Technologue.id, Jakarta – iQOO Neo12 dipastikan membawa layar beresolusi 2K dengan refresh rate 185Hz, kombinasi yang dirancang untuk menghadirkan tampilan tajam sekaligus pergerakan gambar lebih mulus. Menurut laporan GSMArena, ponsel yang disiapkan untuk pasar Tiongkok ini mengandalkan panel AMOLED dari Visionox dengan teknologi emisi cahaya p-TSF. iQOO juga menonjolkan material pemancar cahaya baru yang disebut Sky Mirror. Perangkat tersebut dijadwalkan meluncur pada Oktober 2026, tetapi tanggal peluncuran resmi dan harga jualnya belum diumumkan secara lengkap.
Teknologi layar menjadi daya tarik utama iQOO Neo12 karena menggabungkan resolusi tinggi dan kecepatan penyegaran yang biasanya sulit dioptimalkan bersamaan. Resolusi 2K berpotensi menyajikan teks, detail visual, serta objek dalam gim dengan lebih tajam, sedangkan refresh rate 185Hz memungkinkan animasi terlihat lebih halus pada konten yang mendukungnya. Meski demikian, manfaat maksimalnya bergantung pada dukungan aplikasi, gim, dan pengaturan perangkat. Angka 185Hz juga tidak otomatis berarti semua gim dapat berjalan pada 185 frame per second (FPS).
Baca Juga: Dibanderol Rp3 Jutaan, Ini Spesifikasi realme P4s Lite

Panel tersebut dikembangkan bersama Visionox, produsen layar asal Tiongkok, dengan teknologi p-TSF generasi keempat. Teknologi ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi emisi cahaya, menjaga reproduksi warna, serta membantu memperpanjang usia panel. Material Sky Mirror menjadi salah satu unsur yang dipromosikan untuk mendukung kualitas tampilan generasi baru. iQOO turut menyoroti upaya menekan konsumsi daya, aspek penting mengingat layar beresolusi 2K dengan penyegaran sangat tinggi dapat menambah beban baterai ketika digunakan secara intensif.
Di luar layar, iQOO telah mengonfirmasi penggunaan chipset Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5, dipadukan dengan cip gaming Q3 buatan sendiri. Ponsel ini juga disiapkan dengan sistem pendingin Ice-Dome yang memakai kipas aktif untuk membantu membuang panas saat beban kerja tinggi. Kapasitas baterainya mencapai 9.000mAh, tergolong besar untuk ponsel berorientasi performa. Kombinasi tersebut memperlihatkan bahwa iQOO tidak hanya mengejar angka spesifikasi layar, tetapi juga berupaya menjaga kestabilan performa ketika perangkat dipakai bermain gim dalam waktu panjang.
Baca Juga: Apple HomeView Siap Tantang Amazon Echo, Andalkan Siri AI
Dibandingkan pendahulunya, iQOO Neo11, penerus ini membawa peningkatan pada beberapa aspek yang telah diumumkan. Neo11 menggunakan layar LTPO AMOLED 6,82 inci dengan resolusi 1,5K, refresh rate 144Hz, chipset Snapdragon 8 Elite, dan baterai 7.500mAh. Neo12 menaikkan spesifikasi layar ke resolusi 2K dan 185Hz, memakai generasi chipset lebih baru, serta menambah kapasitas baterai menjadi 9.000mAh. Kehadiran kipas pendingin aktif juga menjadi pembeda penting, meski pengujian langsung tetap dibutuhkan untuk menilai dampaknya terhadap suhu dan kebisingan.
Sejumlah detail lain masih belum terungkap secara menyeluruh, termasuk konfigurasi RAM dan penyimpanan, spesifikasi kamera, ukuran panel final, pilihan warna, sistem operasi saat peluncuran, serta dukungan pengisian daya. Harga setiap varian juga belum tersedia sehingga estimasi harga dalam rupiah belum dapat dihitung secara bertanggung jawab. Saat ini, fokus pengumuman masih berada pada pasar Tiongkok. Belum ada konfirmasi resmi mengenai jadwal peluncuran global maupun kehadirannya di Indonesia, sehingga calon pembeli di Tanah Air perlu menunggu pengumuman berikutnya.
Langkah iQOO menunjukkan persaingan ponsel performa semakin bergeser dari sekadar adu chipset menuju pengalaman bermain gim secara menyeluruh. Layar beresolusi tinggi, penyegaran cepat, cip khusus gaming, pendinginan aktif, dan baterai besar menjadi satu paket untuk menarik pemain yang mengutamakan performa. Namun, spesifikasi tinggi tetap perlu dibuktikan lewat pengujian konsumsi daya, suhu, kualitas visual, dan kompatibilitas gim. Jika dipasarkan lebih luas dengan harga kompetitif, iQOO Neo12 berpotensi memperkuat persaingan di segmen ponsel gaming, tetapi kepastian harga dan distribusi Indonesia masih menjadi faktor penentu.