigi yang Bisa Dimulai dari Rumah

Menurut drg. Rara, perawatan dasar dapat dimulai dengan menyikat gigi dua kali sehari selama dua menit menggunakan pasta gigi berfluorida. Membersihkan sela gigi setiap hari juga menjadi bagian dari kebersihan mulut yang perlu diperhatikan. Kebiasaan ini sederhana, tetapi berdampak besar bila dilakukan secara konsisten.

Saat menyikat gigi, gunakan tekanan lembut dan pastikan seluruh permukaan gigi terjangkau. Area tersebut mencakup bagian dalam, luar, permukaan kunyah, serta gigi belakang. Pemilihan produk pun sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pengguna. Noda akibat kopi dan teh, warna alami gigi, bau mulut, serta kondisi enamel tidak selalu memiliki penyebab dan pendekatan perawatan yang sama.

“Noda pada permukaan gigi, warna alami gigi, bau mulut, dan kondisi enamel punya penyebab serta cara perawatan yang berbeda. Jadi, penting untuk tahu apa yang ingin kita rawat dan apa fungsi produk yang dipilih,” kata drg. Rara.

Ia juga menyarankan masyarakat memeriksakan diri ke dokter gigi apabila mengalami gusi yang sering berdarah, pembengkakan, atau bau mulut yang terus muncul. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan perawatan yang tepat. Langkah ini penting agar masalah tidak berkembang lebih jauh.

Ada Pasta Gigi hingga Sikat Gigi Elektrik

Dalam kesempatan tersebut, usmile memperkenalkan sejumlah pilihan produk untuk kebutuhan perawatan gigi dan mulut sehari-hari. Rangkaian pasta giginya mencakup Fresh White yang berfokus pada kesegaran mulut dan perawatan noda sehari-hari. Ada pula Repair White yang menggabungkan perawatan noda dengan fokus pada enamel.

Selain itu, tersedia Optical White yang menggunakan koreksi warna optik agar gigi tampak lebih putih. Ada juga Strength White yang ditujukan untuk perawatan noda permukaan akibat kopi dan teh. Perbedaan fungsi ini menunjukkan bahwa pemilihan produk sebaiknya tidak dilakukan sembarangan. Pengguna perlu menyesuaikannya dengan kondisi gigi masing-masing.

usmile juga menghadirkan sikat gigi elektrik Y1S dengan teknologi sonik, tiga mode penggunaan, dan pengingat menyikat gigi selama dua menit. Untuk membersihkan sela gigi, tersedia C10 yang menggunakan aliran air terarah. Sementara itu, sikat gigi elektrik anak Q10 dilengkapi Smart Ring sebagai panduan empat zona penyikatan, pengingat setiap 30 detik, dan timer dua menit.

Fitur dan manfaat setiap produk berbeda, sehingga pengguna tetap perlu membaca petunjuk penggunaan dan memilih sesuai kondisi gigi serta gusi. Khusus produk yang menawarkan efek pemutihan, hasilnya juga bergantung pada jenis noda dan mekanisme produk. Koreksi warna optik tidak sama dengan proses bleaching.

Pada akhirnya, perawatan gigi bukan hanya tentang mendapatkan senyum yang terlihat menarik di depan kamera. Kebiasaan membersihkan gigi dengan benar, memperhatikan kesehatan gusi, serta memeriksakan masalah yang muncul tetap menjadi dasar penting dalam menjaga kesehatan mulut. Edukasi lewat sosok yang dekat dengan keseharian diharapkan membuat pesan ini lebih mudah diterima masyarakat luas.

SHARE: