Ketiga, anode Flash-Intercalate memiliki konstruksi situs penyisipan litium multidimensi. Konstruksi ini memungkinkan interkalasi ion litium berkecepatan tinggi secara 3D atau 360 derajat. Secara keseluruhan, teknologi-teknologi tersebut secara signifikan mengurangi hambatan internal, sehingga meminimalkan timbulnya panas langsung dari sumbernya.

Optimalisasi proses ini bertujuan mengurangi hambatan internal, yang memungkinkan transfer energi lebih efisien di dalam sel baterai. Pengurangan hambatan internal juga membantu mengendalikan panas yang dihasilkan selama pengisian daya, hal yang sangat penting ketika baterai menerima daya tinggi dalam waktu singkat.
Baca Juga:
Blade Battery generasi kedua juga menghadirkan terobosan berupa lapisan Solid Electrolyte Interphase (SEI), komponen kunci dalam setiap baterai lithium-ion. Solusi BYD ini memanfaatkan rekayasa tingkat molekuler dan optimalisasi struktur makroskopis untuk menghasilkan lapisan yang sangat tipis.
Lapisan tipis tersebut memungkinkan konduktivitas ionik yang lebih tinggi, sekaligus sangat padat guna menjamin stabilitas kimia. Baterai ini juga dilengkapi teknologi perbaikan mandiri atau self-repairing yang dinamis untuk mencapai keseimbangan antara sifat tipis namun kuat.
Pencapaian teknis dalam hal kepadatan energi dan kecepatan pengisian daya ini diklaim tidak mengorbankan aspek keselamatan maupun daya tahan. Blade Battery generasi kedua telah lolos serangkaian evaluasi keselamatan dengan standar tolok ukur baru, termasuk uji coba simultan FLASH Charging dan Nail-Penetration Test yang pertama di dunia.

Hasilnya menunjukkan tidak adanya thermal runaway, asap, ataupun api, bahkan setelah melalui 500 siklus FLASH Charging. Baterai ini juga berhasil melewati uji thermal runaway setelah dilakukan hubungan arus pendek paksa pada empat sel secara bersamaan, tanpa menimbulkan kebakaran atau ledakan, bahkan saat suhu mencapai lebih dari 700 derajat Celsius.