Technologue.id - Aktivitas digital kini mendominasi hampir seluruh aspek kehidupan manusia modern di tahun 2025. Mulai dari interaksi media sosial, transaksi perbankan, hingga pekerjaan berbasis cloud bergantung pada akses internet. Namun, keamanan data sering kali terancam karena kelalaian pengguna dalam mengelola kata sandi.
Password masih menjadi benteng pertahanan pertama dalam menjaga privasi dan aset digital pengguna. Sayangnya, banyak orang merasa akun mereka sudah cukup aman tanpa menyadari celah fatal yang ada. Perasaan aman palsu inilah yang justru memicu maraknya kasus kebocoran data pribadi.
Kasus pembajakan akun terus terjadi dari tahun ke tahun akibat pola pikir yang menyepelekan keamanan. Peretas terus mengembangkan metode baru, sementara pengguna masih terjebak pada kebiasaan lama yang berbahaya. Berikut adalah tujuh kesalahan password paling umum dan tips keamanan siber terbaru untuk melindunginya.
1. Penggunaan Kombinasi Kata Sandi LemahKesalahan paling mendasar yang masih sering ditemukan adalah penggunaan password yang sangat lemah. Kombinasi seperti "123456", "password", atau pola keyboard sederhana masih menjadi favorit banyak pengguna. Padahal, jenis kata sandi ini dapat diretas dalam hitungan detik menggunakan tools otomatis.
Pakar keamanan siber saat ini sangat menyarankan penggunaan passphrase yang panjang. Rangkaian kata acak atau kalimat unik dengan panjang minimal 12 karakter jauh lebih aman. Panjang karakter terbukti lebih efektif dibandingkan sekadar menambahkan simbol atau angka yang mudah ditebak.
2. Menggunakan Password Sama di Banyak AkunMenggunakan satu password untuk berbagai platform merupakan kesalahan klasik dengan dampak yang sangat masif. Jika satu akun berhasil dibobol, peretas akan langsung mencoba kredensial tersebut di layanan lain. Hal ini membahayakan akun email hingga aplikasi perbankan secara bersamaan.
Solusi paling efektif untuk masalah ini adalah menerapkan password unik untuk setiap akun digital. Pengguna dapat memanfaatkan bantuan aplikasi password manager untuk mempermudah pengelolaan. Aplikasi ini mampu menyimpan dan membuat password acak tanpa perlu menghafalnya satu per satu.
3. Mengabaikan Two-Factor Authentication (2FA)Banyak pengguna internet masih enggan mengaktifkan fitur two-factor authentication (2FA) pada akun mereka. Padahal, fitur ini mampu menurunkan risiko pembajakan akun secara signifikan jika password utama bocor. Login tidak hanya bergantung pada kata sandi, tetapi juga verifikasi tambahan yang lebih aman.
Metode verifikasi ini bisa berupa kode OTP, aplikasi autentikator, atau pemindaian biometrik. Teknologi keamanan kini bahkan mulai beralih ke MFA yang tahan phishing seperti passkey berbasis FIDO2. Sistem ini memastikan password curian tidak bisa digunakan peretas di situs palsu.
Baca Juga:
Kebiasaan menulis password di kertas atau menyimpannya di catatan ponsel sangatlah berbahaya. Jika perangkat tersebut hilang atau diakses orang lain, seluruh akun bisa langsung diambil alih. File penyimpanan tanpa enkripsi juga menjadi sasaran empuk bagi malware pencuri data.
Penggunaan password manager dengan enkripsi tingkat tinggi menjadi pilihan penyimpanan paling aman saat ini. Bagi organisasi, sistem penyimpanan harus menggunakan metode hashing dan salting yang kuat. Ini penting agar data tetap terlindungi meskipun terjadi insiden peretasan pada server.
5. Memasukkan Informasi PribadiNama lengkap, tanggal lahir, atau nama hewan peliharaan sering dijadikan password karena alasan kemudahan. Masalah utamanya adalah informasi tersebut sangat mudah ditemukan oleh siapa saja melalui media sosial. Peretas kerap menggunakan teknik social engineering untuk menebak password berdasarkan jejak digital korban.
Menggunakan kata-kata acak yang tidak berkaitan dengan identitas pribadi adalah langkah pencegahan terbaik. Hindari pola yang bisa diasosiasikan dengan kehidupan pribadi Anda secara langsung. Langkah ini akan menyulitkan peretas yang mencoba melakukan profil terhadap targetnya.
6. Salah Kaprah Ganti Password BerkalaDulu, pengguna sering disarankan untuk mengganti password secara rutin setiap beberapa bulan. Namun, standar keamanan modern dari NIST kini menyarankan hal yang berbeda. Password sebaiknya hanya diganti jika terdapat indikasi kebocoran atau aktivitas mencurigakan pada akun.
Pergantian password yang terlalu sering justru memicu pengguna memilih kombinasi yang lemah. Pengguna cenderung hanya mengubah sedikit pola dari password lama agar mudah diingat. Fokus utama seharusnya dialihkan pada pembuatan password kuat sejak awal dan pemantauan aktivitas.
7. Kurang Waspada Terhadap PhishingPhishing masih menjadi metode favorit penjahat siber untuk mencuri kredensial login pengguna. Email palsu atau pesan instan yang mencurigakan sering digunakan untuk menjebak korban ke situs tiruan. Kewaspadaan pengguna menjadi kunci utama dalam menangkal serangan rekayasa sosial ini.
Selalu periksa alamat pengirim dan hindari mengklik tautan yang terlihat mencurigakan atau tidak dikenal. Pengguna juga disarankan menggunakan autentikasi yang tahan terhadap upaya phishing. Edukasi mengenai Keamanan Siber sangat penting untuk mengenali ciri-ciri penipuan online.
Langkah Pengamanan TambahanSelain menghindari tujuh kesalahan di atas, ada beberapa langkah lanjutan untuk memperkuat keamanan. Gunakan passphrase dengan panjang 12 hingga 16 karakter atau lebih untuk mempersulit peretasan. Pastikan juga untuk mengaktifkan multi-factor authentication di semua akun penting yang Anda miliki.
Pengguna perlu rutin memeriksa apakah password mereka pernah bocor dalam insiden data breach publik. Batasi hak akses akun dengan prinsip least privilege untuk meminimalkan dampak jika terjadi pembajakan. Jangan lupa untuk menyiapkan sistem pemulihan akun yang aman dan berlapis.
Penting juga bagi pengguna untuk melakukan Tips Backup data secara berkala. Hal ini berguna untuk menyelamatkan data penting jika akun terkunci permanen. Terakhir, tingkatkan literasi keamanan siber secara berkala agar selalu waspada terhadap ancaman baru.
Dengan menerapkan kebiasaan password yang tepat, risiko pencurian data dapat ditekan secara signifikan. Keamanan data bukan hanya tanggung jawab penyedia layanan, tetapi juga pengguna itu sendiri. Mulailah memperbaiki pengelolaan password Anda sekarang sebelum menjadi korban kejahatan siber.