Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
JLM Group Bangun Kabel Laut INSIGHT untuk Konektivitas Era AI
SHARE:

Technologue.id, Jakarta – Jala Lintas Media (JLM) memperkuat infrastruktur konektivitas digital Indonesia dengan membangun jaringan kabel laut INSIGHT (Indonesia-Singapore Gateway High Speed Transmission) yang menghubungkan Jakarta, Batam, hingga Singapura.

Kabel laut ini membentang sekitar 1.123 kilometer, dengan rute Jakarta-Batam sepanjang sekitar 1.053 kilometer dan dilanjutkan dari Batam menuju Singapura. Infrastruktur tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga 30 terabit per detik (Tbps).

Radumalem Tarigan, GM Network Service Solution JLM menjelaskan bahwa kapasitas besar ini dipersiapkan untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan konektivitas di Indonesia, terutama seiring berkembangnya kecerdasan buatan (AI), cloud computing, pusat data, layanan digital, hingga distribusi konten.

JLM Group melihat kebutuhan konektivitas akan semakin besar karena ekosistem digital Indonesia terus berkembang. AI, misalnya, membutuhkan pengolahan data dalam jumlah sangat besar sehingga membutuhkan bandwidth dan koneksi internasional yang andal.

"AI itu butuh data, data yang banyak sekali, butuh bandwidth yang besar dan connectivity internasional karena source-nya bukan di Indonesia," ujar Radu dalam Media Briefing JLM INSIGHT Submarine Backbone, Kamis (8/10/2026).

Radumalem Tarigan, GM Network Service Solution JLM

JLM mengatakan pembangunan INSIGHT juga ditujukan untuk menghadirkan alternatif jalur konektivitas internasional Indonesia.

Singapura dipilih karena merupakan salah satu hub digital dan konektivitas internasional utama di kawasan ASEAN. Dengan menghubungkan Jakarta dan Batam ke Singapura, JLM ingin menyediakan jalur alternatif bagi kebutuhan konektivitas Indonesia menuju jaringan internasional.

"Kita menghadirkan diversity, pilihan yang lebih banyak. Tujuannya untuk memperkuat backbone yang sudah ada sehingga internet Indonesia bisa lebih terjangkau, stabil, reliable, dan memiliki alternatif jalur lain," jelasnya.

Pemilihan Batam sebagai salah satu titik dalam rute INSIGHT juga berkaitan dengan perkembangan industri data center di Indonesia. JLM melihat Batam memiliki potensi besar sebagai salah satu kawasan pengembangan data center di luar Pulau Jawa. Kondisi ini menjadi penting karena kebutuhan listrik untuk pengembangan AI dan data center terus meningkat.

"Di luar Pulau Jawa ada alternatifnya Batam. Kenapa kita bikin Jakarta, Batam, Singapura? Salah satunya untuk ekosistem data center," ujarnya.

Dengan rute Jakarta-Batam-Singapura, INSIGHT diharapkan dapat mendukung berbagai kebutuhan digital, mulai dari data center, cloud service provider, content delivery network (CDN), enterprise application, hingga kebutuhan international bandwidth.

Layanan yang disiapkan antara lain International Private Leased Circuit (IPLC) dan layanan interkoneksi untuk mendukung kebutuhan operator telekomunikasi, service provider, data center, cloud service provider, serta penyedia infrastruktur digital.

Sejumlah penyedia layanan cloud global seperti Amazon, Microsoft, dan Google disebut menjadi bagian dari ekosistem yang membutuhkan konektivitas internasional dengan kapasitas besar.

Pembangunan INSIGHT sekaligus menandai perubahan strategi JLM Group menuju bisnis International Wholesale Connectivity. Sejak berdiri pada 2009, JLM Group sebelumnya lebih banyak berfokus pada konektivitas domestik dan layanan infrastruktur. Perusahaan kemudian mengembangkan bisnis ke sektor ICT dan connectivity solution.

Kini, melalui INSIGHT, JLM Group mulai memperluas cakupan bisnisnya ke konektivitas internasional.

"Strategi kita dari yang tadinya domestik ke ICT, kita akan merubah ke International Wholesale Connectivity yang notabenenya salah satu pendukung AI driven di masa depan," tutur Radu.

Dalam kesempatan acara yang sama, Victor Irianto, CEO JLM menambahkan, konektivitas memang menjadi salah satu komponen investasi infrastruktur AI dengan porsi yang lebih kecil dibandingkan GPU, memori, server, dan storage. Namun, konektivitas tetap menjadi bagian penting karena menjadi jalur yang menghubungkan berbagai infrastruktur tersebut.

Dalam pemaparannya disebutkan, investasi AI sekitar 50% dialokasikan untuk GPU, memori, server, dan storage. Sementara kebutuhan listrik berada di kisaran 8-10 persen dan konektivitas menjadi bagian yang lebih kecil.

Meski porsinya relatif kecil, konektivitas dinilai menjadi faktor penentu. Tanpa jaringan yang memadai, berbagai infrastruktur AI dan digital tidak dapat bekerja secara optimal.

Melalui proyek INSIGHT ini, perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 20-30 persen dalam dua tahun mendatang.

SHARE:

Spotify Perluas Audiobook ke 180 Pasar, Indonesia Kebagian Tahun ini

YouTube Jadi Platform Video Paling Dipercaya Dibanding TikTok dan Instagram