Technologue.id - PT BYD Motor Indonesia menghadapi ujian serius di sektor layanan purnajual. Agresivitasnya merajai pasar kendaraan listrik nasional kini tercoreng oleh keluhan konsumen. Masalah teknis dan prosedur layanan yang berbelit menjadi sorotan utama.
Kekecewaan pertama diungkapkan tokoh publik Akbar Faizal. Ia melayangkan somasi kepada BYD Indonesia Cabang Sudirman, Clipan Finance, dan Asuransi MAG. Persoalan bermula dari pembelian BYD Seal premium pada Desember 2025.
Kendaraannya mengalami masalah stabilitas yang disebut "oleng". Penanganan masalah dinilai tidak efektif karena saling lempar tanggung jawab. Lebih dari dua bulan, belum ada kejelasan penyelesaian yang memuaskan.
"Hebat dalam jualan tapi parah abis dalam pelayanan pasca penjualan," tulis Akbar di media sosial. Setelah diperbaiki, kondisi mobil justru memburuk. Hingga bulan keempat, solusi konkret masih belum tampak.
Akbar mulai mempertimbangkan menunda cicilan pada Maret 2026. Pada April, ia memutuskan berhenti membayar karena masalah tak kunjung selesai. Pihak leasing tetap melakukan penagihan intensif melalui telepon dan surat.
Sebagai langkah lanjut, somasi resmi telah dilayangkan. Akbar juga meminta Otoritas Jasa Keuangan turun tangan. Ia mendorong pengawasan lebih ketat terhadap perusahaan pembiayaan dan layanan otomotif.
Baca Juga:
Keluhan serupa datang dari praktisi otomotif Jacki Suwandi. Pemilik channel YouTube Pengepul Mobil ini memiliki empat unit BYD. BYD M6 miliknya mengalami gagal sistem total di Cengkareng.
"Tiba-tiba mati, nge-lock semuanya. Muncul error di power steering, lalu layar hitam total," ungkap Jacki. Ia menegaskan kejadian ini berbahaya jika terjadi di jalan tol. Potensi kecelakaan beruntun sangat besar.
Jacki juga menyoroti prosedur Customer Service yang kaku. Petugas dinilai tidak mengerti situasi darurat pengemudi. Alih-alih mengirim towing, data administratif justru ditanyakan.
Setelah ditarik ke bengkel, diagnosis menunjukkan aki 12 volt melemah. Padahal, mobil tersebut rutin melakukan servis berkala. Sistem dashboard tidak memberikan peringatan dini tentang kesehatan aki.
Kasus-kasus ini memicu perdebatan luas di media sosial. Kesiapan infrastruktur pendukung produsen otomotif Tiongkok dipertanyakan. Layanan darurat dan kualitas perbaikan bengkel menjadi titik kritis.
BYD sendiri sedang dalam masa kejayaan penjualan di Indonesia. Pangsa pasar EV mereka mencapai 57 persen. Namun, kesuksesan penjualan harus diimbangi layanan purnajual yang prima.
Industri otomotif listrik memang membutuhkan pendekatan berbeda. Layanan purnajual konvensional mungkin tidak cukup memadai. Beberapa merek lain sudah mengantisipasi hal ini dengan program khusus.
Sebagai perbandingan, GAC Indonesia menyiapkan bengkel siaga 24 jam. Program ini khusus dirancang untuk pemudik mobil listrik. Kesiapan seperti ini yang dinanti konsumen EV.
Merek lain seperti Honda juga memiliki program Siaga 2026. Mereka menyiapkan 99 titik layanan darurat untuk mudik. Respons cepat dalam situasi darurat menjadi kunci utama.
Di pasar global, perkembangan layanan EV juga masif. Workhorse menggandeng Purolator untuk armada truk listrik. Kolaborasi ini menunjukkan pentingnya ekosistem pendukung.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya menghubungi BYD Indonesia. Tanggapan resmi dan langkah perbaikan ke depan sangat dinantikan. Konsumen mengharapkan komitmen nyata perbaikan layanan.
Layanan purnajual yang solid akan menentukan loyalitas konsumen jangka panjang. Terutama di pasar kompetitif kendaraan listrik Indonesia. Setiap keluhan harus ditangani dengan serius dan profesional.