Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Kelayakan Data Center AI di Jatiluhur Harus Dibuktikan
SHARE:

Technologue.id, Jakarta – Rencana pembangunan data center berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menuai kontroversi mengenai dampak lingkungan bagi daerah sekitar.

Teguh Prasetya, Head of Industry and Independence of IoT, AI & Big Data (TRIOTA) MASTEL (Masyarakat Telematika Indonesia), menjelaskan bahwa Jatiluhur memiliki potensi untuk mendukung pengembangan pusat data AI. Namun, kelayakan pembangunan di kawasan tersebut harus dibuktikan melalui kajian teknis dan lingkungan yang transparan.

Menurutnya, Jatiluhur relatif dekat dengan koridor industri Jakarta, Bekasi, dan Karawang yang menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi dan bisnis di Indonesia. Selain itu, tersedia akses listrik dan konektivitas, serta potensi energi terbarukan. Di sisi lain, kawasan ini berfungsi strategis sebagai sumber air baku, irigasi, dan pembangkit listrik.

"Kelayakannya perlu dibuktikan melalui kajian teknis dan lingkungan (AMDAL) yang transparan, bukan diputuskan atas dasar asumsi, baik pro maupun kontra," ungkap Teguh kepada redaksi Technologue.id

Menurut Teguh, risiko muncul ketika kebutuhan air pusat data harus berbagi sumber daya dengan kebutuhan domestik, pertanian, dan industri lainnya. Persaingan pemanfaatan air berpotensi semakin terasa ketika musim kemarau menyebabkan ketersediaan air berkurang.

Karena itu, pembangunan pusat data di kawasan Jatiluhur perlu memastikan bahwa kebutuhan air operasional tidak mengganggu pasokan bagi masyarakat maupun kegiatan pertanian.

Ada sejumlah langkah yang dapat diterapkan untuk mengendalikan risiko tersebut. Pertama, perizinan harus menetapkan prioritas alokasi air untuk kebutuhan dasar masyarakat dan pertanian. Kedua, volume pengambilan air perlu dibatasi sesuai daya dukung sumber air dan dipantau secara berkala.

Ketiga, pengelola pusat data dapat memanfaatkan air daur ulang, air limbah yang telah diolah, atau sumber alternatif lain yang memenuhi persyaratan teknis. Pemantauan penggunaan air secara waktu nyata (real-time) dan pelaporan kepada publik juga diperlukan agar pemanfaatannya dapat diawasi.

"Evaluasi independen secara berkala dan pelibatan pemerintah daerah, Perum Jasa Tirta, serta masyarakat menjadi bagian penting dari pengelolaan sumber daya air," tuturnya.

Sebagai alternatif dari air, data center AI dapat memakai pendinginan udara, liquid cooling (direct-to-chip atau immersion), atau sistem hibrida. Pilihan terbaik bergantung pada kepadatan daya, iklim, dan ketersediaan air setempat. Di iklim tropis seperti Indonesia, efisiensi pendinginan menjadi tantangan tersendiri.

Selain air, pasokan listrik menjadi faktor krusial dalam pembangunan pusat data AI. Berbeda dengan banyak fasilitas perkantoran, pusat data harus beroperasi secara berkelanjutan untuk menjaga layanan digital tetap tersedia.

Beban listrik yang besar dapat meningkatkan tekanan terhadap jaringan apabila penambahan kapasitas tidak sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan. Tanpa perencanaan yang memadai, kondisi ini berpotensi memengaruhi keandalan pasokan listrik bagi pusat data maupun pengguna lainnya.

"MASTEL mendukung pengembangan infrastruktur AI nasional dengan prinsip keberlanjutan: lokasi dipilih berdasarkan kajian ilmiah, teknologi pendinginan hemat air, pasokan energi bersih, serta transparansi bagi publik. Pembangunan data center dan perlindungan sumber daya air dapat berjalan beriringan bila tata kelola serta pemilihan teknologinya tepat," ungkap Teguh.

SHARE:

Apple HomeView Siap Tantang Amazon Echo, Andalkan Siri AI

SEGA Rayakan 35 Tahun Sonic dengan Patung Porselen Rp112,5 Juta