Pernahkah Anda membayangkan seberapa serius raksasa otomotif Tiongkok dalam menggarap pasar Indonesia? Jika selama ini kita hanya melihat gelombang peluncuran produk, kini strategi tersebut telah berevolusi menjadi komitmen investasi fisik yang masif. Industri otomotif nasional kembali mendapatkan angin segar dengan kepastian langkah strategis dari salah satu pemain kunci yang belakangan ini sangat agresif di jalanan Tanah Air.
Chery, pabrikan yang sukses mencuri perhatian publik dalam tiga tahun terakhir, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri masa "ketergantungan" fasilitas perakitan. Tidak lagi sekadar menumpang di fasilitas milik PT Handal Indonesia Motor (HIM), perusahaan memastikan akan membangun pabrik mandiri. Langkah ini bukan sekadar ekspansi bisnis biasa, melainkan sebuah sinyal kuat bahwa Indonesia diposisikan sebagai basis produksi vital untuk jangka panjang.
Rencana besar ini dijadwalkan mulai bergulir pada tahun 2026 dengan peletakan batu pertama, menargetkan operasional penuh pada 2027. Dengan fundamental pasar yang kuat dan tren penjualan yang terus menanjak, keputusan ini tampaknya menjadi jawaban logis bagi Chery untuk memperkuat cengkeramannya di pasar domestik sekaligus menjadikan Indonesia sebagai hub regional. Lantas, seberapa besar kapasitas yang disiapkan dan model apa saja yang bakal membanjiri pasar?
Transformasi Menuju Kemandirian ProduksiKeputusan untuk membangun pabrik mandiri ini disampaikan langsung oleh Direktur Pemasaran PT Chery Sales Indonesia, Budi Darmawan. Dalam keterangannya di sela uji kendaraan di Semarang, Budi menegaskan bahwa tahun ini akan menjadi titik awal pembangunan fisik fasilitas tersebut. Targetnya cukup ambisius: pada tahun 2027, pabrik tersebut sudah harus berdiri tegak dan siap beroperasi. Ini adalah lompatan besar dari status Chery saat ini yang masih berbagi fasilitas produksi.
Fasilitas baru ini dirancang dengan visi jangka panjang yang sangat strategis. Tidak tanggung-tanggung, kapasitas produksi yang diproyeksikan mencapai 100 ribu unit kendaraan per tahun. Angka ini jelas bukan jumlah yang sedikit, mengingat persaingan pasar yang semakin ketat di mana Chery Pimpin persaingan di segmen mobil Tiongkok bersama kompetitor lainnya.
Menariknya, pabrik ini tidak hanya didedikasikan untuk satu merek saja. Budi menjelaskan bahwa fasilitas ini akan menjadi rumah produksi bagi seluruh merek di bawah naungan Chery Group. Ini mencakup lini produk Chery, Omoda, Jaecoo, Lepas, hingga potensi masuknya merek iCar. "Kapasitasnya kami siapkan untuk mengakomodasi seluruh produk Chery Group. Tapi tentu tidak langsung penuh, produksinya akan bertahap," ujar Budi, menekankan pendekatan realistis perusahaan dalam meningkatkan utilisasi pabrik seiring pertumbuhan permintaan.
Baca Juga:
Pembangunan pabrik hanyalah satu sisi dari mata uang strategi Chery. Di sisi lain, perusahaan juga telah menyiapkan amunisi produk yang sangat agresif untuk mengisi pasar. Sepanjang tahun 2026, Chery berencana meluncurkan enam hingga tujuh model baru. Strategi peluncuran massal ini ditujukan untuk mendongkrak volume penjualan secara signifikan, yang pada akhirnya akan menjamin tingkat keterisian atau utilisasi pabrik baru mereka di masa depan.
Budi Darmawan meyakini bahwa strategi memperkenalkan banyak produk baru telah terbukti efektif. Jika kita melihat rekam jejak dua tahun terakhir, portofolio produk yang beragam memang menjadi kunci sukses Chery. Bahkan, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu negara prioritas, termasuk menjadi negara setir kanan pertama yang mendapatkan Mobil CSH Chery. "Tahun ini kami akan sangat agresif. Sekitar enam sampai tujuh produk baru akan kami perkenalkan," tambahnya.
Keyakinan ini didukung oleh data penjualan yang menunjukkan tren positif yang konsisten. Volume penjualan Chery di Indonesia tercatat meningkat lebih dari dua kali lipat dalam periode 2023–2024, bergerak dari angka 4.000 unit menjadi 9.000 unit. Tren ini berlanjut dengan lonjakan impresif hingga mencapai 19.500 unit sepanjang tahun 2025. Pola pertumbuhan eksponensial inilah yang menjadi landasan optimisme manajemen terhadap investasi pabrik mandiri.
Optimisme di Tengah Potensi Pasar yang LuasAlasan di balik investasi besar-besaran ini tidak lepas dari analisis fundamental pasar otomotif Indonesia. Chery melihat masih ada ruang pertumbuhan yang sangat luas jika dibandingkan dengan negara tetangga. Data menunjukkan tingkat kepemilikan mobil di Indonesia baru berada di angka 99 unit per 1.000 penduduk. Angka ini masih jauh tertinggal dibandingkan Thailand yang telah mencapai rasio 275 unit per 1.000 penduduk.
Kesenjangan rasio kepemilikan kendaraan ini justru dilihat sebagai peluang emas. Meskipun pasar otomotif nasional terkadang mengalami tekanan jangka pendek, potensi struktural jangka menengah dan panjang tetap menjanjikan. Dengan pabrik mandiri, Chery tidak hanya menargetkan pasar domestik, tetapi juga memposisikan Indonesia sebagai hub produksi regional untuk kawasan Asia Tenggara, memperkuat ekosistem mereka yang juga mencakup dukungan terhadap komunitas melalui Armada Hybrid canggih.
Langkah Chery membangun pabrik berkapasitas 100 ribu unit ini adalah bukti nyata transisi dari sekadar importir atau perakit menjadi produsen utuh. Dengan kombinasi infrastruktur mandiri dan strategi produk yang agresif, persaingan di pasar otomotif Indonesia dipastikan akan semakin panas dan menarik untuk disimak dalam beberapa tahun ke depan. Bagi Anda konsumen otomotif, ini berarti akan ada lebih banyak pilihan kendaraan berkualitas dengan ketersediaan suku cadang yang lebih terjamin berkat lokalisasi produksi yang mendalam.