Genzone.id - Dalam sorotan rekor produksi otomotif China, Ketua Great Wall Motor (GWM) Wei Jianjun mengingatkan industri dalam negeri. Ia menyebut masih ada kesenjangan besar dengan produsen global terkemuka.
Pernyataan ini disampaikan dalam rapat tahunan perusahaan baru-baru ini. Wei menilai pengalaman manufaktur dan kedalaman teknologi pesaing global masih unggul.
Ia secara khusus menyebut pabrikan dari Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan AS. Kekuatan mereka dianggap sebagai legacy yang sulit ditandingi dalam waktu singkat.
Wei mencontohkan pendekatan Toyota dalam menangani masalah kualitas. "Toyota tidak pernah berhenti mengeluarkan recall, besar maupun kecil," ujarnya.
Menurutnya, konsumen tetap menghargai tinggi merek tersebut. Alasannya, Toyota selalu bertanggung jawab dan proaktif memperbaiki masalah.
Peringatan ini muncul di saat industri otomotif China merayakan prestasi. Produksi dan penjualan mencapai 34,4 juta unit kendaraan pada tahun 2025.
Angka tersebut mencatatkan tahun ke-17 China sebagai pasar mobil terbesar dunia. Namun, di balik kesuksesan itu, tantangan internal mengemuka.
Wei juga mengkritik perang harga yang terjadi di pasar domestik. Diskon besar-besaran disebutnya sebagai "bunuh diri lambat".
Ia berargumen bahwa kualitas berkelanjutan sulit dipertahankan. Terutama dengan pemotongan harga hingga CN¥100,000 atau US$13,800 per kendaraan.
Masalah lain adalah kelebihan kapasitas produksi yang hampir kritis. Kapasitas produksi nasional mencapai 48 juta unit pada 2024.
Sementara itu, permintaan domestik hanya sekitar 25 juta unit. Tingkat utilisasi pabrik pun jauh di bawah level yang sehat.
Kekhawatiran ini membuat Geely menghentikan pembangunan fasilitas manufaktur baru. Namun, perusahaan tetap aktif mencari peluang ekspansi di luar negeri.
Beredar rumor Geely menjadi salah satu dari tiga penawar utama. Mereka bersama BYD dan VinFast berusaha membeli bekas pabrik Nissan-Mercedes di Meksiko.
Baca Juga:
BYD sendiri tidak berencana memperlambat ekspansi manufaktur globalnya. Dua pabrik baru di Eropa hampir diluncurkan dan satu lagi di Brasil telah beroperasi.
GWM juga disebut-sebut sebagai penawar pesaing untuk akuisisi pabrik tersebut. Hal ini menambah tekanan pada rencana ekspansi luar negeri perusahaan lokal.
Wei menilai merek China masih berada pada tahap awal di kancah global. Ketergantungan pada daya saing harga dinilai terlalu besar.
Membangun nilai merek yang tahan lama dinilai masih kurang. Ia memberi nilai kemajuan internasional industri hanya tiga dari sepuluh.
Strategi ekspor berbasis harga juga semakin rapuh. Pembatasan AS terhadap material baterai dan tarif Uni Eropa menjadi ancaman serius.
Namun, tidak semua berita buruk untuk otomotif China. Industri telah mencapai kendali independen atas 'tiga kelistrikan'.
Itu mencakup motor, baterai, dan sistem kontrol elektronik. Rantai pasok kendaraan energi baru (NEV) China dianggap paling maju dan komprehensif di dunia.
Dalam metrik tersebut, terutama material baterai, China mendominasi pesaing globalnya. Mobil listrik terus menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Wei menyoroti defisit yang masih akut di margin keuntungan dan ekuitas merek. Ketahanan bisnis individu juga menjadi perhatian utama.
Beberapa produsen mobil China mencatatkan volume penjualan yang tumbuh cepat. Namun, mereka justru mencatatkan kerugian yang melebar.
Keberlangsungannya bergantung pada suntikan modal, bukan kelayakan komersial aktual. Wei memperingatkan konsekuensi jika suntikan modal itu berhenti.
Kendaraan bisa terhenti di tengah proses produksi. Risiko ini akan merugikan konsumen dan merusak kepercayaan pada industri secara luas.
Terlepas dari kritik terhadap diri sendiri, GWM tetap menjadi salah satu produsen otomotif terbesar. Perusahaan juga termasuk yang paling menguntungkan tanpa dukungan negara.
GWM melaporkan penjualan global 1,32 juta kendaraan pada 2025. Dari jumlah itu, 506.100 unit merupakan pengiriman ke luar negeri.
Ini adalah pertama kalinya perusahaan melampaui 500.000 unit secara internasional. Pendapatan mencapai CN¥222,79 miliar atau US$30,77 miliar.
Laba bersih perusahaan tercatat sebesar CN¥9,91 miliar atau US$1,37 miliar. Kendaraan energi baru menyumbang sekitar 30% dari total pengirimannya.
Sisanya terdiri dari model bensin dan hybrid. Teknologi hybrid terus menjadi bagian penting dari portofolio.
Pencapaian ini menunjukkan potensi besar industri otomotif China. Namun, peringatan Wei mengingatkan bahwa jalan menuju keunggulan global masih panjang.
Industri perlu fokus pada kualitas, nilai merek, dan keberlanjutan bisnis. Regulasi baru juga akan terus mempengaruhi lanskap kompetisi.