Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Komdigi Lacak Jejak Sinyal HP 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda
SHARE:

Jakarta, Technologue.id — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memanfaatkan jaringan operator seluler dan sistem monitoring frekuensi untuk membantu pencarian lima orang jurnalis serta tiga orang kru dan pemandu di sekitar Gunung Anak Krakatau. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan tiga operator seluler untuk memantau jaringan base transceiver station (BTS) di sekitar Selat Sunda. Pemantauan mencakup wilayah Banten maupun Lampung.

"Komdigi sendiri sudah berkoordinasi dengan operator seluler, tiga operator seluler itu sudah mendeteksi BTS yang ada di seputaran Selat Sunda, baik yang ada di Banten maupun yang ada di Lampung," ujar Wamen Nezar saat meninjau Posko SAR Gabungan di Carita, Pandeglang, Banten, Sabtu (12/09/2026).

Nezar menuturkan pemantauan juga dilakukan melalui Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio yang berada di Banten dan Lampung. Infrastruktur tersebut digunakan untuk melakukan pengecekan apabila terdapat sinyal komunikasi yang tertangkap dari wilayah pencarian.

"Melalui balai monitoring frekuensi yang ada di Banten dan Lampung, kita terus melakukan pengecekan kalau ada sinyal-sinyal yang tertangkap," katanya.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memanfaatkan jaringan operator seluler dan sistem monitoring frekuensi untuk membantu pencarian lima orang jurnalis dan tiga orang kru/pemandu di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Lebih lanjut, Wamenkomdigi Nezar menjelaskan informasi dari operator seluler mengenai aktivitas jaringan telah diteruskan kepada tim SAR untuk diproses. Data tersebut menjadi salah satu bahan dalam upaya menentukan lokasi terakhir keberadaan delapan warga tersebut.

Ia menyebut data yang diterima tim menunjukkan kontak terakhir pada 7 September 2026 berada di Pulau Sebesi, salah satu gugus pulau terdekat dari Gunung Anak Krakatau.

"Dari operator seluler kita sudah mendapatkan informasi dan informasi itu sudah diteruskan kepada SAR dan sudah diproses berupa kontak terakhir di Pulau Sebesi," ucapnya.

Pemantauan jejak komunikasi tersebut dilakukan setelah Kemkomdigi menerima informasi mengenai hilangnya kontak dengan rombongan yang terdiri atas lima jurnalis, dua anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu. Kelompok tersebut diketahui berada di perairan Selat Sunda dalam rangka menjalankan tugas jurnalistik untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Nezar Patria turut memantau proses pencarian pada Sabtu (12/09/2026) yang merupakan hari kelima pencarian. Menurutnya, penelusuran terus diperluas. Berdasarkan pembaruan dari tim SAR Banten yang didampingi TNI Angkatan Laut dan Polairud, sebanyak 14 kapal serta satu helikopter dikerahkan untuk menyisir sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi keberadaan korban.

Nezar menegaskan Komdigi akan terus mendukung proses pencarian melalui kapasitas infrastruktur dan pemantauan spektrum frekuensi yang dimiliki kementerian. Dukungan tersebut sekaligus disertai koordinasi dengan operator seluler serta tim SAR.

"Kita terus memantau, terus mencari dan sama-sama kita berdoa. Kami minta seluruh rakyat Indonesia juga mendoakan agar proses pencarian ini kita semua diberikan kekuatan dan kita bisa menemukan delapan warga kita yang sekarang berada di perairan Selat Sunda," tuturnya.

Selain mendukung pencarian, Komdigi juga melakukan pemantauan terhadap informasi yang beredar di ruang digital. Langkah ini menyusul munculnya berbagai kabar yang belum terverifikasi mengenai insiden tersebut.

Wamenkomdigi mengimbau masyarakat untuk melakukan verifikasi terhadap informasi yang beredar. Ia juga meminta publik menjadikan informasi resmi dari tim yang terlibat langsung dalam operasi pencarian sebagai rujukan utama.

Imbauan tersebut sejalan dengan pentingnya literasi digital di tengah derasnya arus informasi. Masyarakat dapat mempelajari langkah pengecekan fakta melalui panduan Tips Verifikasi Informasi yang menekankan pentingnya memastikan sumber sebelum menyebarkan kabar. Dengan begitu, informasi yang beredar tidak menambah kebingungan di tengah operasi pencarian yang sedang berlangsung.

Pemanfaatan jejak sinyal seluler untuk keperluan pencarian dan pelacakan memang bukan hal baru dalam industri telekomunikasi. Teknologi serupa juga pernah menjadi sorotan dalam kasus Eksploitasi Jaringan 2G yang menunjukkan bagaimana data jaringan dapat digunakan untuk memantau pergerakan pengguna.

Hal ini menegaskan bahwa infrastruktur telekomunikasi memiliki peran ganda, baik untuk layanan publik maupun kebutuhan operasional tertentu.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu memahami keterbatasan teknologi pelacakan. Tidak semua perangkat dapat dilacak ketika dalam kondisi tertentu, sebagaimana dijelaskan dalam ulasan mengenai Perubahan Timeline platform digital yang turut memengaruhi pola penyebaran informasi. Pemahaman ini penting agar publik tidak menaruh harapan berlebihan pada satu metode pelacakan saja.

Hingga berita ini diturunkan, upaya pencarian delapan warga di perairan Selat Sunda masih terus berlanjut. Komdigi memastikan akan terus memantau perkembangan melalui kapasitas infrastruktur yang dimiliki. Koordinasi dengan operator seluler dan tim SAR juga akan terus dilakukan demi mendukung proses evakuasi.

SHARE:

Nintendo Switch 2 Dapat Update 23.0.0, VRR Aktif di Mode Dock

XLSMART Bangun Kabel Laut CANDLE 8.000 Km, Indonesia Makin Terhubung