Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Penipu Manfaatkan AI untuk Sisipkan Lagu Palsu ke Profil Artis di Spotify
SHARE:

Technologue.id, Jakarta – Kemajuan AI generatif kini dimanfaatkan untuk membuat lagu dalam waktu singkat. Namun, teknologi tersebut juga membuka celah baru bagi penipuan di platform streaming musik.

Laporan 404 Media yang dikutip Engadget mengungkap adanya pihak yang mengunggah lagu buatan AI ke halaman Spotify dan platform musik lainnya milik artis sungguhan. Lagu tersebut kemudian terlihat seolah-olah merupakan karya resmi dari artis yang bersangkutan.

Modus yang digunakan terbilang sederhana. Pelaku membuat lagu berkualitas rendah menggunakan layanan AI seperti Suno atau Udio. Mereka kemudian membuat sampul album dengan AI generatif dan mengunggahnya melalui layanan distribusi musik digital.

Dalam pengujian yang dilakukan 404 Media bersama band asal Brooklyn, Lathe of Heaven, layanan distribusi DistroKid digunakan untuk menguji celah tersebut. Pelaku hanya perlu mendaftarkan lagu dan mengaku sebagai artis yang sebenarnya.

Setelah proses distribusi selesai, lagu palsu tersebut dapat muncul di Spotify, Tidal, Apple Music, Amazon Music, serta sejumlah layanan streaming lainnya di bawah profil artis yang ditiru.

Masalahnya bukan hanya soal lagu palsu muncul di halaman artis. Pendapatan yang dihasilkan dari lagu tersebut juga dapat mengalir kepada pihak yang mengunggahnya, bukan kepada pemilik nama atau artis yang sebenarnya.

Selain berpotensi menyebabkan kerugian finansial, praktik ini juga dapat merusak reputasi musisi. Lagu berkualitas rendah yang dibuat menggunakan AI bisa membuat pendengar mengira karya tersebut memang dirilis oleh artis yang bersangkutan.

Spotify mengakui bahwa profil artis yang tidak dikelola secara aktif lebih rentan menjadi sasaran penyalahgunaan.

Artis berskala kecil disebut menjadi salah satu kelompok yang paling rentan karena mereka umumnya tidak memiliki tim khusus untuk memantau berbagai platform streaming. Bahkan, praktik serupa juga dapat menyasar musisi yang telah meninggal dunia.

Vokalis Lathe of Heaven mengatakan bahwa musik merupakan bentuk ekspresi personal bagi seorang musisi. Karena itu, munculnya karya yang dibuat orang lain lalu mengatasnamakan band mereka menjadi persoalan serius.

Celah distribusi sebenarnya bukan hal baru. Namun, kehadiran AI generatif membuat persoalan tersebut semakin besar.

Sebelum teknologi AI berkembang pesat, seseorang yang ingin membuat lagu palsu harus menghabiskan waktu untuk memproduksi musik dan menyiapkan materi pendukungnya. Kini, lagu dan sampul album dapat dibuat secara otomatis dalam waktu relatif singkat.

Grup musik Odette Child bahkan mulai memantau masalah tersebut sejak Juli dan menemukan lebih dari 300 lagu buatan AI yang menggunakan nama berbagai musisi besar, termasuk Taylor Swift, musisi jazz yang telah meninggal dunia, serta sejumlah figur lainnya.

Skala tersebut menjadi tantangan baru bagi platform streaming. Membuat satu lagu palsu dan mengunggahnya sebagai karya orang lain merupakan satu persoalan. Namun, AI memungkinkan pelaku membuat dan mendistribusikan ratusan lagu dalam satu hari.

Diperkirakan sekitar 50.000 lagu buatan AI diunggah ke Spotify setiap hari, meski angka tersebut dapat berbeda tergantung sumber dan metode penghitungan.

Spotify mengatakan sedang mengembangkan fitur yang memungkinkan musisi meninjau sebuah rilisan sebelum lagu tersebut dipublikasikan dan dikaitkan dengan profil mereka.

Fitur tersebut telah diumumkan sejak Maret, tetapi masih berada dalam tahap uji coba beta terbatas.

Spotify juga mengatakan perlindungan terhadap identitas artis menjadi salah satu prioritasnya. Platform tersebut mengaku terus mengembangkan teknologi deteksi dan pencegahan, sekaligus bekerja sama dengan perusahaan distributor untuk menghentikan konten bermasalah sejak proses pengajuan.

Selain itu, Spotify telah memperkenalkan sejumlah sistem untuk menangani konten spam. Sistem tersebut dirancang untuk mendeteksi unggahan massal, konten duplikat, manipulasi SEO, lagu berdurasi sangat pendek yang sengaja direkayasa, serta berbagai bentuk konten berkualitas rendah lainnya.

Amazon Music juga menyatakan terus meningkatkan teknologi pendeteksian dan sistem pemantauan, serta bekerja sama dengan mitra dan pemegang hak cipta untuk melindungi kepentingan artis dan penulis lagu.

SHARE:

Redmi Note 17 Pro Max Resmi, Baterai 10.000 mAh Tahan Enam Tahun

Redmi Note 17 Series Resmi Buka Pre-Order, Segini Harganya di Indonesia