Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Kloning Diri Bryan Johnson: Kontroversi Sains atau Strategi Publisitas?
SHARE:

Jakarta – Dunia teknologi kembali digemparkan oleh klaim kontroversial miliarder asal Amerika Serikat, Bryan Johnson. Pria berusia 48 tahun yang dikenal dengan eksperimen anti-penuaan ekstremnya ini baru-baru ini mengumumkan bahwa ia berhasil 'mengkloning' dirinya sendiri menjadi seorang bayi.

Pengumuman mengejutkan tersebut disampaikan Johnson melalui akun media sosial X pada 22 Juli 2026. Ia menulis bahwa proses kloning telah menghasilkan seorang bayi yang ia juluki "Bayi Bryan" yang saat ini hidup di dalam cawan petri di laboratoriumnya.

"Saya baru saja mengkloning diri saya sendiri... menjadi seorang bayi baru lahir," tulis Johnson, seperti dilansir oleh International Business Times (IBT). Klaim ini langsung menuai reaksi beragam dari publik dan para ilmuwan di seluruh dunia.

Bryan Johnson menjelaskan bahwa proyek ini bukanlah sekadar eksperimen biasa. Ia memiliki visi besar untuk memanfaatkan 'kloningan' tersebut sebagai sarana pengembangan ilmu kedokteran regeneratif di masa depan.

"Dengan kloning ini, saya bisa menciptakan 'anak kandung' dari darah daging saya sendiri, menguji berbagai terapi padanya, menumbuhkan organ untuk transplantasi, mengembangkan metode pengobatan baru, hingga menyuntikkan sel-sel muda," jelasnya dalam unggahan tersebut.

Unggahan Johnson langsung menjadi viral dan telah ditonton lebih dari 840.000 kali. Hal ini memicu perdebatan sengit tentang apakah eksperimen terbaru Johnson merupakan sebuah lompatan sains masa depan atau sekadar strategi cari perhatian di media sosial.

Hingga saat ini, Johnson belum merilis rincian teknis, data medis, maupun bukti otentik yang telah diverifikasi oleh lembaga independen. Hal ini membuat banyak pihak meragukan kebenaran dari klaim kontroversial tersebut.

Meskipun istilah 'kloning' yang digunakan Johnson terdengar sangat sensasional, secara ilmiah apa yang ia lakukan sebenarnya merujuk pada teknologi induced Pluripotent Stem Cells (iPSC) atau sel punca pluripoten terinduksi. Teknologi ini bukanlah 'kloning manusia' dalam artian harafiah yang menciptakan duplikat manusia utuh.

Proses iPSC dimulai dari pengambilan sampel darah Johnson. Sel-sel darah tersebut kemudian diekstraksi dan dipaparkan dengan faktor Yamanaka, yaitu protein khusus yang mampu memprogram ulang sel dewasa hingga kembali ke kondisi menyerupai fase embrio.

Sel iPSC ini memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel spesifik dalam tubuh manusia. Potensinya sangat luas, mulai dari sel saraf, sel jantung, hingga sel retina mata yang dapat digunakan untuk terapi regeneratif.

Johnson menggambarkan eksperimen ini sebagai pijakan awal untuk meregenerasi organ tubuhnya "bagian demi bagian". Ia meyakini bahwa sel-sel ini kelak dapat membantu memulihkan penglihatan, pendengaran, hingga memperbaiki fungsi organ vital lainnya.

Kendati teknologi iPSC sedang diteliti secara masif oleh para ilmuwan dunia, para pakar mengingatkan bahwa menumbuhkan organ tubuh manusia yang utuh dan berfungsi sempurna masih menjadi tantangan besar. Dunia kedokteran regeneratif belum sepenuhnya mampu memecahkan misteri ini.

Klaim 'kloning diri' ini mencuat hanya beberapa pekan setelah Johnson mengungkapkan bahwa ia didiagnosis mengidap autoimmune gastritis (radang lambung autoimun). Penyakit kronis ini menyebabkan sistem kekebalan tubuhnya justru menyerang sel-sel di dinding lambung.

Johnson menggambarkan kondisi medisnya dengan kalimat dramatis: "Lambung saya sedang memakan dirinya sendiri." Penyakit ini dapat mengganggu penyerapan zat besi dan vitamin B12, serta meningkatkan risiko kanker lambung jika tidak ditangani dengan baik.

Alih-alih menyerah pada penyakitnya, Johnson justru terinspirasi untuk mengeksplorasi cara-cara baru dalam memperbaiki jaringan tubuh yang rusak menggunakan selnya sendiri. Diagnosis penyakit tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan kesehatannya.

Unggahan Johnson menuai pro dan kontra di kalangan netizen. Seorang pengguna media sosial menyindir: "Bryan Johnson adalah contoh nyata apa yang terjadi jika Anda memberikan terlalu banyak uang kepada seorang pria yang sangat takut mati."

Di sisi lain, ada pula yang membela eksperimen tersebut. Mereka berargumen bahwa terobosan besar dalam dunia medis seringkali berawal dari gagasan-gagasan yang tidak lazim dan dianggap gila pada awalnya.

Gelombang kritik dan skeptisisme ini bukanlah hal baru bagi Bryan Johnson. Ia telah bertahun-tahun melakukan berbagai eksperimen ekstrem, mulai dari diet super ketat hingga terapi transfusi plasma darah dengan biaya fantastis.

Johnson sendiri mengakui bahwa tidak semua eksperimennya berhasil. Ia pernah menyesali keputusan menyuntikkan hormon pertumbuhan manusia setelah mengalami lonjakan tekanan intrakranial dan gangguan kadar gula darah sebagai efek sampingnya.

Kontroversi ini mengingatkan kita pada fenomena kloning robot yang sebelumnya pernah menggemparkan publik. Teknologi kloning dalam berbagai bentuknya terus menjadi topik hangat yang memicu perdebatan etis dan ilmiah.

Isu serupa juga pernah mencuat ketika kloning tanpa izin dilakukan oleh startup AI terhadap selebriti. Kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa batasan etika dalam teknologi kloning masih sangat abu-abu.

Ke depannya, publik masih menanti bukti konkret dari klaim Bryan Johnson. Tanpa verifikasi dari lembaga independen, eksperimen ini hanya akan menjadi kontroversi tanpa dasar ilmiah yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

SHARE:

27 Raksasa Teknologi Bentuk Open Secure AI Alliance

Oppo Konfirmasi HP Baterai 10.000 mAh