Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Google Borong Seluruh Listrik dari Proyek Tenaga Surya Raksasa untuk Tekan Emisi
SHARE:

Technologue.id, Jakarta – Google dilaporkan telah mencapai kesepakatan untuk membeli seluruh produksi listrik dari proyek tenaga surya berskala besar Steel River Energy Center di Arkansas, Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk mengimbangi emisi karbon yang terus meningkat akibat lonjakan kebutuhan energi, terutama untuk mendukung operasional pusat data dan layanan kecerdasan buatan (AI).

Berdasarkan laporan Financial Times, Google akan mengambil 100 persen output awal dari proyek tersebut setelah mulai beroperasi pada 2029. Tahap awal proyek mencakup kapasitas pembangkit tenaga surya sebesar 1,6 gigawatt (GW) serta 2 GW sistem penyimpanan energi baterai, yang diperkirakan mampu memasok kebutuhan listrik sekitar 315.000 rumah.

Meski membeli seluruh output listrik, Google tidak akan menggunakan energi tersebut secara langsung. Perusahaan akan membayar biaya tetap untuk listrik yang dihasilkan, sementara konsumsi energinya tetap berasal dari jaringan listrik umum yang terdiri atas campuran sumber energi, termasuk batu bara, gas alam, tenaga nuklir, dan energi terbarukan.

Dengan skema tersebut, energi bersih yang dihasilkan Steel River Energy Center akan masuk ke dalam jaringan listrik, sehingga secara tidak langsung membantu mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil.

Setelah seluruh proyek rampung, Steel River Energy Center diproyeksikan memiliki kapasitas total 2,45 GW tenaga surya dan 2,9 GWh penyimpanan energi baterai. Dua dari tiga fase pembangunan telah memperoleh pendanaan sebesar US$3,5 miliar, dengan prioritas penggunaan baja dan panel surya yang diproduksi di Amerika Serikat.

Kesepakatan ini hadir di tengah meningkatnya konsumsi listrik Google. Perusahaan mencatat penggunaan listrik naik sekitar 37 persen sepanjang tahun lalu, yang turut mendorong peningkatan emisi berbasis jaringan listrik dalam jumlah yang sama. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh pertumbuhan infrastruktur pusat data yang menopang layanan AI.

Fenomena serupa juga dialami perusahaan teknologi besar lainnya seperti Meta dan Amazon. Ekspansi pusat data untuk AI membuat kebutuhan energi meningkat tajam, sementara sebagian besar pasokan listrik masih bergantung pada bahan bakar fosil yang berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon.

Para ilmuwan sebelumnya juga mengingatkan bahwa perubahan iklim telah memperparah cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia. Gelombang panas yang melanda sebagian besar Eropa dalam beberapa waktu terakhir disebut hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim.

Di sisi lain, strategi perusahaan teknologi membeli output dari proyek energi bersih untuk mengimbangi emisi karbon masih memunculkan perdebatan. Sejumlah pakar menilai pendekatan tersebut belum tentu mampu mengurangi emisi secara langsung karena perusahaan tetap mengonsumsi listrik dari jaringan yang masih didominasi sumber energi fosil.

Google bukan satu-satunya perusahaan yang menempuh strategi ini. Meta sebelumnya membeli seluruh output listrik sebesar 200 megawatt (MW) dari proyek tenaga surya di Texas, sementara Amazon menyepakati akuisisi proyek tenaga surya dan penyimpanan baterai Sunstone berkapasitas 1,2 GW di Oregon sebagai bagian dari upaya memperluas portofolio energi terbarukannya.

SHARE:

Menakar Batas Keadilan AI sebagai Wasit di Lapangan

Suzuki Fronx Dominasi Pasar SUV Kompak dalam Setahun