Jakarta — Tim Riset dan Analisis Global (GReAT) Kaspersky mengungkap taktik terbaru dari SilverFox, kelompok Advanced Persistent Threat (APT) paling aktif di Asia Pasifik. Kelompok peretas ini memanfaatkan tren kecerdasan buatan dengan menyebarkan aplikasi AI Claude palsu untuk menyusup ke jaringan perusahaan, termasuk di Indonesia.
Peneliti Keamanan Utama Kaspersky GReAT, Ye Jin, memperingatkan bahwa pesatnya perkembangan AI telah mengubah lanskap ancaman siber secara radikal. Serangan yang tadinya membutuhkan tim khusus kini bergeser menjadi serangan solo berbiaya rendah yang bisa dilakukan siapa saja.
SilverFox dikenal menggunakan pendekatan multi-tahap dengan infrastruktur tersegmentasi untuk mengecoh sistem deteksi. Dalam kampanye terbarunya, mereka membidik perusahaan di berbagai negara, termasuk Indonesia, India, Afrika Selatan, dan Rusia di sektor industri, konsultasi, hingga transportasi.
Modus awal mereka menggunakan email phishing yang menyamar sebagai pemberitahuan audit pajak resmi. Riset Kaspersky mencatat lebih dari 1.600 email berbahaya berisi dokumen "daftar pelanggaran pajak" fiktif yang disebar sepanjang Januari hingga Februari 2026.
Kini taktik tersebut berevolusi. SilverFox tertangkap basah mendistribusikan aplikasi Claude palsu, chatbot AI populer buatan Anthropic, untuk sistem operasi Windows, macOS, dan Linux. Aplikasi tiruan ini dirancang untuk mengelabui korban yang ingin menggunakan AI di lingkungan kerja mereka.
"Analisis terbaru kami menunjukkan bahwa mereka sekarang mendistribusikan Claude palsu untuk memanfaatkan tren penggunaan AI di perusahaan guna meretas pertahanan keamanan target mereka," jelas Ye Jin dalam keterangan resminya.
Meski Indonesia masuk dalam radar serangan, kawasan Asia Timur dan Tenggara menjadi titik panas utama. Tercatat lebih dari 90% serangan SilverFox menargetkan wilayah China, disusul Myanmar, Kamboja, dan Singapura. Sektor manufaktur menjadi industri yang paling banyak diserang, mencakup lebih dari sepertiga total serangan.
Selain eksploitasi aplikasi palsu, Kaspersky juga menyoroti lahirnya ancaman siber yang digerakkan sepenuhnya oleh AI. Salah satunya adalah JADEPUFFER, ransomware berbasis Large Language Model (LLM) atau agen AI pertama di dunia yang mampu bekerja secara mandiri.
Tidak seperti serangan konvensional yang digerakkan manusia, agen AI berbahaya pada JADEPUFFER mampu mendiagnosis kegagalan, memperbaiki pendekatan, dan meluncurkan serangan baru secara otomatis hanya dalam waktu 31 detik. Kecepatan ini jauh melampaui respons mayoritas ahli keamanan siber manusia.
Contoh mengerikan lainnya adalah ChatGPhish, teknik injeksi prompt di mana peretas menyembunyikan instruksi berbahaya di dalam halaman web. Saat pengguna meminta asisten AI tepercaya untuk meringkas halaman tersebut, AI tanpa sadar akan meneruskan link berbahaya kepada pengguna.
Ada pula VoidLink, malware yang kode programnya hampir 100% dikembangkan secara otomatis oleh AI generatif. Fenomena ini menunjukkan bahwa ancaman siber global semakin canggih dan sulit dideteksi dengan metode konvensional.
Menghadapi mesin otonom peretas yang makin mandiri dan super cepat, pakar Kaspersky menegaskan perlunya strategi "melawan api dengan api". Perusahaan didorong untuk turut menggunakan AI dalam membentengi jaringan mereka agar tidak tertinggal dari taktik penyerang.
Terdapat empat langkah mitigasi yang direkomendasikan Kaspersky. Pertama, pertahanan proaktif dengan menggunakan perburuan ancaman berbasis AI. Kedua, arsitektur Zero Trust yang memverifikasi setiap permintaan akses secara ketat di jaringan internal.
Ketiga, pertahanan sistematis yang mencakup perlindungan menyeluruh dari titik akhir, jaringan, aplikasi, hingga data. Keempat, strategi AI vs AI dengan menggunakan model AI berskala besar untuk mendeteksi dan merespons ancaman secara real-time.
"Ketika penyerang dapat memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi pengambilan keputusan dan mempercepat setiap tahap serangan, pihak pertahanan harus merespons dengan tingkat kecerdasan yang setara," tutup Ye Jin.
Fenomena serangan berbasis AI ini juga berdampak pada sektor usaha kecil. Serangan siber berkedok AI yang mengincar UMKM semakin melonjak, sehingga kewaspadaan digital menjadi kebutuhan mendesak bagi semua skala bisnis.
Perusahaan di Indonesia perlu meningkatkan kesadaran keamanan siber mengingat tren serangan yang terus berevolusi. Berbagai inisiatif seperti konsultasi gratis keamanan dari asosiasi industri bisa menjadi langkah awal memperkuat pertahanan digital.