Technologue.id, Jakarta - Seorang pengemudi Gojek membagikan kisahnya setelah mengaku terkena sanksi dari Gojek usai terlibat perselisihan dengan penumpang yang disebut menolak menggunakan helm saat perjalanan.
Dalam video yang beredar di media sosial, pengemudi tersebut menceritakan kejadian yang bermula ketika dirinya mendapat pesanan perjalanan dari kawasan M Plaza menuju Cipete, Jakarta Selatan.
Menurut penuturannya, persoalan muncul ketika penumpang tidak mengenakan helm yang disediakan. Pengemudi kemudian mengaku meminta penumpang menggunakan helm sebelum perjalanan dilanjutkan demi alasan keselamatan.
Dalam rekaman tersebut, pengemudi juga memperlihatkan kembali video yang disebut sebagai dokumentasi kejadian. Ia menjelaskan sempat berusaha memberikan arahan kepada penumpang agar mengenakan helm, tetapi permintaan tersebut disebut tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan.

Pengemudi kemudian memutuskan menghentikan perjalanan di tengah jalan. Dalam video, ia menyebut lokasi penghentian berada di sekitar kawasan Cipete, sebelum akhirnya penumpang turun dari sepeda motor.
Ada satu detail yang turut disampaikan pengemudi. Ia mengatakan penumpang hanya menggunakan satu tangan untuk memasang helm karena tangan lainnya digunakan untuk memegang ponsel. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat dirinya sempat mencoba membantu memasangkan helm kepada penumpang.
Namun, persoalan tidak berhenti setelah perjalanan tersebut berakhir. Pengemudi mengaku kemudian mendapatkan sanksi dari Gojek setelah penumpang melaporkan kejadian tersebut.
“Saya tidak menyangka terkena suspend dengan pelaporan tersebut. Saya datang ke kantor gojek di Kemang untuk banding dari jam 09.30 sampai 16.00 terus disuruh pulang nunggu hasil, ” kata pengemudi lewat pesan akun Instagram @ojolkelasberat kepada Technologue.id.
Sayangnya, setelah pulang dari kantor Gojek di Kemang ia malahan mendapatkan kejutan dari perusahaan aplikasi Buatan Nadiem Makarim tersebut. "Jam 18.30 di aplikasi Gojek Driver berubah notifikasinya dari suspend jadi putus mitra," kata pria bernama Ryan Andreas tersebut.

Ia kemudian mempertanyakan konsekuensi yang diterimanya karena merasa tindakan menghentikan perjalanan dilakukan setelah penumpang tidak mengikuti arahan keselamatan yang diberikan. Dalam bagian lain video, pengemudi memperlihatkan informasi mengenai pelanggaran pada akunnya dan meminta pihak Gojek melihat kembali kronologi kejadian.
Persoalan ini menarik perhatian karena memperlihatkan posisi rumit yang dapat dihadapi pengemudi transportasi online ketika aturan keselamatan bertemu dengan kenyamanan penumpang. Di satu sisi, pengemudi memiliki kepentingan menjaga perjalanan tetap aman, sementara di sisi lain setiap penghentian perjalanan berpotensi menimbulkan keluhan dari konsumen.
Kasus tersebut juga menjadi pengingat bahwa hubungan antara aplikator, mitra pengemudi, dan penumpang tidak hanya bergantung pada rating maupun penyelesaian perjalanan. Mekanisme pelaporan, pemeriksaan kronologi, serta transparansi pemberian sanksi menjadi bagian penting ketika terjadi perselisihan.
Sayangnya, belum ada keterangan resmi Gojek yang disertakan dalam video terkait alasan maupun dasar pemberian sanksi terhadap pengemudi tersebut. Ryan sendiri masih berharap akunnya bisa dipulihkan kembali karena akun Gojek miliknya jadi sumber pendapatannya.
Bagi pengemudi, satu laporan dari penumpang dapat berujung pada konsekuensi serius terhadap akses mereka ke platform. Karena itu, kasus seperti ini bukan sekadar soal siapa yang benar atau salah, tetapi juga bagaimana sistem memastikan setiap laporan diperiksa berdasarkan bukti dan kronologi dari kedua pihak.