Technologue.id, Jakarta - Epic Games kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dengan memberhentikan lebih dari 1.000 karyawan. Langkah ini diumumkan langsung oleh CEO Tim Sweeney dalam memo internal yang dibagikan kepada seluruh pekerja pada hari Selasa (24/3).
Dalam pernyataannya, Sweeney menegaskan bahwa keputusan ini diambil akibat penurunan keterlibatan pemain di Fortnite sejak tahun 2025. Kondisi tersebut membuat perusahaan mengeluarkan biaya jauh lebih besar dibandingkan pendapatannya.
“Kami menghabiskan jauh lebih banyak daripada yang kami hasilkan, dan kami harus melakukan pemotongan besar untuk menjaga pendanaan perusahaan,” tulis Sweeney.
PHK ini menjadi bagian dari langkah efisiensi yang lebih luas. Epic Games juga telah mengidentifikasi penghematan biaya lebih dari $500 juta, yang berasal dari pemangkasan kontrak, pengurangan anggaran pemasaran, serta penghapusan sejumlah posisi kosong.
Langkah ini disebut akan membantu perusahaan mencapai stabilitas finansial yang lebih baik di tengah tekanan industri game global. Sweeney juga menegaskan bahwa keputusan ini tidak berkaitan dengan penggunaan teknologi AI, melainkan murni karena kondisi bisnis.
Ini bukan pertama kalinya Epic melakukan PHK dalam skala besar. Pada tahun 2023, perusahaan telah memberhentikan sekitar 830 karyawan, atau sekitar 16% dari total tenaga kerja saat itu. Jika jumlah karyawan tidak banyak berubah sejak saat itu, maka PHK terbaru ini diperkirakan memangkas hampir seperempat tenaga kerja yang tersisa.
Meski Fortnite masih menjadi salah satu game paling sukses di dunia, Epic mengakui adanya kesulitan dalam menjaga konsistensi kualitas setiap musimnya. Selain itu, perusahaan juga masih berada di tahap awal dalam mengoptimalkan Fortnite untuk platform mobile.
Di sisi lain, Epic juga harus menanggung biaya besar akibat konflik hukum dengan Apple terkait kebijakan App Store, yang sebelumnya disebut telah menghabiskan lebih dari $100 juta.