Technologue.id, Jakarta – OpenAI mengumumkan peluncuran fitur baru untuk chatbot kecerdasan buatan andalannya, ChatGPT, yang diberi nama ChatGPT Health. Fitur ini dirancang untuk memungkinkan pengguna menghubungkan rekam medis serta aplikasi kesehatan pribadi mereka ke dalam ChatGPT, dengan tujuan menghasilkan respons yang lebih relevan dan kontekstual terhadap pertanyaan seputar kesehatan.
Menurut OpenAI, ChatGPT Health akan berada di dalam ruang terpisah (sandbox) dalam ekosistem ChatGPT dan dilengkapi dengan lapisan perlindungan privasi tambahan. Perusahaan menegaskan bahwa percakapan yang terjadi di ruang Health tidak akan digunakan untuk melatih model dasar mereka.
Baca Juga:
ChatGPT Terlibat Kasus Bunuh Diri, OpenAI Kena Gugat
Saat ini, ChatGPT Health masih berada dalam tahap pengujian terbatas. OpenAI juga mengakui adanya pembatasan regional, baik dari sisi ketersediaan fitur maupun jenis aplikasi kesehatan yang dapat diintegrasikan, bergantung pada regulasi dan kerja sama lokal di masing-masing negara.
Namun, OpenAI secara eksplisit menyatakan bahwa fitur ini “tidak dimaksudkan untuk diagnosis atau pengobatan.” Pernyataan tersebut penting, meski seharusnya tidak perlu diulang. Tidak ada bagian dari ChatGPT, atau chatbot AI lainnya, yang memenuhi syarat untuk memberikan nasihat medis profesional. Sistem AI diketahui masih dapat menghasilkan informasi yang keliru, menyesatkan, bahkan berpotensi berbahaya, terutama ketika berhadapan dengan konteks kesehatan yang kompleks dan bernuansa tinggi.
Selain itu, para kritikus menyoroti risiko serius dari praktik memasukkan data kesehatan pribadi dan rahasia ke dalam chatbot komersial. Terlepas dari janji perlindungan privasi, langkah ini tetap dianggap berisiko dan secara umum tidak direkomendasikan oleh banyak pakar keamanan data dan etika teknologi.
Baca Juga:
Kalah Saing, Elon Musk Gugat Apple dan OpenAI
Kekhawatiran tersebut semakin diperkuat oleh rekam jejak industri chatbot AI yang dinilai belum sepenuhnya bertanggung jawab. OpenAI sendiri sebelumnya dikritik karena dianggap baru menaruh perhatian serius pada dampak psikologis produknya setelah muncul laporan bahwa setidaknya satu remaja menggunakan chatbot untuk merencanakan bunuh diri.