Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan rencana program kompor listrik yang akan dimulai pada 2027. Program ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.
Kementerian ESDM telah mengalokasikan dana sebesar Rp815,56 miliar untuk pengadaan kompor listrik. Anggaran tersebut masuk dalam pagu Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE). Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat bauran energi nasional.
Menurut Bahlil, ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor sangat tinggi. “LPG itu sekitar 80 persen masih kita impor. Devisa negara yang keluar setiap tahun untuk membeli LPG minimal Rp120 triliun,” kata Bahlil. Dengan harga ICP saat ini, nilainya bahkan bisa mencapai lebih dari Rp130 triliun.
Selain itu, subsidi LPG juga mencapai lebih dari Rp80 triliun. Bahlil menilai kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan karena berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional. Pemerintah mulai mendorong penggunaan kompor listrik sebagai solusi mengurangi konsumsi LPG.
Program ini akan difokuskan pada penggunaan kompor listrik dengan kebutuhan daya rendah. “Sebagai tahap awal, ada beberapa model kompor listrik yang kami dorong untuk digunakan pada pelanggan dengan daya di bawah 900 VA,” ujar Bahlil. Langkah ini sejalan dengan agenda transisi energi yang tengah dijalankan pemerintah.
Meski anggaran sudah masuk dalam pagu indikatif 2027, jumlah unit kompor listrik belum dapat dipastikan. Bahlil mengatakan perhitungan masih menunggu pembahasan lebih lanjut bersama DPR RI. “Ini kan baru pagu awal. Nanti setelah pembahasan anggaran dengan DPR, kemungkinan sekitar Agustus baru bisa diketahui berapa jumlah unit,” jelasnya.
Baca Juga:
Detail pelaksanaan program, termasuk mekanisme distribusi dan sasaran penerima manfaat, masih akan dibahas dalam proses penyusunan anggaran tahun depan. Pemerintah juga menyiapkan dukungan anggaran untuk percepatan kendaraan listrik. Dalam pagu anggaran 2027, dana sebesar Rp635,24 miliar dialokasikan untuk program motor listrik.
Bahlil menegaskan bahwa pengembangan kompor listrik hanyalah salah satu bagian dari strategi besar pemerintah. Selain listrik, pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan energi lain seperti Compressed Natural Gas (CNG). “Kompor listrik ini merupakan upaya mengurangi kebutuhan LPG. Kita mencari bauran energi lain, bukan hanya LPG, tetapi juga listrik, CNG, dan berbagai alternatif energi lainnya,” tutur Bahlil.
Jika terealisasi sesuai rencana, program Kompor Listrik 2027 diharapkan dapat membantu mengurangi impor LPG. Program ini juga dapat menekan beban subsidi energi negara sekaligus mempercepat target transisi energi. Untuk memahami dampak lebih luas, simak analisis mengenai Kabel Bawah Laut yang rentan dalam konteks energi global.
Pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong inovasi di sektor energi. Salah satu contohnya adalah pengembangan McLaren Golf yang menunjukkan diversifikasi industri. Namun, fokus utama tetap pada pengurangan impor energi dan peningkatan kemandirian nasional.
Program kompor listrik ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam transisi energi. Dengan alokasi anggaran yang signifikan, diharapkan dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Pemerintah optimistis program ini akan berjalan sesuai target dan memberikan manfaat jangka panjang.
Keberhasilan program ini juga akan bergantung pada koordinasi antara kementerian dan lembaga terkait. Dukungan dari DPR RI dalam pembahasan anggaran menjadi kunci utama. Masyarakat diharapkan dapat beradaptasi dengan penggunaan kompor listrik sebagai alternatif energi yang lebih ramah lingkungan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai dampak harga energi global, baca artikel tentang Krisis Selat Hormuz yang mempengaruhi stabilitas harga. Sementara itu, program kompor listrik menjadi solusi domestik yang strategis.
Dengan berbagai langkah ini, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan pada impor LPG secara signifikan. Program kompor listrik 2027 menjadi salah satu pilar utama dalam strategi energi nasional. Ke depannya, diharapkan semakin banyak rumah tangga yang beralih ke energi listrik untuk kebutuhan memasak.