Technologue.id, Jakarta - CEO SpaceX Elon Musk kembali melontarkan sejumlah rencana futuristik yang terdengar liar. Dalam sebuah pertemuan internal xAI, Musk disebut mengatakan bahwa perusahaannya perlu membangun pabrik satelit AI di Bulan, lengkap dengan “ketapel raksasa” untuk meluncurkan satelit ke luar angkasa. Informasi ini berasal dari rekaman audio yang didengar oleh The New York Times.
Rencana tersebut merupakan bagian dari visi Musk untuk menciptakan data center AI raksasa yang mengorbit, menggunakan satelit bertenaga surya dan didinginkan oleh vakum ruang angkasa. Namun, sejumlah pakar menilai gagasan ini sangat bermasalah secara teknis dan logistik.
Musk juga tidak memberikan detail teknis tentang bagaimana satelit yang diluncurkan dari Bulan akan beroperasi, meskipun besar kemungkinan satelit tersebut hanya akan mengorbit Bulan, bukan Bumi.
“Untuk membangun kemampuan AI yang dibutuhkan, Anda harus pergi ke Bulan,” kata Musk kepada para karyawan. “Sulit membayangkan apa yang akan dipikirkan oleh kecerdasan sebesar itu, tetapi akan sangat menarik untuk melihatnya terjadi.”
Secara teknis, ketapel semacam itu harus memiliki kekuatan luar biasa. Meskipun gravitasi Bulan hanya sekitar seperenam gravitasi Bumi, kecepatan minimum untuk mencapai orbit tetap mencapai sekitar 3.800 mil per jam, atau lima kali kecepatan suara.
Teknologi yang mendekati kemampuan ini saat ini adalah railgun elektromagnetik, yang dapat meluncurkan proyektil hingga Mach 8,8. Namun, satelit yang diluncurkan dengan cara ini harus mampu menahan gaya percepatan ekstrem, hingga sekitar 10.000 g.
Meski terdengar futuristik, realisasinya masih sangat jauh. Langkah awalnya saja meliputi mengorbit Bulan, mendarat di permukaannya, membangun koloni, hingga mendirikan pabrik. Semua itu membutuhkan puluhan misi berawak dan tanpa awak. Sebagai perbandingan, manusia belum kembali ke Bulan selama lebih dari 50 tahun, dan belum pernah membangun koloni atau fasilitas industri di sana.
Menariknya, awal tahun lalu Musk sempat menyatakan bahwa SpaceX akan langsung menuju Mars dan bahwa Bulan hanyalah pengalih perhatian. Namun kini, ia tampaknya menggeser prioritas jangka pendek ke pembangunan kota yang tumbuh sendiri di Bulan, karena dinilai lebih mudah dicapai. Dalam unggahan di X, Musk mengatakan proyek ini bisa selesai dalam waktu kurang dari 10 tahun, sementara pembangunan kota di Mars diperkirakan memakan waktu lebih dari 20 tahun.
Meski demikian, berbagai pernyataan Musk kerap disambut dengan skeptisisme. Pada 2017, ia pernah memprediksi SpaceX akan mengirim misi kargo ke Mars pada 2022, menggunakan roket yang hingga kini masih dalam tahap pengujian dan diperkirakan baru siap sekitar 2026.