Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Dentsu Investasi di Angry Birds Movie 3, Perluas Bisnis ke Hollywood
SHARE:

Jakarta, Technologue.id — Ketika "The Angry Birds Movie 3" tayang pada Desember mendatang, film ini akan menandai kerja sama waralaba tersebut dengan sejumlah kreator ternama, termasuk MrBeast dan Salish Matter yang masuk dalam jajaran pemain. Namun di balik layar, ada satu nama yang mungkin kurang dikenal publik hiburan: Dentsu, grup agensi periklanan asal Jepang yang kini menjelma menjadi salah satu investor terbaru Hollywood.

"Angry Birds 3" menjadi bagian paling terlihat dari dorongan besar Dentsu ke industri film. Perusahaan menyebut langkah ini sebagai investasi modal material pertamanya di sebuah film, meski enggan mengungkap besaran saham yang disuntikkan. Dentsu tercatat sebagai produser dalam proyek tersebut dan turut berkontribusi pada anggaran pemasaran serta distribusi film yang mencapai US$66 juta atau sekitar Rp1 triliun.

Langkah Dentsu ini bukan sekadar ikut menanam modal. Perusahaan ingin berada lebih dekat dengan para kreator dan pemilik kekayaan intelektual (IP) sejak tahap awal pengembangan proyek. Dengan begitu, Dentsu dapat membantu klien mereknya masuk secara lebih kreatif ke dalam produksi hiburan yang tengah digarap.

"Kami benar-benar ingin membawa klien dan merek lebih dekat ke hulu, kepada para kreator, kepada pemilik IP, dan membantu merek bekerja lebih kreatif di tahap yang sangat awal," ujar Cathy Boxall, Global Head of Entertainment Dentsu. Ia menambahkan, para kreator kini semakin terlibat di dalam ekosistem Hollywood, sehingga membuka peluang besar bagi merek.

Dentsu tidak sendirian. Raksasa agensi periklanan lain juga semakin agresif membangun pengaruh di Hollywood. Mereka berharap bisa memosisikan diri sebagai pakar hiburan bagi merek yang berusaha menjangkau konsumen yang kian menghindari iklan. Bagi merek, kerja sama semacam ini bisa berarti tie-in pemasaran dengan acara TV populer atau memproduksi tayangan sendiri.

Untuk "Angry Birds 3" dan proyek lain dalam pipa pengembangannya, Dentsu mendapat kesempatan pertama melakukan integrasi klien atau ko-promosi. Perusahaan mengaku sudah memasukkan beberapa klien, yang namanya tidak disebutkan, ke dalam film ini melalui skema tersebut.

Dentsu juga ingin memanfaatkan pergeseran dalam ekosistem hiburan, di mana jumlah studio besar kian menyusut. Posisi ini dinilai menguntungkan untuk menarik lebih banyak klien bagi layanan konsultasi dan periklanan mereka. Menurut Paul Kang, Head of Alternative Investment Dentsu, lanskap klien hiburan di Hollywood kini berubah.

"Apa yang Anda lihat di Hollywood saat ini adalah klien hiburan tipikal sedang berubah," kata Kang. "Dari sisi studio, jumlah mereka sekarang lebih sedikit. Tapi ada lebih banyak produser independen yang datang ke agensi seperti kami, mencari bantuan pemasaran dibanding lima atau 10 tahun lalu."

Dentsu mengklaim peningkatan profilnya di industri film mulai membuahkan hasil. Selain membuka peluang kemitraan merek dengan klien, perusahaan mencatat kenaikan minat dari calon klien hiburan. Pasar untuk membantu merek menembus Hollywood memang semakin ramai, mulai dari raksasa talenta hingga agensi khusus dan produser.

Perusahaan induk agensi umumnya menyuntikkan dana untuk mempromosikan film dengan menyiapkan merek yang ikut memasarkan, lalu mengembalikan investasi lewat bantuan integrasi klien ke dalam proyek. "Merek tahu mereka perlu memanfaatkan hiburan dan budaya untuk mendorong pertumbuhan bisnis," ujar Julian Jacobs, yang memimpin pemasaran hiburan di UTA.

WPP dan Publicis dianggap menonjol di antara perusahaan induk agensi periklanan dalam menghubungkan merek ke Hollywood. WPP memiliki Motion Entertainment yang mendanai, mengembangkan, dan memproduksi konten TV, film, serta digital, dan dikenal lewat co-produksi reality show "Love Island". Sementara Publicis melalui Publicis Media Content & Innovation fokus pada properti baru seperti sitkom "DINKS" yang dibiayai penuh.

Jae Goodman dari Superconnector Studios mengaku senang melihat semakin banyak pemain terlibat di industri hiburan, meski ia memberi catatan. Menurutnya, agensi media akan tampil terbaik jika tidak hanya memanfaatkan pembelian media untuk integrasi produk, tetapi juga merekrut ahli dalam pengembangan acara TV. Langkah Dentsu di "Angry Birds 3" menjadi ujian awal seberapa jauh strategi ini berjalan.

Bagi waralaba Angry Birds sendiri, keterlibatan investor baru seperti Dentsu menambah dinamika di tengah ekspansi besar-besaran yang tengah berlangsung. Sebelumnya, game Angry Birds Friends sudah hadir di browser tanpa perlu unduhan, memperluas jangkauan penggemar di berbagai perangkat. Perubahan juga terjadi di lini game klasik, di mana Angry Birds Classic resmi dihapus dari Android.

Langkah Dentsu ini menegaskan bahwa batas antara industri periklanan dan produksi hiburan semakin tipis. Agensi tidak lagi sekadar perantara yang menempatkan iklan, tetapi ikut menentukan arah proyek sejak awal. Jika strategi ini berhasil, bukan tidak mungkin model serupa akan diadopsi lebih luas oleh pemain lain di industri.

SHARE:

Tinder Uji Fitur Group Hangouts, Alternatif Kencan Tanpa Harus Berdua

Mario Kart Tour Resmi Berakhir Setelah Enam Tahun Hadir di Smartphone