Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Begini Cara Teknologi Satelit BMKG Memantau Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau
SHARE:

Technologue.idJakarta – Aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian karena abu vulkanik dapat terbawa angin dan menyebar jauh dari lokasi gunung. Untuk mengetahui ke mana abu bergerak dan seberapa luas wilayah yang berpotensi terdampak, masyarakat kini dapat memanfaatkan teknologi pemantauan berbasis satelit dan pemodelan atmosfer.

Salah satu sumber informasi yang dapat digunakan adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG menyediakan produk khusus berupa Citra Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menggunakan analisis citra satelit. Pada peta tersebut, wilayah yang teridentifikasi memiliki sebaran abu ditampilkan dengan penanda tertentu sehingga arah dan wilayah penyebarannya dapat dipantau.

Teknologi satelit menjadi salah satu alat penting untuk memantau abu vulkanik karena wilayah penyebarannya bisa sangat luas dan berubah mengikuti kondisi angin.

BMKG menggunakan data satelit cuaca untuk melakukan analisis sebaran abu vulkanik. Teknologi penginderaan jauh seperti Himawari-8 dan Himawari-9 juga dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi keberadaan dan pergerakan abu vulkanik di atmosfer. Penelitian dan pengembangan BMKG menunjukkan citra satelit Himawari dapat diolah untuk mendapatkan informasi spasial mengenai sebaran debu vulkanik.

Dengan melihat citra dari waktu ke waktu, pergerakan abu dapat diketahui. Data tersebut kemudian dapat dikombinasikan dengan informasi angin untuk memperkirakan ke mana abu akan bergerak.

Luas penyebaran abu vulkanik tidak selalu sama. Abu dapat bergerak mengikuti arah dan kecepatan angin sehingga wilayah yang terdampak dapat berubah dari waktu ke waktu.

Karena itu, ukuran sebaran abu tidak sebaiknya hanya dilihat dari jarak Gunung Anak Krakatau. Pemantauan dilakukan berdasarkan citra satelit, kondisi atmosfer, arah angin, serta hasil pemodelan.

BMKG menjelaskan bahwa pemantauan sebaran abu vulkanik dapat dilakukan menggunakan berbagai teknologi, termasuk satelit, radar, dan model atmosfer. Informasi angin menjadi faktor penting karena abu vulkanik dapat terbawa dan tersebar mengikuti pergerakan udara.

Dalam pemantauan untuk penerbangan, informasi sebaran abu bahkan digunakan untuk menentukan wilayah udara yang perlu dihindari. BMKG menerbitkan informasi seperti SIGMET volcanic ash (SIGMET VA) untuk memberikan peringatan mengenai keberadaan abu vulkanik yang dapat membahayakan penerbangan.

Dengan demikian, masyarakat dapat mengikuti peta sebaran abu secara berkala karena posisi dan luas wilayah terdampak dapat berubah seiring perubahan arah angin.

Selain melihat sebaran abu melalui satelit, masyarakat juga dapat memantau kualitas udara dan partikulat di wilayah masing-masing.

BMKG menyediakan informasi pemantauan, analisis, dan prakiraan kualitas udara, termasuk data PM2.5. Data ini dapat membantu masyarakat melihat kondisi partikulat di udara.

Namun, penting dipahami bahwa peningkatan angka PM2.5 atau partikulat tidak otomatis berarti seluruh partikulat tersebut berasal dari Gunung Anak Krakatau. Polusi kendaraan, asap, debu, dan sumber lainnya juga dapat memengaruhi kualitas udara.

SHARE:

ASPIMTEL Gelar Turnamen Esports Mobile Legends Perdana Hari Bhakti Postel ke-81

Menang Tambahan Frekuensi, XLSmart Percepat Ekspansi Jaringan 5G ke 101 Kota