Technologue.id, Jakarta - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas pasca serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran serius mengenai potensi penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa jalur strategis tersebut telah ditutup total menyusul serangan yang terjadi pada dini hari tanggal 28 Februari. Kapal-kapal komersial yang beroperasi di sekitar selat menerima peringatan radio VHF dari Garda Revolusi Iran yang melarang pelintas.
Eskalasi semakin nyata ketika otoritas Oman mengonfirmasi adanya serangan terhadap sebuah kapal tanker minyak di lepas pelabuhan Khasab pada hari Minggu. Insiden keamanan ini mempertegas risiko tinggi bagi pelayaran internasional, meskipun belum jelas pihak mana yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Data dari Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan bahwa sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat ini setiap harinya sepanjang tahun 2024. Volume tersebut setara dengan seperlima dari total konsumsi minyak global, menjadikan selat ini titik nadir bagi stabilitas energi dunia.
Selain minyak mentah, jalur ini juga menopang sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair (LNG) dunia yang menghubungkan Teluk ke lautan lepas. Gangguan pada rute ini akan serta-merta menghapus porsi signifikan pasokan energi dari pasar global, yang berpotensi mengganggu stabilitas Koneksi Digital ekonomi antarnegara.
Baca Juga:
Pusat pemantauan maritim Inggris menyatakan bahwa penutupan sepihak melalui pesan radio tidak memiliki kekuatan hukum di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pasar bereaksi jauh lebih cepat terhadap sinyal risiko daripada legalitas formal.
Data S&P Global Commodity Insights mencatat penurunan lalu lintas kapal hingga 50 persen hanya dalam beberapa jam setelah ketegangan meningkat. Banyak kapal memilih untuk segera meninggalkan area tersebut, sementara kapal yang baru datang menunda perjalanan demi menghindari risiko keamanan.
Analis S&P Global CERA memperingatkan bahwa risiko di Hormuz bukan hanya soal penutupan fisik, melainkan juga produktivitas armada pengangkut. "Jika Iran meningkatkan eskalasi dengan menyita tanker atau menggunakan drone, waktu tempuh dan biaya ekspor minyak Timur Tengah akan meningkat," ungkap para analis tersebut.
Perusahaan pelayaran besar kini mulai menghindari rute Selat Hormuz dan memperkirakan adanya penundaan serta penjadwalan ulang pengiriman secara masif. Situasi ini mirip dengan upaya mitigasi risiko siber seperti Serangan DDoS yang membutuhkan respons cepat sebelum kerusakan meluas.
Dampak Ekonomi dan KonsumenArab Saudi dan UEA memang memiliki jalur pipa alternatif, namun kapasitasnya tidak cukup untuk menampung seluruh aliran minyak dari Teluk. Negara lain seperti Irak, Kuwait, dan Qatar bahkan tidak memiliki opsi cadangan yang berarti jika selat ini benar-benar tertutup total.
Qatar sebagai eksportir LNG terbesar di dunia sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk mengirimkan bahan bakar super dingin tersebut ke pasar global. Jika blokade terjadi, negara-negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan bisa kehilangan pasokan listrik utama mereka dalam hitungan hari.
Pemodelan historis menunjukkan bahwa hilangnya pasokan dari Teluk secara tiba-tiba akan melambungkan harga minyak dunia dengan sangat cepat dan tajam. Dampaknya akan langsung dirasakan konsumen melalui kenaikan harga bensin, tiket pesawat, hingga biaya logistik barang yang menggerus daya beli.
Pasar keuangan global biasanya bereaksi mendahului kejadian fisik, dengan harga minyak berjangka yang melonjak dan mata uang eksportir energi menguat. Meskipun dunia menantikan inovasi masa depan seperti Desain Futuristik teknologi energi, ketergantungan pada minyak fosil saat ini masih sangat tinggi.
Dampak penutupan ini juga akan memukul keuangan negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada pendapatan minyak untuk membiayai pengeluaran publik. Fasilitas penyimpanan akan penuh dengan cepat, memaksa produsen memangkas output dan kehilangan pendapatan negara yang krusial.