Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
153 Juta Hasil Scan Digital SIM Bocor ke Dark Web
SHARE:

Jakarta – Kebocoran data dalam jumlah besar kembali menggemparkan dunia keamanan siber. Lebih dari 153 juta hasil pindai surat izin mengemudi (SIM) dari Amerika Serikat dan Kanada dilaporkan dijual di dark web.

Temuan tersebut diungkap jurnalis keamanan siber Brian Krebs. Menurutnya, sebuah layanan bernama Nexus sempat menawarkan jutaan dokumen hasil scan identitas, termasuk SIM, kartu layanan kesehatan, catatan riwayat pekerjaan, serta kartu identitas penduduk.

Kebocoran ini menjadi perhatian serius karena dokumen yang beredar bukan sekadar informasi dasar. Hasil scan dokumen identitas dapat memuat berbagai data pribadi yang berpotensi dimanfaatkan untuk pencurian identitas atau penipuan.

Krebs tidak hanya mengandalkan informasi yang beredar di forum kejahatan siber. Ia juga berinteraksi langsung dengan pelaku untuk memeriksa keaslian data yang ditawarkan.

Dalam interaksi tersebut, pelaku menunjukkan hasil pindai SIM milik Krebs sendiri. Korban lain juga dilaporkan telah mengonfirmasi bahwa dokumen yang ditampilkan memang berisi data mereka yang sebenarnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, pelaku juga menunjukkan kepada Krebs hasil pindai SIM milik Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth.

Kebocoran dokumen milik pejabat pemerintahan menjadi perhatian khusus mengingat posisi strategis yang dimilikinya.

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) telah memulai penyelidikan terhadap kasus tersebut.

Krebs menduga salah satu sumber kebocoran berasal dari IDScan, perusahaan verifikasi identitas yang berbasis di Louisiana.

Dugaan tersebut muncul karena sejumlah korban memiliki kesamaan, yakni pernah menyewa kendaraan dari Hertz. Perusahaan penyewaan mobil tersebut diketahui menggunakan layanan IDScan untuk kebutuhan verifikasi identitas pelanggan.

Selain Hertz, daftar klien IDScan juga mencakup sejumlah perusahaan besar, antara lain Target, FedEx, Motorola, dan Jack Henry.

Keterlibatan FBI semakin memperkuat perhatian terhadap kasus ini. Kantor FBI di New Orleans diketahui telah membuka penyelidikan terkait dugaan kebocoran tersebut.

Layanan Nexus pertama kali dipromosikan melalui Exploit, sebuah forum kejahatan siber berbahasa Rusia.

Untuk menarik calon pembeli, pelaku bahkan menggunakan hasil scan SIM milik Brian Krebs sebagai contoh gratis.

Dengan cara tersebut, calon pelanggan dapat melihat jenis dan kualitas data yang ditawarkan sebelum membeli dokumen lainnya.

Namun, layanan Nexus kini sudah tidak beroperasi. Halaman masuk platform tersebut menampilkan pemberitahuan bahwa layanan tidak lagi tersedia.

SHARE:

Gree Luncurkan Empat AC Inverter Terbaru di Indonesia

GYC 2026 Free Fire Masuki Babak Online Qualifier, Ini Jadwalnya