JAKARTA – Kasus penyelundupan cip kecerdasan buatan (AI) NVIDIA ke China kembali menjadi sorotan pemerintah Amerika Serikat (AS). Jaksa AS baru-baru ini mendakwa seorang pria yang diduga terlibat dalam penyelundupan server berisi cip AI NVIDIA senilai sekitar US$300 juta ke China.
Kasus tersebut menjadi perhatian karena pemerintah AS menilai jaringan penyelundupan cip AI ke China semakin berkembang. Di sisi lain, sejumlah pejabat dan pengamat mempertanyakan apakah NVIDIA sudah melakukan pengawasan yang cukup untuk mencegah produknya dialihkan ke pasar China.
Bloomberg melaporkan, aparat federal menangkap seorang pria bernama Greg Lui yang diduga menyelundupkan server berisi cip AI ke China. Pengiriman tersebut disebut melanggar aturan pengendalian ekspor AS.
NVIDIA sendiri tidak dituduh secara langsung melakukan atau membantu penyelundupan. Perusahaan mengatakan telah mematuhi aturan ekspor yang berlaku.
Salah satu kasus yang mencuri perhatian adalah penggunaan pengering rambut berwarna merah untuk mengakali pemeriksaan.
Awal tahun ini, aparat AS merilis rekaman pengawasan yang memperlihatkan seseorang menggunakan pengering rambut untuk melepas stiker nomor seri dari kotak server NVIDIA.
Stiker tersebut diduga dilepas sebagai bagian dari upaya menyamarkan identitas produk agar perangkat dapat melewati pemeriksaan dan dikirim ke China.
Kasus ini disebut menjadi gambaran bagaimana jaringan penyelundupan berusaha menghindari aturan ekspor AS yang membatasi pengiriman cip AI canggih ke China.
Cip AI NVIDIA memiliki nilai tinggi di pasar gelap karena pembatasan ekspor membuat akses terhadap teknologi tersebut di China menjadi semakin sulit.
Salah satu hal yang dipertanyakan pejabat AS adalah pengiriman cip NVIDIA dalam jumlah besar ke sejumlah negara di Asia Tenggara yang berada dekat dengan China, seperti Thailand dan Singapura.
Mantan kepala kebijakan AI di Departemen Luar Negeri AS, Daniel Remler, mempertanyakan bagaimana cip dalam jumlah besar bisa dikirim ke kawasan tersebut jika bukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di China.
“Saya merasa tidak pernah mendapatkan jawaban yang jelas mengenai bagaimana mungkin begitu banyak cip dikirim ke kawasan Asia Tenggara jika bukan untuk melayani pelanggan di Tiongkok,” ujar Remler.
Bloomberg juga melaporkan bahwa operator di wilayah barat China sedang membangun puluhan pusat data yang secara keseluruhan mampu menampung sekitar 115.000 prosesor NVIDIA yang masuk dalam daftar pembatasan ekspor AS.
Menurut sumber Bloomberg, pejabat AS kini memperkirakan China telah berhasil mendapatkan cip dalam jumlah tersebut melalui jalur penyelundupan, bahkan kemungkinan lebih banyak lagi.