Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Mazda Pangkas Investasi Mobil Listrik, Fokus ke Hybrid
SHARE:

Jakarta – Mazda resmi memangkas investasi elektrifikasi sebesar 20 persen menjadi JP¥1,2 triliun atau sekitar US$7,6 miliar hingga tahun 2030. Keputusan ini diumumkan dalam laporan pendapatan fiskal 2026, menandai perubahan strategi signifikan pabrikan asal Jepang tersebut.

Produsen mobil asal Hiroshima itu juga menunda peluncuran mobil listrik murni atau BEV pertama buatan sendiri hingga tahun 2029. Sebelumnya, Mazda telah memundurkan jadwal program BEV dari 2027 ke 2028 awal tahun ini.

Selain memangkas investasi, Mazda menurunkan target penjualan BEV global dari 25 persen menjadi sekitar 15 persen dari total volume pada akhir dekade ini. Angka itu setara dengan 200.000 hingga 250.000 unit kendaraan listrik per tahun.

Sebagai kompensasi, Mazda akan memperluas lini model hybrid secara agresif. Perusahaan berencana menambah model hybrid dari satu menjadi empat pada 2027, termasuk varian hybrid dari CX-5 yang didesain ulang.

Tiga model tambahan akan diluncurkan antara 2028 hingga 2030 menggunakan powertrain Skyactiv-Z empat silinder. Langkah ini menunjukkan Mazda lebih memilih jalur hybrid yang lebih aman secara finansial.

Presiden Mazda Masahiro Moro mengonfirmasi bahwa keputusan ini diambil untuk menghindari kerugian akibat penurunan nilai aset yang membebani pesaing seperti General Motors, Ford, Stellantis, dan Honda. Strategi ini dinilai lebih hati-hati di tengah ketidakpastian pasar global.

Untuk memenuhi kebutuhan BEV jangka pendek di Eropa dan Australia, Mazda akan mengandalkan model hasil kerja sama dengan mitra China, Changan. Salah satunya adalah Mazda6e yang sudah dirilis, dalam strategi yang disebut lean-asset.

Untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2027, Mazda memproyeksikan laba bersih sekitar JP¥90 miliar. Angka ini naik sekitar 160 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan pendapatan bersih naik 12 persen menjadi JP¥5,5 triliun.

Laba operasional diperkirakan hampir tiga kali lipat menjadi JP¥150 miliar. Peralihan strategi ini tidak menimbulkan kerusakan finansial berarti karena komitmen BEV Mazda sebelumnya memang sangat terbatas.

Mazda hanya menjual 14.526 unit BEV pada tahun 2025, atau 1,2 persen dari volume globalnya. Posisi sebagai pengikut sengaja dalam pengembangan teknologi nol emsi kini mulai dianggap menguntungkan.

Pendekatan multi-jalur ala Jepang melibatkan distribusi investasi yang hati-hati ke teknologi hybrid, PHEV, dan BEV. Strategi ini sebelumnya dianggap tertinggal, namun kini mulai menunjukkan relevansinya.

Toyota, pabrikan terbesar Jepang, juga konsisten dengan pendekatan multi-jalur. Perusahaan itu baru-baru ini menaikkan target penjualan hybrid dan PHEV untuk 2028 menjadi 6,7 juta unit per tahun, 30 persen lebih tinggi dari target 2026.

Data global menunjukkan permintaan BEV dan PHEV naik 6 persen pada April 2026 menjadi 1,6 juta unit. Namun, pendaftaran di Amerika Utara justru turun 28 persen setelah penghapusan kredit pajak federal sebesar US$7.500.

Penjualan hybrid di AS justru melonjak 37 persen setelah konflik Iran pada akhir Februari, didorong harga bahan bakar di atas US$4,40 per galon. Sementara itu, pendaftaran BEV di Eropa naik 27 persen pada April 2026.

Untuk Mazda, penundaan BEV hingga 2029 dan ketergantungan pada model Changan menjaga profitabilitas saat ini. Namun, strategi ini mengurangi fleksibilitas kompetitif di pasar yang paling maju dalam elektrifikasi.

Langkah Mazda mencerminkan tren lebih luas di industri otomotif global. Banyak pabrikan mulai mengevaluasi ulang strategi elektrifikasi mereka di tengah ketidakpastian permintaan dan kebijakan pemerintah.

SHARE:

Pengguna TikTok Kini Bisa Pesan Hotel dan Wisata Langsung dari Aplikasi

Meta Uji Fitur AI Mirip Grok di Threads