Jakarta, Technologue.id — Seorang perempuan Jepang dengan nama samaran Hana menjalani dua pekerjaan yang sangat berbeda dalam kesehariannya. Pada siang hari, ia bekerja sebagai asisten rumah tangga yang mendampingi penyandang disabilitas. Di luar pekerjaan tersebut, ia mengelola Love Sketto, layanan panggilan khusus yang ia dirikan pada 2021.
Dikutip dari Tokyo Reporter, layanan ini ditujukan bagi penyandang disabilitas yang memiliki kebutuhan seksual. Topik tersebut menurut Hana masih sulit dibicarakan secara terbuka di Jepang. Kisah Hana kembali diberitakan pada September 2026 setelah ia menceritakan alasan di balik pendirian Love Sketto kepada Nikkan Spa!
Keputusan Hana berawal dari sebuah tayangan dokumenter mengenai sex assistance untuk penyandang disabilitas. Ia mengaku terganggu setelah melihat bagaimana aktivitas tersebut digambarkan berlangsung secara kaku dan tanpa interaksi personal. Pengalaman itu membuat Hana melihat adanya persoalan yang lebih luas.
Menurut Hana, kebutuhan seksual penyandang disabilitas sering kali menjadi sesuatu yang tidak dibicarakan. Pandangan tersebut semakin kuat setelah ia bertanya kepada seorang klien dengan disabilitas berat mengenai bagaimana dirinya menghadapi dorongan seksual. Jawaban yang diterimanya sederhana: ia hanya bisa menahannya.
Bagi Hana, pengalaman tersebut menjadi salah satu titik yang mendorongnya mempelajari industri layanan seksual secara langsung. Ia kemudian menempuh jalur yang tidak biasa dengan bekerja di dalam industri tersebut sebelum membangun layanan sendiri. Langkah itu diambil agar ia memahami kondisi lapangan secara utuh.
Sebelum mendirikan Love Sketto, Hana terlebih dahulu bekerja di industri delivery health. Ia awalnya menjadi pengemudi, kemudian bekerja sebagai pekerja seks di sebuah rumah bordil. Pengalaman tersebut memberinya gambaran mengenai kondisi industri sekaligus risiko yang dapat dihadapi pekerja.
Menurut Hana, pemilihan lingkungan kerja dan klien menjadi hal penting karena pengalaman buruk dapat berdampak serius terhadap pekerja. Setelah mendapatkan pengalaman tersebut, ia mendirikan Love Sketto dan mengembangkan layanan yang secara khusus memperhatikan kondisi penyandang disabilitas.
Baca Juga:
Love Sketto kini memiliki 12 pekerja. Salah satu karakteristik layanan ini adalah perekrutan perempuan yang mempunyai latar belakang sebagai perawat, pekerja perawatan, atau pengalaman di bidang kesejahteraan sosial. Perekrutan itu bukan tanpa alasan yang jelas.
Menurut Hana, pengetahuan tersebut dibutuhkan karena kondisi fisik klien dapat berubah secara tiba-tiba selama hubungan seksual. Dengan demikian, pekerja harus mampu memahami kondisi fisik dan kebutuhan khusus klien yang mereka dampingi. Kompetensi itu menjadi pembeda utama layanan ini.
Hana mengatakan layanan dimulai dengan pembicaraan atau pertemuan awal untuk memahami kebutuhan masing-masing klien. Kondisi fisik penyandang disabilitas sangat beragam sehingga pendekatan yang digunakan tidak selalu sama. Setiap klien mendapat penanganan yang berbeda sesuai kondisinya.
Salah satu klien, misalnya, mengalami keterbatasan pada leher dan ingin tetap dapat melihat apa yang sedang berlangsung. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Hana menggunakan dua smartphone yang terhubung melalui panggilan video. Kasus itu menunjukkan bagaimana keterbatasan fisik menjadi faktor yang harus diperhitungkan.
Seperti halnya layanan publik lain yang menuntut penyesuaian, pendekatan personal menjadi kunci. Bahkan urusan administratif seperti layanan SIM Keliling pun menuntut penyesuaian bagi pengguna dengan kebutuhan khusus. Prinsip serupa diterapkan Hana di Love Sketto.
Salah satu kendala terbesar berkaitan dengan kehidupan keluarga klien. Sebagian penyandang disabilitas masih tinggal bersama keluarga. Kondisi ini membuat akses terhadap layanan seksual menjadi lebih rumit karena persoalan privasi dan persetujuan. Hana juga menghadapi stigma di masyarakat.
Minimnya pembicaraan mengenai seksualitas penyandang disabilitas turut memperberat tantangan yang dihadapi. Meski demikian, ia tetap mempertahankan Love Sketto karena meyakini ada kebutuhan yang selama ini kurang mendapat ruang untuk dibicarakan. Keyakinan itu yang membuatnya bertahan hingga kini.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Hana datang dari seorang klien lanjut usia yang disebut dengan inisial C. Pria tersebut menggunakan layanan Love Sketto menjelang dirinya menjalani perawatan di rumah sakit secara permanen. Ia mengatakan bahwa penggunaan layanan tersebut kemungkinan menjadi pengalaman pertama sekaligus terakhirnya.
Setelah masuk rumah sakit, ia tidak dapat kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Bagi Hana, percakapan tersebut menjadi momen penting yang membuatnya semakin yakin terhadap keputusan mendirikan layanan tersebut. Kisah itu menjadi salah satu alasan ia terus melanjutkan pekerjaannya.
Kisah Hana menunjukkan bagaimana isu disabilitas dan seksualitas masih menjadi wilayah yang jarang dibahas. Sejumlah pihak menilai akses dan pendampingan bagi penyandang disabilitas perlu terus diperluas, termasuk lewat program pemberdayaan seperti program UMKM disabilitas. Perhatian pada kelompok ini dinilai masih belum merata.
Di sisi lain, dunia kerja juga mulai membuka ruang lebih luas bagi penyandang disabilitas. Beberapa perusahaan bahkan menjalankan program magang khusus, sejalan dengan langkah rekrutmen penyandang disabilitas yang dilakukan sejumlah korporasi. Tren ini menunjukkan inklusivitas yang perlahan menguat.
Bagi Hana, dua pekerjaan yang ia jalani kini saling melengkapi. Pengalamannya sebagai asisten rumah tangga membuatnya memahami kebutuhan harian penyandang disabilitas. Sementara Love Sketto menjadi ruang yang ia yakini belum banyak tersedia bagi kelompok tersebut.
[KONTEN SELESAI]