Technologue.id – Intel secara resmi memperkenalkan lini prosesor terbaru mereka, Intel Arc G-Series, di ajang Computex 2026. Chip anyar ini dirancang khusus untuk menghidupkan generasi baru perangkat gaming handheld yang lebih bertenaga dan efisien. Langkah ini diambil Intel di tengah persaingan ketat pasar konsol genggam PC yang semakin panas.
Prosesor Intel Arc G-Series ini merupakan varian khusus yang dibangun di atas arsitektur Core Ultra 3. Varian yang diumumkan mencakup Arc G3 dan G3 Extreme, yang keduanya mengusung GPU Intel Arc B390.
Kehadiran GPU tersebut memungkinkan perangkat handheld mendukung teknologi real-time ray tracing dan fitur AI upscaling dari XeSS 3. Dengan demikian, kualitas grafis game AAA di perangkat genggam diprediksi akan meningkat secara signifikan.
Intel mengonfirmasi bahwa chip Arc G-Series akan mulai muncul di berbagai perangkat dalam beberapa bulan ke depan. Beberapa mitra yang sudah mengonfirmasi penggunaan chip ini antara lain Acer dengan Predator Atlas 8, MSI Claw 8 EX AI+, dan OneXPlayer.
Meski detail teknis lengkap belum diungkap, Intel memberikan gambaran awal mengenai konfigurasi inti prosesor ini. Chip Arc G-Series akan memiliki konfigurasi dua performance core, delapan efficiency core, dan empat low-power efficiency core.
Karena pada dasarnya merupakan versi modifikasi dari Core Ultra 3, chip ini juga akan diproduksi menggunakan proses fabrikasi Intel 18A yang terbaru. Dari segi konektivitas, chip ini mendukung Wi-Fi 7 R2, Thunderbolt 4, dan konektivitas ganda Bluetooth 6.
Intel juga menyematkan optimasi khusus untuk Windows 11, terutama mode layar penuh Xbox. Tujuannya adalah untuk mengurangi interaksi pengguna dengan antarmuka Windows standar yang sering dianggap kurang nyaman di layar kecil handheld.
Fitur menarik lainnya adalah Intel Precompiled Shaders, yang memungkinkan game tertentu untuk meluncur lebih cepat. Teknologi ini mengunduh shader yang sudah dioptimalkan dari cloud, bukan merendernya langsung di perangkat.
Beberapa game yang sudah mendukung fitur ini antara lain Black Myth: Wukong, Call of Duty: Black Ops 6 dan 7, serta The Outer Worlds 2. Daftar game ini diperkirakan akan terus bertambah seiring waktu.
Langkah Intel ini menjadi angin segar bagi pasar gaming handheld yang sempat tertekan. Sebelumnya, Valve menaikkan harga Steam Deck yang sempat menjadi tolok ukur performa di segmen ini.
Dengan kehadiran chip khusus seperti Arc G-Series, para produsen OEM kini memiliki opsi yang lebih terarah untuk membangun perangkat handheld. Mereka tidak perlu lagi bergantung sepenuhnya pada prosesor laptop yang dioptimasi ulang.
Persaingan di segmen ini pun diprediksi akan semakin sengit. Selain Intel, AMD juga sudah lama menjadi pemain utama melalui chip Ryzen Z1 Series yang digunakan di berbagai konsol genggam seperti ASUS ROG Ally.
Meski begitu, Intel optimistis pendekatan mereka melalui optimasi perangkat lunak dan dukungan fitur eksklusif bisa menjadi nilai jual utama. Waktu akan membuktikan apakah strategi ini cukup untuk merebut hati para gamer mobile.
Kita nantikan saja kehadiran perangkat-perangkat pertama yang ditenagai chip Intel Arc G-Series ini di pasar global. Jika sukses, ini bisa menjadi awal dari era baru gaming handheld dengan performa desktop di genggaman tangan.