Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
IdeaFest 2026 Ajak Publik Rehumanize di Tengah Dominasi AI
SHARE:

Technologue.id – Beberapa tahun lalu, kecerdasan buatan atau AI masih dianggap sebagai teknologi tambahan yang belum banyak berdampak. Kini, situasinya berubah drastis. Banyak pekerja mulai menggunakan AI untuk membantu presentasi, membuat desain, menyusun tulisan, mencari ide bisnis, hingga mengedit video. Di media sosial, orang bahkan bisa membuat foto, suara, dan konten hanya lewat perintah singkat.

Perkembangan itu memunculkan satu pertanyaan mendasar: jika AI bisa mengerjakan semakin banyak hal, apa yang masih membuat manusia tetap penting? Pertanyaan itulah yang menjadi dasar tema IdeaFest 2026 tahun ini, yaitu “ReHumanize”. Festival kreatif yang memasuki tahun ke-15 ini ingin mengajak publik membicarakan kembali posisi manusia di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

IdeaFest 2026 akan digelar pada 4-6 September 2026 di Jakarta Convention Center dengan skala yang lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selama lebih dari satu dekade, acara ini dikenal sebagai tempat bertemunya pelaku industri kreatif dari berbagai bidang. Mulai dari film, musik, fashion, teknologi, politik, olahraga, kuliner, hingga budaya populer, semuanya hadir dalam satu forum diskusi.

Tahun ini, pembahasannya terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari banyak orang. Sebab, AI bukan lagi isu masa depan yang jauh. Teknologi itu sudah masuk ke dunia kerja, media sosial, industri kreatif, bahkan cara orang berkomunikasi. Tren ini juga terlihat dari berbagai inovasi terbaru, seperti peluncuran Huawei AI Glasses yang ringan dan canggih.

Data Penggunaan AI di Indonesia

Perubahan itu terlihat dari data penggunaan AI di Indonesia yang terus meningkat. Berdasarkan studi PwC Indonesia yang dikutip penyelenggara IdeaFest, sebanyak 69 persen pekerja Indonesia mengaku sudah menggunakan AI dalam pekerjaan mereka selama setahun terakhir. Dari jumlah itu, 16 persen menggunakan AI setiap hari.

Artinya, AI kini bukan lagi teknologi yang hanya dipakai perusahaan besar atau pekerja bidang teknologi. Penggunaannya mulai meluas ke berbagai sektor kerja dan semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari. Co-chair IdeaFest Desy Bachir mengatakan perkembangan tersebut membuat industri kreatif perlu memikirkan ulang hubungan manusia dan teknologi.

Menurut Desy, perkembangan AI memang membuka banyak peluang baru. Namun, inovasi tetap membutuhkan nilai-nilai yang tidak dimiliki mesin. “Di balik setiap inovasi, harus selalu ada nilai kemanusiaan sebagai fondasi,” ujar Desy. Karena itu, IdeaFest tahun ini ingin mendorong diskusi yang lebih luas soal dampak teknologi.

Diskusi tersebut tidak hanya dari sisi bisnis atau efisiensi kerja. Tetapi juga pengaruhnya terhadap kehidupan sosial, budaya, dan cara manusia berinteraksi. Perusahaan teknologi seperti Nothing juga mulai merambah area ini dengan menggarap kacamata pintar AI yang inovatif.

AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti

Pandangan serupa disampaikan Indosat Ooredoo Hutchison yang menjadi salah satu pendukung IdeaFest 2026. Perusahaan tersebut melihat AI sebagai alat yang dapat membantu manusia bekerja lebih cepat. Namun, AI bukan pengganti kreativitas dan perspektif manusia.

SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Ovidia Nomia mengatakan kreativitas dan koneksi antarmanusia justru menjadi semakin penting di era AI. “AI seharusnya memperluas potensi manusia, bukan mengambil alih perannya,” ujarnya. Pernyataan itu terasa relevan dengan kondisi industri kreatif saat ini.

Banyak pekerjaan memang bisa dipercepat dengan bantuan teknologi. Namun, publik tetap mencari sesuatu yang terasa dekat, personal, dan punya sudut pandang manusia. Hal tersebut juga disoroti Stephanie Regina yang menjadi salah satu Braintrust IdeaFest 2026.

Menurutnya, audiens sekarang tidak hanya mencari konten yang menarik secara visual. Mereka juga mencari pengalaman dan koneksi yang terasa bermakna. Karena itu, kreativitas dinilai tetap menjadi faktor penting agar sebuah pesan terasa relevan dan hidup di tengah banjir konten digital.

Program Baru dan Kolaborasi

Selain menghadirkan pembicara lintas industri, IdeaFest tahun ini juga mencoba menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan budaya populer dan kehidupan anak muda. Salah satunya melalui program baru bernama JKTGO SUPER CRAZY FESTIVAL hasil kolaborasi bersama JKT GO.

Program tersebut akan menghadirkan lebih dari 200 brand lokal dalam format bazar kurasi. Tidak hanya menampilkan produk, acara ini juga ingin menjadi ruang bertemunya komunitas, kreator, dan pelaku usaha kreatif. Co-Founder JKT GO Ian Eryanto Wongso mengatakan konten yang paling berdampak biasanya tetap memiliki hubungan kuat dengan budaya dan emosi manusia.

Sementara itu, Founder Creative Prompt Patrick Effendy menilai tantangan terbesar saat ini bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Melainkan memahami bagaimana teknologi bisa memberi manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tren kacamata pintar seperti Ray-Ban Meta Optics Styles menjadi contoh bagaimana AI bisa diintegrasikan ke dalam produk konsumen.

Melalui tema “ReHumanize”, IdeaFest 2026 tampaknya ingin mengingatkan satu hal sederhana. Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, manusia tetap menjadi bagian paling penting dalam proses menciptakan ide, hubungan sosial, dan kreativitas. Festival ini menjadi pengingat bahwa teknologi hanyalah alat, sementara nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama.

SHARE:

Meta Uji Fitur AI Mirip Grok di Threads

Waspada Serangan Phishing Baru yang Manfaatkan Amazon SES untuk Menipu Korban