Jakarta — Belanja online bukan cuma mengubah cara masyarakat membeli barang, tetapi juga meningkatkan kebutuhan terhadap kemasan untuk melindungi produk selama proses pengiriman. Perubahan pola konsumsi ini menjadi salah satu faktor yang mendorong prospek industri kemasan Indonesia pada 2026. Indonesian Packaging Federation (IPF) memproyeksikan pasar industri kemasan nasional tumbuh sekitar 5–6% sepanjang tahun ini.
Selain perkembangan perdagangan elektronik atau e-commerce, kebutuhan kemasan juga diperkirakan meningkat seiring pelaksanaan program pangan nasional. Program tersebut menargetkan penyediaan 190 juta porsi makanan per hari. Kondisi ini menunjukkan kemasan berperan penting dalam rantai distribusi berbagai produk, mulai dari makanan dan minuman hingga barang yang dibeli lewat platform digital.
Seiring perubahan kebutuhan konsumen, industri kemasan dituntut menghadirkan solusi yang tidak hanya melindungi produk. Pelaku usaha juga perlu memastikan kemasannya efisien, aman, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi. Tuntutan ini membuat adopsi inovasi di sektor pengemasan semakin krusial bagi daya saing produsen dalam negeri.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menilai peningkatan partisipasi pelaku industri dalam ALLPack Indonesia 2026 mencerminkan besarnya potensi pasar nasional. Ajang tersebut menjadi barometer kepercayaan industri terhadap pasar pengolahan dan pengemasan di Tanah Air. "ALLPACK Indonesia 2026 mencatat pertumbuhan jumlah peserta pameran sebesar 15%, mencerminkan kepercayaan industri terhadap pasar pengolahan dan pengemasan di Indonesia," ujar Daud dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Memasuki penyelenggaraan ke-25, ALLPack Indonesia menjadi ruang pertemuan bagi produsen teknologi, distributor, pembeli, dan pemangku kepentingan industri. Peserta datang dari dalam maupun luar negeri untuk menjajaki kerja sama bisnis. "ALLPack Indonesia terus berkembang menjadi platform yang mempertemukan pelaku industri, produsen teknologi, distributor, buyer, serta berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri," katanya.
Baca Juga:
Daud berharap peningkatan partisipasi tersebut dapat membuka kesempatan kerja sama yang lebih luas. Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi di sektor pengolahan dan pengemasan. "Kami berharap ALLPack Indonesia 2026 dapat membuka lebih banyak peluang bisnis, mendorong adopsi teknologi, serta memperkuat daya saing industri pengemasan dan pengolahan Indonesia di tingkat global," tuturnya.
Sementara itu, Business Development Director Indonesian Packaging Federation (IPF), Ariana Susanti, menilai inovasi dan kolaborasi menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan kebutuhan industri. Menurutnya, sinergi antar pemangku kepentingan menentukan seberapa cepat sektor ini beradaptasi. "Kolaborasi antar pemangku kepentingan, inovasi material, efisiensi sumber daya, digitalisasi, dan teknologi baru menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing industri sekaligus menjawab tantangan keberlanjutan," ungkap Ariana.
Pernyataan tersebut sejalan dengan arah perkembangan industri yang kian menekankan kemasan berkelanjutan dan daur ulang plastik. Inovasi material menjadi salah satu fokus untuk menekan dampak lingkungan tanpa mengorbankan fungsi perlindungan produk. Digitalisasi proses produksi juga disebut sebagai faktor pendorong efisiensi sumber daya di sepanjang rantai pasok.
ALLPack Indonesia 2026 akan berlangsung pada 20–23 Oktober 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta. Pameran ini menghadirkan lebih dari 1.600 peserta dari 42 negara. Penyelenggara menargetkan lebih dari 90.000 pengunjung bisnis dari lebih dari 30 negara.
Selain teknologi pengemasan, acara tersebut mencakup sektor pengolahan pangan, farmasi, plastik, percetakan, daur ulang, hingga logistik. Cakupan lintas sektor ini memperlihatkan bahwa kemasan terhubung erat dengan berbagai industri hilir. Penyelenggara juga menyiapkan seminar, diskusi industri, dan program business matching untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra bisnis.
Program pendamping itu dinilai relevan mengingat kebutuhan pasar yang terus bergeser. Pelaku usaha tidak hanya mencari mesin dan material, tetapi juga solusi terintegrasi yang mendukung efisiensi operasional. Forum diskusi menjadi wadah berbagi praktik terbaik antar pelaku industri dari berbagai negara.
Bagi industri dalam negeri, gelaran ini menjadi peluang memperluas jejaring sekaligus menjajaki pasar ekspor. Kehadiran peserta dari 42 negara membuka akses terhadap teknologi dan mitra dagang baru. Hal ini sejalan dengan harapan penyelenggara agar daya saing industri pengemasan nasional semakin kuat di tingkat global.
Di sisi lain, pertumbuhan belanja online menuntut kemasan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pengiriman. Produsen perlu memastikan produk sampai ke konsumen dalam kondisi aman tanpa menambah biaya berlebihan. Inovasi di ranah material dan desain kemasan pun menjadi jawaban atas tantangan tersebut.
Dengan proyeksi pertumbuhan 5–6%, industri kemasan Indonesia memasuki 2026 dengan optimisme yang cukup tinggi. Dukungan dari sektor e-commerce dan program pangan nasional menjadi dua pilar utama permintaan. ALLPack Indonesia 2026 pun diposisikan sebagai katalis untuk mempercepat adopsi teknologi dan kolaborasi lintas sektor.
Bagi pelaku usaha, ajang ini menjadi kesempatan memetakan tren, menjajaki mitra, dan mengukur kesiapan menghadapi persaingan. Sejumlah agenda industri yang telah disiapkan diharapkan memperkaya wawasan peserta. Selain itu, inovasi berbasis AI dan kemasan produk premium turut menjadi sorotan perkembangan pasar.