Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Chris Hansen Bikin Dokumenter Tandingan Usai Nonton Primetime
SHARE:

Jakarta, Technologue.id — Presenter investigasi senior, Chris Hansen, akhirnya angkat bicara setelah menonton film Primetime secara langsung di bioskop Times Square, New York. Ia menyaksikan film yang mengangkat kisah hidupnya itu bersama penonton umum biasa, bukan dalam pemutaran khusus. Hansen mengaku lebih merasa bingung ketimbang tersinggung dengan hasil akhir film tersebut.

Setelah menonton, Hansen langsung memberikan ulasan tajam dalam wawancara bersama jurnalis Jesse Watters di kanal YouTube miliknya. Ia memberi nilai D untuk film garapan sutradara Lance Oppenheim itu. Meski begitu, Hansen tetap mengakui bahwa penampilan Robert Pattinson sebagai dirinya patut mendapat pujian.

Menurut Hansen, akting Pattinson justru melenceng jauh dari sosok aslinya. Ia merasa seperti menonton orang yang sama sekali berbeda di layar lebar. Jarak antara karakter fiksi dan identitas aslinya itu membuatnya sulit merasa tersinggung secara personal.

Hansen menilai Primetime sebagai versi yang terlalu didramatisasi dan lepas dari kenyataan. Ia bahkan mengutip istilah sang sutradara sendiri yang menyebut film ini sebagai "mimpi demam". Baginya, film yang begitu jauh dari realitas justru tidak akan mengganggu penonton yang mengenal dirinya.

Dalam pandangannya, film ini terasa seperti serangan terhadap dirinya dan serial investigasinya. Hansen menegaskan bahwa pekerjaannya bersama To Catch a Predator dan Takedown semata-mata bertujuan mengekspos pelaku kejahatan terhadap anak. Ia menilai narasi film itu sebagai penghinaan bagi ribuan orang yang menjalankan misi serupa setiap hari.

Hansen juga menyoroti satu adegan spesifik dalam film yang menurutnya tidak pernah terjadi. Dalam adegan itu, Pattinson duduk di depan cermin tanpa kemeja sambil melatih kalimat yang akan ia ucapkan kepada para predator. Ia menegaskan bahwa hampir seluruh adegan dalam Primetime adalah fiksi belaka.

Ia kembali menegaskan bahwa pihak studio A24 tidak pernah mendekatinya untuk membahas film ini. Sebelumnya, Hansen mengklaim menolak menandatangani surat pernyataan sebelum memasuki ruang pemutaran. Ia menyebut studio ingin membuatnya menyerahkan hak-haknya secara hukum.

Sebelum menonton, Hansen sudah lebih dulu mengkritik film tersebut sebagai versi yang sangat didramatisasi. Ia bahkan membeli slot iklan untuk jaringan true crime miliknya agar tayang sebelum setiap pemutaran Primetime. Langkah itu menjadi bentuk perlawanan publiknya terhadap narasi film.

Di sisi lain, penilaian publik terhadap Primetime justru jauh berbeda dari pendapat Hansen. Kritikus dari IGN memberi film ini skor sembilan dari sepuluh. Mereka menyebutnya sebagai ledakan dari masa lalu dengan daya tarik yang memikat, sekaligus menilai film ini segarang subjeknya sendiri.

Perbedaan tajam antara penilaian Hansen dan kritikus media menunjukkan bagaimana film biografi sering memicu perdebatan. Bagi sebagian penonton, dramatisasi adalah bagian dari seni. Namun bagi subjek aslinya, distorsi fakta bisa terasa seperti pengkhianatan terhadap perjuangan nyata.

Hansen mengungkapkan bahwa ia sedang menyiapkan sejumlah proyek dokumenter tentang hidup dan kariernya. Salah satu proyek berjudul I am Chris Hansen kini tengah ditawarkan ke berbagai platform di Pantai Barat Amerika Serikat. Proyek itu dikerjakan bersama orang-orang yang memang ia kenal dan percayai.

Menurut Hansen, proyek dokumenternya sudah mulai dikembangkan jauh sebelum ia mendengar kabar tentang Primetime. Ia menilai momen kemunculan film Oppenheim justru menjadi waktu yang tepat untuk meluncurkan versi aslinya. Agennya kini aktif memasarkan proyek tersebut ke sejumlah platform digital.

Pengalaman Hansen menonton di bioskop umum menjadi catatan tersendiri. Ia ingin merasakan langsung reaksi penonton biasa terhadap film yang mengangkat namanya. Dari situ ia menyimpulkan bahwa penonton lain kemungkinan merasakan hal serupa, yaitu kebingungan atas jarak cerita dengan kenyataan.

Kasus ini menambah panjang daftar film yang menuai protes dari tokoh aslinya. Industri hiburan kerap menghadapi dilema antara kebebasan artistik dan tanggung jawab faktual. Ketegangan semacam ini juga sering muncul pada sejumlah film kontroversial yang menuai reaksi beragam dari publik.

Hansen tetap pada pendiriannya bahwa film tersebut bukan gambaran dirinya. Ia memilih merespons dengan karya dokumenter sendiri ketimbang menempuh jalur hukum. Strategi itu dinilai lebih efektif untuk meluruskan narasi sekaligus memperkuat citra jaringan true crime miliknya.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak A24 maupun Lance Oppenheim atas pernyataan terbaru Hansen. Publik pun menantikan bagaimana dokumenter I am Chris Hansen akan menjawab versi dramatis yang sudah lebih dulu tayang. Bagi Hansen, satu hal yang pasti: ia ingin menceritakan kisahnya dengan caranya sendiri.

SHARE:

Lacak Anak via Aplikasi Ganggu Hubungan Orangtua-Anak?

Jejak Silent Hill: Urutan Timeline Game dari 1960-an hingga 2020-an